BLITARKAWENTAR.JAWAPOS.COM – Timnas Indonesia diprediksi mengalami perubahan besar di bawah tangan pelatih baru John Herdman. Pelatih berusia 50 tahun tersebut datang dengan filosofi permainan yang mengandalkan organisasi pertahanan kuat, agresivitas pressing, serta pemanfaatan pemain sayap secara maksimal.
Penunjukan John Herdman oleh PSSI menandai dimulainya era baru skuad Garuda. Pelatih yang pernah membawa Kanada tampil di Piala Dunia itu memiliki rekam jejak menarik, terutama dalam membangun tim dengan identitas permainan yang jelas.
Salah satu hal yang paling mencuri perhatian dari gaya kepelatihan Herdman adalah kecenderungannya menggunakan sistem tiga bek. Skema tersebut berpotensi kembali diterapkan di Timnas Indonesia karena sejumlah pemain Garuda sudah memiliki pengalaman bermain dengan pola serupa.
Sistem Tiga Bek Jadi Pilihan Utama Herdman
Dalam perjalanan kariernya, John Herdman dikenal sebagai pelatih yang nyaman menggunakan formasi 3-4-3, 3-4-2-1, maupun 3-5-2.
Ketika menangani Timnas Kanada, Herdman lebih sering menggunakan struktur tiga bek dengan bentuk 5-3-2 saat bertahan. Sementara ketika bersama Toronto FC, ia lebih banyak memakai pola 3-4-2-1 yang memberikan kebebasan lebih besar kepada pemain depan.
Fleksibilitas tersebut menunjukkan bahwa Herdman bukan pelatih yang terpaku pada satu formasi. Ia lebih memilih menyesuaikan sistem dengan karakter pemain yang tersedia.
Situasi tersebut menjadi keuntungan bagi Timnas Indonesia. Pasalnya, skuad Garuda saat ini memiliki banyak pemain yang sudah terbiasa bermain dengan sistem tiga bek, terutama sejak era pelatih sebelumnya.
Serangan Mengandalkan Kecepatan Sayap
Selain formasi tiga bek, kekuatan utama permainan Herdman berada pada sektor sayap. Ia sering menjadikan wing-back sebagai elemen penting dalam membangun serangan.
Baca Juga: Begini Alur Pengaduan Sengketa Tanah di ATR/BPN, Dari Pemeriksaan Berkas hingga Mediasi
Pemain di sisi lapangan tidak hanya bertugas menjaga pertahanan, tetapi juga aktif membantu menciptakan peluang. Herdman sering menggunakan konsep overload untuk menciptakan keunggulan jumlah pemain di area tertentu.
Saat menyerang, bentuk permainan timnya dapat berubah secara dinamis. Bek sayap bisa naik lebih tinggi, gelandang turun membantu distribusi bola, sementara pemain depan mencari ruang di antara lini pertahanan lawan.
Pola tersebut dinilai cocok dengan karakter Timnas Indonesia yang memiliki pemain cepat dan agresif dalam duel satu lawan satu.
High Press Jadi Identitas Permainan
Tidak hanya menyerang, John Herdman juga dikenal memiliki pendekatan bertahan yang agresif.
Tim asuhannya sering menerapkan high press dengan tujuan merebut bola secepat mungkin setelah kehilangan penguasaan. Beberapa pemain akan langsung mengepung lawan yang membawa bola agar ruang geraknya terbatas.
Dalam fase bertahan, bentuk tim juga bisa berubah menyesuaikan situasi. Dari lima pemain belakang, struktur tersebut dapat berubah menjadi empat pemain ketika melakukan tekanan di area tengah.
Konsep ini membutuhkan kondisi fisik tinggi dan pemahaman taktik yang kuat dari seluruh pemain. Karena itu, adaptasi menjadi tantangan utama Herdman saat mulai menangani Timnas Indonesia.
Tantangan Besar Menanti Era Baru Garuda
Meski filosofi John Herdman terlihat memiliki banyak kesamaan dengan karakter permainan Timnas Indonesia, penerapan di lapangan tentu membutuhkan proses.
Herdman harus mampu menyampaikan detail strategi kepada pemain dalam waktu yang terbatas. Mulai dari koordinasi lini belakang, pergerakan wing-back, hingga mekanisme pressing harus dipahami seluruh pemain.
Dengan target besar membangun fondasi menuju Piala Dunia 2030, Herdman memiliki tugas berat untuk menciptakan Timnas Indonesia yang lebih konsisten.
Kini publik sepak bola Tanah Air menantikan bagaimana wajah baru Garuda setelah sentuhan pelatih asal Inggris tersebut. Apakah sistem tiga bek, permainan sayap, dan pressing tinggi mampu membawa Timnas Indonesia naik ke level berikutnya?
Editor : Maylanni Diana Fitri