Desa Berdaya EkoBis Entertainment Hukum & Kriminal Hukum dan Kriminal Kawentaran Lifestyle Nasional Otonomi Pendidikan Politik Sport

Kisah Alea Carolina, Berawal dari Uang Jajan Rp300 Ribu Kini Pimpin Bisnis Slime dengan 80 Karyawan

Maylanni Diana Fitri • Kamis, 9 Juli 2026 | 14:50 WIB
Alea Carolina membangun bisnis slime dari modal Rp300 ribu. Kini usianya 21 tahun, memimpin 80 karyawan dengan omzet ratusan juta per bulan.()pinterest
Alea Carolina membangun bisnis slime dari modal Rp300 ribu. Kini usianya 21 tahun, memimpin 80 karyawan dengan omzet ratusan juta per bulan.()pinterest

BLITARKAWENTAR.JAWAPOS.COM - Alea Carolina menjadi salah satu contoh pengusaha muda yang berhasil mengembangkan bisnis dari modal terbatas. Di usia 21 tahun, pemilik merek Slime Bintaro dan Seven Colors itu telah memimpin perusahaan dengan sekitar 80 karyawan setelah memulai usahanya dari uang jajan sebesar Rp300 ribu.

Perjalanan Alea Carolina sebagai pebisnis dimulai pada 2020, ketika pandemi COVID-19 memaksa aktivitas belajar di pesantren dihentikan sementara. Waktu luang di rumah dimanfaatkannya untuk mencari peluang usaha setelah terinspirasi oleh berbagai konten bisnis yang muncul di media sosial.

Saat itu, kondisi ekonomi keluarganya belum sepenuhnya mapan. Bahkan, kedua orang tuanya sempat meminjam uang untuk membayar biaya sekolah. Situasi tersebut membuat Alea termotivasi agar bisa memiliki penghasilan sendiri sejak masih duduk di bangku SMA.

Gagal Jadi Reseller, Berhasil Lewat Slime

Langkah pertama Alea di dunia usaha bukan langsung menjual slime. Ia sempat mencoba menjadi reseller produk makanan hewan milik ayahnya. Namun, penjualannya berjalan lambat karena dalam sebulan hanya mampu menjual satu hingga dua produk.

Baca Juga: Daihatsu Rocky Hybrid CBU Jepang Dijual di Bawah Rp300 Juta, Simak Spek, Promo, dan Keunggulannya

Melihat hasil tersebut, Alea kemudian mencoba mengembangkan hobinya membuat slime. Berbekal saran dari sang ibu, ia mulai memproduksi slime sendiri dan memasarkannya melalui Shopee.

Penjualan pertama baru datang setelah hampir satu bulan. Meski jumlahnya masih sedikit, Alea memilih mempertahankan usahanya dan terus memutar keuntungan untuk membeli bahan baku baru.

Bisnis Tumbuh Pesat Berkat Digital Marketing

Seiring meningkatnya permintaan, Alea memperluas pemasaran ke berbagai platform digital seperti TikTok Shop, Facebook, WhatsApp, hingga Google Ads.

Baca Juga: Toyota Agya 2026 Banjir Promo, DP Mulai Rp5 Juta dan Cicilan Rp1 Jutaan, Ini Daftar Tipenya

Menurutnya, setiap platform memiliki karakter konsumen yang berbeda. Marketplace lebih banyak menghasilkan transaksi instan, sedangkan WhatsApp membutuhkan pelayanan yang lebih intensif karena pelanggan biasanya ingin berkonsultasi sebelum membeli.

Untuk mengatasi tingginya jumlah percakapan, Alea mulai memanfaatkan teknologi artificial intelligence (AI) sebagai layanan customer service otomatis. Sistem tersebut membantu membalas pertanyaan pelanggan selama 24 jam sehingga proses penjualan menjadi lebih efisien.

Mentor Ubah Cara Berpikir

Alea mengungkapkan bahwa perkembangan bisnisnya semakin pesat setelah mendapatkan pendampingan dari seorang mentor pada 2023.

Sebelumnya, ia lebih banyak menghabiskan waktu mengurus operasional harian. Namun, sang mentor mengajarkan pentingnya membangun sistem dan menyusun strategi jangka panjang.

Dari situlah Alea mulai membentuk tim khusus untuk menangani berbagai bidang seperti pemasaran, sumber daya manusia (HR), hingga keuangan. Keputusan tersebut membuat kapasitas bisnisnya meningkat signifikan.

Jika sebelumnya pesanan hanya berkisar ratusan resi per hari, pada 2024 bisnisnya mampu mencatat lebih dari 1.000 pesanan harian dan bahkan pernah menembus sekitar 2.000 resi per hari.

Fokus Bangun Aset dan Brand Lokal

Meski bisnisnya telah menghasilkan omzet ratusan juta rupiah setiap bulan, Alea mengaku tidak tertarik menghabiskan keuntungan untuk gaya hidup mewah.

Sebagian besar keuntungan justru digunakan untuk memperluas bisnis, seperti menyewa kantor yang lebih besar, membangun gudang, serta membeli aset produktif sebagai investasi jangka panjang.

Ke depan, Alea memiliki target menjadikan Slime Bintaro sebagai merek sensory toys asal Indonesia yang mampu bersaing di tingkat Asia. Ia ingin menghadirkan brand lokal yang dikenal luas dan mampu bersaing dengan merek-merek mainan internasional.

Selain itu, Alea juga berharap semakin banyak anak muda Indonesia berani memulai bisnis sejak dini dan saling membangun komunitas agar dapat berkembang bersama.

Editor : Maylanni Diana Fitri
#Alea Carolina #Slime Bintaro #Seven Colors #bisnis slime #pengusaha muda