Blitar Kawentar - Prospek ekonomi Indonesia 2026 dipandang tetap menjanjikan meski dunia masih dibayangi berbagai ketidakpastian global. Mulai dari perang dagang, konflik geopolitik, perlambatan ekonomi negara-negara besar hingga risiko perubahan iklim menjadi tantangan yang harus dihadapi. Namun di tengah tekanan tersebut, sejumlah indikator domestik menunjukkan ketahanan ekonomi nasional yang cukup kuat.
Hal itu disampaikan Chief Economist Bank Mandiri, Andry Asmoro, dalam paparan Macroeconomic Outlook Kuartal IV 2025. Menurutnya, Indonesia masih memiliki peluang besar untuk mempertahankan pertumbuhan ekonomi yang solid sepanjang tahun 2026.
Proyeksi tersebut didukung oleh kuatnya konsumsi rumah tangga, pemulihan investasi, serta kebijakan fiskal yang lebih ekspansif dari pemerintah. Berdasarkan perhitungan tim ekonom Bank Mandiri, ekonomi Indonesia diperkirakan mampu tumbuh sekitar 5,2 persen pada 2026.
Di sisi lain, optimisme tersebut juga didukung oleh membaiknya sejumlah indikator ekonomi menjelang akhir tahun 2025.
Tantangan Global Masih Membayangi
Andry Asmoro menjelaskan bahwa perekonomian global masih menghadapi sejumlah risiko besar yang berpotensi memengaruhi pertumbuhan ekonomi Indonesia.
Beberapa tantangan utama yang perlu diwaspadai antara lain meningkatnya risiko geopolitik akibat konflik internasional dan perang dagang, perlambatan ekonomi di Amerika Serikat, China, dan Eropa, hingga perubahan regulasi yang mengikuti arah kebijakan pemerintah baru.
Selain itu, risiko perubahan iklim juga menjadi perhatian karena dapat memengaruhi produktivitas berbagai sektor ekonomi. Di bidang teknologi, ancaman keamanan data dan meningkatnya kejahatan digital turut menjadi tantangan yang harus diantisipasi.
Meski demikian, Indonesia dinilai memiliki fondasi ekonomi yang cukup kuat untuk menghadapi berbagai tekanan tersebut.
Pertumbuhan Ekonomi Tetap Resilien
Ketahanan ekonomi Indonesia terlihat dari capaian pertumbuhan ekonomi sepanjang tahun 2025. Pada kuartal kedua dan kuartal ketiga, pertumbuhan ekonomi tercatat berada di atas level 5 persen.
Sementara itu, pada kuartal keempat 2025, pertumbuhan ekonomi diproyeksikan mencapai 5,08 persen. Angka tersebut menunjukkan bahwa aktivitas ekonomi domestik masih mampu bertahan di tengah kondisi global yang penuh ketidakpastian.
Kinerja tersebut didorong oleh konsumsi masyarakat yang tetap kuat serta meningkatnya aktivitas ekonomi menjelang akhir tahun.
Menurut tim ekonom Bank Mandiri, sejumlah indikator awal menunjukkan adanya peningkatan konsumsi pada kuartal IV 2025. Hal itu terlihat dari membaiknya penjualan ritel, meningkatnya indeks kepercayaan konsumen, serta kenaikan Mandiri Spending Index (MSI).
Konsumsi Masyarakat Menguat Jelang Akhir Tahun
Data Mandiri Spending Index menunjukkan tren pertumbuhan sejak Oktober hingga November 2025. Peningkatan tersebut terutama didorong oleh belanja masyarakat pada sektor mobilitas dan kebutuhan akhir tahun.
Tidak hanya itu, sejumlah indikator lain juga menunjukkan perbaikan. Badan Pusat Statistik (BPS) mencatat indeks keyakinan konsumen mencapai level tertinggi dalam lima bulan terakhir.
Sementara itu, Purchasing Managers' Index (PMI) manufaktur juga meningkat hingga mencapai 53,3. Angka tersebut menunjukkan aktivitas industri manufaktur yang semakin ekspansif.
Meningkatnya keyakinan konsumen dan aktivitas industri dinilai menjadi sinyal positif bagi percepatan pertumbuhan ekonomi pada tahun mendatang.
Belanja Pemerintah Jadi Faktor Penentu
Meski konsumsi rumah tangga menunjukkan tren positif, Bank Mandiri menilai realisasi belanja pemerintah tetap menjadi faktor penting untuk menjaga momentum pertumbuhan ekonomi.
Hingga 31 Oktober 2025, realisasi belanja negara tercatat mencapai Rp2.593 triliun atau sekitar 83,5 persen dari target outlook pemerintah.
Dari jumlah tersebut, belanja pemerintah pusat mencapai Rp1.879,6 triliun. Rinciannya terdiri atas belanja kementerian dan lembaga sebesar Rp961,2 triliun serta belanja nonkementerian dan lembaga sebesar Rp918,4 triliun.
Sementara itu, transfer ke daerah (TKD) tercatat mencapai Rp713,4 triliun.
Bank Mandiri menilai kualitas dan ketepatan sasaran belanja pemerintah akan menjadi kunci dalam mendukung pertumbuhan ekonomi yang lebih tinggi pada 2026.
AI dan Green Energy Jadi Sumber Pertumbuhan Baru
Selain konsumsi dan investasi, sejumlah sektor baru diperkirakan akan menjadi motor pertumbuhan ekonomi Indonesia pada tahun depan.
Digitalisasi dan pemanfaatan kecerdasan buatan atau Artificial Intelligence (AI) diproyeksikan semakin berkembang dan mendorong produktivitas berbagai sektor usaha.
Selain itu, tren green energy, gaya hidup sehat, serta sektor-sektor prioritas pemerintah juga dinilai memiliki potensi besar untuk menciptakan sumber pertumbuhan ekonomi baru.
Dengan dukungan program strategis pemerintah, sektor manufaktur, industri pengolahan, dan industri padat karya diperkirakan akan memperoleh dampak positif yang signifikan.
Karena itu, sinergi antara pemerintah, regulator, dan pelaku usaha dinilai menjadi faktor penting untuk menjaga stabilitas ekonomi sekaligus membuka ruang akselerasi pertumbuhan pada 2026.
Editor : M. Helmi Nurhisam