BLITAR KAWENTAR – Direktur Utama PT Taspen, Rony Wihadi, mengungkap sejumlah fakta menarik terkait pelayanan kepada peserta pensiun saat rapat kerja bersama Komisi XI DPR RI. Dalam paparannya, ia menyebut masih banyak pensiunan yang belum memanfaatkan layanan digital, termasuk untuk proses autentikasi bulanan.
Data tersebut menjadi sorotan karena PT Taspen selama beberapa tahun terakhir terus mendorong transformasi digital dalam pelayanan peserta. Namun, fakta di lapangan menunjukkan bahwa penggunaan layanan digital oleh peserta pensiun masih belum sepenuhnya optimal.
Salah satu temuan yang cukup mengejutkan adalah masih tingginya jumlah peserta yang memilih proses manual dibandingkan layanan digital. Padahal, PT Taspen telah menyediakan berbagai inovasi layanan untuk mempermudah pengurusan hak pensiun dan klaim manfaat.
PT Taspen Kelola Hampir 8 Juta Peserta
Dalam rapat bersama Komisi XI DPR RI, Rony menjelaskan bahwa saat ini PT Taspen melayani sekitar 7,8 juta peserta yang terdiri dari 4,7 juta peserta aktif dan 3,1 juta penerima pensiun.
Untuk melayani jutaan peserta tersebut, Taspen memiliki 57 kantor cabang, lebih dari 17 ribu titik layanan, bekerja sama dengan 44 mitra bayar, serta menempatkan petugas pada 128 titik Mal Pelayanan Publik (MPP) di berbagai daerah.
Menurut Rony, terdapat dua fokus utama dalam bisnis Taspen, yakni pelayanan kepada peserta dan pengelolaan investasi dana yang dipercayakan kepada perusahaan.
Pengajuan Klaim Digital Masih Rendah
Meski berbagai layanan digital telah dikembangkan, pemanfaatannya masih tergolong rendah. Rony mengungkapkan bahwa pengajuan klaim pensiun secara digital baru dimanfaatkan sekitar 35 persen peserta.
Artinya, sekitar 65 persen peserta masih memilih melakukan pengajuan secara manual atau datang langsung ke kantor layanan.
Kondisi tersebut menjadi salah satu alasan mengapa sebagian besar pegawai Taspen masih ditempatkan di kantor cabang. Dari total 1.344 karyawan Taspen, sekitar 70 persen bertugas di lapangan untuk melayani kebutuhan peserta secara langsung.
"Faktanya pengajuan klaim pensiun itu baru 35 persen yang memanfaatkan layanan digital, sisanya masih manual," ungkap Rony dalam rapat kerja bersama Komisi XI DPR RI.
Sebanyak 42 Persen Pensiunan Masih Autentikasi Manual
Temuan lain yang disampaikan Taspen adalah terkait autentikasi penerima pensiun. Saat ini autentikasi digital baru digunakan oleh sekitar 58 persen peserta pensiun.
Sementara itu, sekitar 42 persen peserta masih melakukan autentikasi secara manual dengan datang ke kantor cabang atau melalui layanan kunjungan petugas ke rumah pensiunan.
Menurut Rony, sebagian pensiunan masih merasa lebih nyaman menggunakan metode konvensional karena belum terbiasa dengan teknologi digital.
Selain faktor keterbatasan kemampuan penggunaan teknologi, sebagian peserta juga masih khawatir melakukan autentikasi secara daring karena takut terjadi kesalahan atau menjadi korban penipuan.
Padahal, sistem autentikasi digital yang dikembangkan Taspen memungkinkan peserta melakukan verifikasi identitas hanya melalui telepon genggam dengan proses pengenalan wajah secara otomatis.
Taspen Siapkan Layanan Khusus bagi Pensiunan
Untuk memastikan pembayaran pensiun tetap tepat sasaran, PT Taspen juga memiliki layanan khusus bagi peserta yang tidak melakukan autentikasi selama tiga bulan berturut-turut.
Dalam kondisi tersebut, petugas Taspen akan melakukan pengecekan langsung guna memastikan status peserta dan kelayakan penerimaan manfaat pensiun.
Taspen juga melakukan verifikasi berkala terhadap penerima pensiun janda atau duda untuk memastikan data peserta tetap sesuai ketentuan yang berlaku.
Aset Kelolaan Taspen Tembus Rp400 Triliun
Selain memaparkan layanan peserta, Taspen juga menyampaikan perkembangan kinerja perusahaan. Hingga periode terbaru, aset program Tabungan Hari Tua (THT), Jaminan Kecelakaan Kerja (JKK), dan Jaminan Kematian (JKM) tercatat mencapai Rp149,53 triliun.
Sementara dana Akumulasi Iuran Pensiun (AIP) yang dikelola Taspen mencapai Rp250,77 triliun. Dengan demikian, total aset yang dikelola perusahaan mencapai lebih dari Rp400 triliun.
Besarnya dana kelolaan tersebut menunjukkan peran strategis PT Taspen dalam menjaga keberlanjutan program pensiun dan perlindungan sosial bagi aparatur sipil negara di Indonesia.
Ke depan, Taspen menargetkan peningkatan penggunaan layanan digital agar proses administrasi semakin cepat, efisien, dan mudah diakses oleh seluruh peserta di berbagai daerah.
Editor : Gita Dwi Nuraini