BLITAR KAWENTAR- Babak 32 besar Piala Dunia 2026 menghadirkan persaingan yang semakin sengit setelah seluruh peserta fase gugur dipastikan. Selain dominasi negara-negara langganan tampil di putaran final, turnamen kali ini juga memunculkan sederet kejutan yang membuat peta persaingan semakin sulit diprediksi.
Sorotan utama dalam babak 32 besar Piala Dunia 2026 tidak hanya tertuju pada duel antartim besar, tetapi juga munculnya negara-negara debutan yang mampu menembus fase knockout. Di sisi lain, sejumlah tim kuat justru harus angkat koper lebih cepat, termasuk Uruguay yang gagal lolos dari fase grup.
Pengamat sepak bola Akmal Marhali menilai edisi Piala Dunia 2026 menjadi salah satu turnamen dengan kejutan terbanyak. Menurutnya, kemunculan tim-tim nonunggulan menunjukkan bahwa kualitas sepak bola dunia semakin merata.
Empat Negara Debutan Tembus Fase Gugur
Salah satu cerita menarik datang dari Tanjung Verde yang sukses mencatat sejarah pada penampilan perdananya di Piala Dunia. Bersama Uzbekistan, Yordania, dan Curacao, negara kepulauan tersebut berhasil lolos ke babak 32 besar.
Akmal menyebut pencapaian Tanjung Verde layak mendapat apresiasi tinggi. Negara dengan jumlah penduduk sekitar 600 ribu jiwa itu mampu bersaing dengan tim-tim yang memiliki tradisi panjang di sepak bola dunia.
Bahkan sebagian besar pemain Tanjung Verde lahir di luar negeri dan memilih membela tanah leluhur mereka. Faktor nasionalisme dinilai menjadi salah satu kekuatan utama yang mengantarkan mereka menciptakan kejutan.
Keberhasilan tersebut dinilai dapat menjadi pelajaran bagi Indonesia dalam membangun sepak bola nasional agar mampu bersaing di level dunia.
Uruguay dan Turki Jadi Korban Besar
Di tengah keberhasilan tim debutan, sejumlah negara besar justru gagal melangkah ke fase gugur.
Uruguay yang berstatus dua kali juara dunia harus tersingkir setelah gagal bersaing di fase grup. Kehadiran pemain-pemain bintang seperti Federico Valverde belum mampu mengangkat performa tim.
Selain Uruguay, Turki yang digadang-gadang memiliki generasi emas bersama Arda Güler juga harus mengakhiri langkah lebih cepat.
Akmal menilai hasil tersebut menjadi pukulan telak bagi kedua negara yang sebelumnya diprediksi mampu berbicara banyak di Piala Dunia 2026.
Jepang Jadi Harapan Asia
Dari kawasan Asia, Jepang menjadi tim yang paling mencuri perhatian.
Samurai Biru berhasil melalui fase grup tanpa kekalahan. Mereka mampu menahan Belanda, mengalahkan Tunisia, dan menunjukkan permainan yang konsisten sepanjang penyisihan.
Namun tantangan berat sudah menanti di babak 32 besar karena Jepang harus menghadapi Brasil yang berstatus lima kali juara dunia.
Meski demikian, Jepang dinilai memiliki modal positif setelah pernah mengalahkan Brasil dengan skor 3-2 dalam laga uji coba sebelum turnamen berlangsung.
Akmal bahkan menyebut Jepang sebagai salah satu kandidat kuda hitam bersama Maroko dan Norwegia.
Maroko Berpeluang Bikin Kejutan
Selain Jepang, Maroko juga diprediksi mampu membuat kejutan besar.
Tim asal Afrika tersebut akan menghadapi Belanda pada babak 32 besar. Laga ini diperkirakan berlangsung ketat karena mempertemukan dua tim dengan karakter permainan yang berbeda.
Belanda datang dengan status salah satu unggulan juara, sedangkan Maroko mengandalkan kolektivitas permainan serta sejumlah pemain bintang seperti Achraf Hakimi.
Akmal menilai Maroko memiliki peluang untuk mematahkan prediksi banyak pihak sekaligus melanjutkan tren positif sepak bola Afrika di Piala Dunia.
Duel Besar Warnai Babak Gugur
Selain Jepang kontra Brasil dan Belanda melawan Maroko, sejumlah pertandingan lain juga diprediksi berlangsung menarik.
Afrika Selatan akan menghadapi Kanada dalam duel yang dinilai cukup berimbang. Kanada sedikit lebih diunggulkan karena tampil sebagai salah satu tuan rumah turnamen.
Sementara itu, Jerman diperkirakan mampu mengatasi perlawanan Paraguay meski sempat menelan kekalahan pada laga terakhir fase grup.
Babak 32 besar Piala Dunia 2026 diprediksi menjadi salah satu fase knockout paling menarik sepanjang sejarah turnamen. Kehadiran tim-tim debutan, kebangkitan negara Asia dan Afrika, serta potensi tumbangnya sejumlah favorit juara membuat setiap pertandingan layak dinantikan. Publik sepak bola dunia kini menunggu apakah kejutan akan kembali tercipta atau justru tim-tim besar mampu mempertahankan tradisi mereka di panggung tertinggi sepak bola dunia.
Editor : Cholifatun Nisak