Desa Berdaya EkoBis Entertainment Hukum & Kriminal Hukum dan Kriminal Kawentaran Lifestyle Nasional Otonomi Pendidikan Politik

Dirut Taspen Ungkap 65 Persen Pensiunan ASN Masih Pilih Layanan Manual, Begini Kondisi Terkini Dana Kelolaan Rp400 Triliun

Gita Dwi Nuraini • Minggu, 21 Juni 2026 | 19:30 WIB
Dirut Taspen mengungkap 65 persen pensiunan ASN masih memilih layanan manual. Dana kelolaan Taspen kini tembus Rp400 triliun.(Gemini AI)
Dirut Taspen mengungkap 65 persen pensiunan ASN masih memilih layanan manual. Dana kelolaan Taspen kini tembus Rp400 triliun.(Gemini AI)

 

BLITAR KAWENTAR - Direktur Utama PT Taspen (Persero), Roni, mengungkapkan mayoritas pensiunan aparatur sipil negara (ASN) masih menggunakan layanan manual meski perusahaan telah mengembangkan berbagai inovasi digital dalam beberapa tahun terakhir.

Hal itu disampaikan Roni saat rapat kerja bersama Komisi XI DPR RI. Dalam pemaparannya, ia menjelaskan bahwa tingkat adopsi layanan digital di kalangan peserta pensiun masih relatif rendah dibandingkan layanan konvensional.

Menurut Roni, saat ini PT Taspen melayani sekitar 7,89 juta peserta yang terdiri dari 4,7 juta peserta aktif dan 3,1 juta penerima pensiun. Untuk mendukung pelayanan tersebut, Taspen memiliki 57 kantor cabang, 17 ribu titik layanan, bekerja sama dengan 44 mitra bayar, serta menempatkan petugas di 128 titik mal pelayanan publik.

"Kami terus melakukan transformasi pelayanan melalui layanan tanpa dokumen, autentifikasi digital, Taspen One Hour Online Service, layanan antar pembayaran pensiun, layanan klaim otomatis, hingga layanan klaim satu jam," ujar Roni dalam rapat tersebut.

Baca Juga: Como 1907 Milik Orang Indonesia Bikin Geger Serie A, Dari Klub Bangkrut Kini Rekrut Eks Real Madrid dan Bidik Panggung Eropa

Mayoritas Pensiunan ASN Masih Gunakan Layanan Manual

Meski berbagai layanan digital telah tersedia, Roni mengakui pemanfaatannya masih belum optimal. Data Taspen menunjukkan hanya sekitar 35 persen peserta yang mengajukan klaim pensiun secara digital.

Artinya, sekitar 65 persen peserta masih memilih jalur manual atau datang langsung ke kantor cabang untuk mengurus berbagai kebutuhan administrasi.

Kondisi serupa juga terjadi pada layanan autentifikasi pensiunan. Saat ini baru 58 persen penerima pensiun yang menggunakan autentifikasi digital melalui aplikasi.

"Sisanya sekitar 42 persen masih melakukan autentifikasi secara manual, baik datang ke kantor cabang maupun didatangi langsung oleh petugas Taspen," jelasnya.

Roni menilai rendahnya penggunaan layanan digital tidak lepas dari faktor usia para pensiunan yang sebagian masih belum terbiasa dengan teknologi. Selain itu, masih terdapat kekhawatiran terkait kesalahan penggunaan aplikasi maupun risiko penipuan digital.

Fakta tersebut juga menjadi alasan mengapa sekitar 70 persen dari total 1.344 pegawai Taspen ditempatkan di kantor cabang yang tersebar di seluruh Indonesia.

Baca Juga: Como 1907 Milik Orang Indonesia Bukan Sekadar Klub Bola, Begini Strategi Hartono Bersaudara Ubah Tim Bangkrut Jadi Proyek Masa Depan Sepak Bola Eropa

Taspen Siapkan Layanan Khusus untuk Pensiunan

Untuk memastikan hak peserta tetap tersalurkan dengan baik, Taspen juga menyediakan layanan khusus bagi penerima pensiun yang tidak melakukan autentifikasi selama tiga bulan berturut-turut.

Melalui layanan tersebut, petugas Taspen akan melakukan verifikasi langsung ke lapangan guna memastikan status penerima manfaat tetap sesuai ketentuan.

Layanan serupa juga dilakukan untuk memverifikasi status janda atau duda pensiunan yang menjadi penerima hak pensiun agar sesuai dengan regulasi yang berlaku.

Roni menegaskan bahwa pelayanan tetap menjadi salah satu DNA utama perusahaan selain pengelolaan investasi.

Baca Juga: Como 1907 Bikin Geger! Klub Milik Orang Indonesia Dikabarkan Gaet Alvaro Morata, Ambisi Besar Cesc Fabregas Tantang Raksasa Serie A

Kelola Dana Lebih dari Rp400 Triliun

Selain memaparkan layanan kepada peserta, Roni juga menjelaskan kondisi keuangan dan dana kelolaan Taspen yang terus bertumbuh.

Saat ini aset program Tabungan Hari Tua (THT), Jaminan Kecelakaan Kerja (JKK), dan Jaminan Kematian (JKM) mencapai Rp149,53 triliun.

Sementara itu, dana Akumulasi Iuran Pensiun (AIP) yang dikelola Taspen tercatat sebesar Rp250,77 triliun.

Dengan demikian, total dana yang dikelola Taspen saat ini telah melampaui Rp400 triliun.

Roni menjelaskan pertumbuhan aset THT dan AIP memiliki karakteristik berbeda. Pertumbuhan aset THT tercatat sekitar 2,52 persen, sedangkan AIP tumbuh lebih tinggi hingga 10,43 persen.

Perbedaan tersebut dipengaruhi oleh karakteristik program dan tingkat pembayaran klaim yang berbeda pada masing-masing dana.

Di sisi lain, tingkat kepuasan peserta terhadap layanan Taspen juga terus menunjukkan tren peningkatan dari tahun ke tahun berdasarkan hasil survei yang dilakukan pihak independen.

Menurut Roni, peningkatan kualitas layanan dan transformasi digital menjadi fokus utama perusahaan untuk menjaga kepercayaan jutaan peserta aktif maupun pensiunan ASN di seluruh Indonesia.

Editor : Gita Dwi Nuraini
#dirut taspen #dana kelolaan taspen #taspen #Pensiunan ASN #komisi xi dpr ri