Istana Gebang Blitar, Rumah Masa Kecil Bung Karno yang Menyimpan Jejak Sejarah 140 Tahun

M. Helmi Nurhisam • Dipublikasikan Senin, 20 Juli 2026 | 20:40 WIB
Istana Gebang Blitar menjadi rumah masa kecil Bung Karno yang menyimpan sejarah 140 tahun, koleksi asli, dan mobil Mercedes milik sang proklamator. (Pinterest)
Istana Gebang Blitar menjadi rumah masa kecil Bung Karno yang menyimpan sejarah 140 tahun, koleksi asli, dan mobil Mercedes milik sang proklamator. (Pinterest)

BLITAR - Istana Gebang Blitar menjadi salah satu destinasi wisata sejarah yang menyimpan jejak kehidupan masa kecil Presiden pertama Republik Indonesia, Ir. Soekarno atau Bung Karno. Rumah yang berada di Jalan Sultan Agung Nomor 59, Kecamatan Sananwetan, Kota Blitar, Jawa Timur, ini telah berdiri sejak tahun 1884 dan masih mempertahankan sebagian besar bentuk aslinya hingga sekarang.

Bangunan berusia sekitar 140 tahun itu menjadi saksi perjalanan Bung Karno saat remaja sebelum menempuh pendidikan lebih lanjut. Kini, Istana Gebang dibuka untuk umum sebagai museum yang menyimpan berbagai koleksi asli keluarga Bung Karno, mulai dari perabot rumah, foto-foto bersejarah, hingga mobil Mercedes yang pernah digunakan sang proklamator.

Pengunjung yang datang juga dapat menikmati suasana rumah bersejarah yang tetap dipertahankan dengan tata ruang asli, lengkap dengan pendamping yang menjelaskan sejarah setiap ruangan.

Baca Juga: Wisata Makam Bung Karno Blitar, Destinasi Sejarah dengan Museum, Gong Perdamaian Dunia dan Tiket Rp4.000

Sejarah Berdirinya Istana Gebang

Menurut penjelasan di lokasi, Istana Gebang dibangun pada tahun 1884, bersamaan dengan pembangunan Stasiun Kereta Api Blitar. Rumah tersebut awalnya dihuni seorang pegawai perusahaan kereta api berkebangsaan Belanda bernama Christian Portier.

Ketika Raden Soekemi Sosrodihardjo, ayah Bung Karno, dipindahkan tugas dari Mojokerto ke Blitar, keluarga kemudian menempati rumah tersebut. Sejak saat itu, Bung Karno tinggal bersama kedua orang tuanya serta kakaknya, Sukarmini.

Rumah ini kemudian menjadi salah satu tempat penting dalam perjalanan hidup Bung Karno semasa remaja.

Masuk Museum dengan Melepas Alas Kaki

Sebelum memasuki bangunan utama, setiap pengunjung diwajibkan mengisi buku tamu dan melepas alas kaki. Pengelola menyediakan tas khusus untuk menyimpan sandal maupun sepatu agar kebersihan dan keaslian bangunan tetap terjaga.

Di ruang tamu, pengunjung langsung disambut berbagai foto Bung Karno bersama keluarga. Di ruangan ini juga terdapat kursi tamu yang masih berasal dari sekitar tahun 1920-an serta kursi rotan koleksi tahun 1950-an.

Berbagai piagam dan dokumentasi perjalanan Bung Karno juga dipajang sebagai bagian dari koleksi museum.

Mengenal Keluarga Bung Karno

Museum menampilkan silsilah keluarga Bung Karno, termasuk kedua orang tuanya.

Ayah Bung Karno adalah Raden Soekemi Sosrodihardjo yang berasal dari Kepatihan, Tulungagung, Jawa Timur. Ia berprofesi sebagai mantri guru atau penilik sekolah.

Sementara ibunya bernama Ida Ayu Nyoman Rai yang berasal dari Singaraja, Bali.

Pengunjung juga diperkenalkan dengan kakak Bung Karno, Sukarmini, yang di Blitar lebih dikenal sebagai Bu Wardoyo.

Kamar Masa Remaja Bung Karno Masih Dipertahankan

Salah satu ruangan yang paling menarik perhatian adalah kamar masa remaja Bung Karno.

Ranjang besi yang digunakan Bung Karno masih merupakan koleksi asli. Sementara kasur, sprei, dan tirai telah diperbarui mengikuti bentuk lama agar tetap menyerupai kondisi aslinya.

Di dalam kamar juga terdapat meja rias, lemari, dan berbagai perlengkapan yang menggambarkan suasana rumah keluarga pada masa itu.

Baca Juga: Wisata Makam Bung Karno Blitar, Harga Tiket Rp4.000 dengan Museum, Perpustakaan hingga Gong Perdamaian Dunia

Connecting Room Jadi Ciri Khas Rumah

Bangunan Istana Gebang memiliki keunikan berupa connecting room atau pintu penghubung antar kamar.

Kamar tamu laki-laki terhubung langsung dengan kamar tamu perempuan melalui pintu tersebut. Sistem serupa juga diterapkan pada beberapa kamar lain di dalam rumah.

Meski pintu penghubung kini sebagian sudah tidak difungsikan, tata ruang asli tetap dipertahankan sebagai bagian dari nilai sejarah bangunan.

Ruang Keluarga Dipenuhi Foto Bersejarah

Memasuki ruang keluarga, pengunjung akan menemukan banyak dokumentasi perjalanan Bung Karno.

Beberapa foto memperlihatkan Bung Karno bersama keluarga, para tokoh nasional, hingga Presiden Amerika Serikat John F. Kennedy.

Terdapat pula foto Bung Karno bersama Fatmawati serta sejumlah dokumentasi lain saat menjabat sebagai Presiden Republik Indonesia.

Kursi-kursi di ruang keluarga masih merupakan koleksi lama sehingga pengunjung tidak diperbolehkan duduk demi menjaga kondisi aslinya.

Kamar Utama Menyimpan Kenangan Bung Karno

Di bagian paling belakang terdapat kamar utama yang dahulu ditempati kedua orang tua Bung Karno.

Setelah keduanya wafat, kamar tersebut digunakan Bung Karno setiap kali pulang ke Blitar saat telah menjadi Presiden.

Menurut penjelasan pemandu, Bung Karno memiliki kebiasaan berjalan jongkok dari pintu depan menuju kamar ini sebagai bentuk penghormatan kepada sang ibu sebelum melakukan sungkem.

Di dalam kamar tersimpan tiga tongkat pribadi Bung Karno. Salah satunya disebut terbuat dari gading gajah dan merupakan hadiah dari Persatuan Pemuda Hindia.

Selain itu terdapat radio, koper, lemari, foto keluarga, hingga berbagai barang pribadi yang masih tersimpan rapi.

Ruang Santai dan Ruang Makan Keluarga

Di bagian belakang rumah terdapat area favorit Bung Karno ketika pulang ke Blitar.

Tempat tersebut biasa digunakan untuk bersantai sambil menikmati teh atau kopi menghadap halaman.

Sementara ruang makan keluarga berada di ruangan terpisah yang lebih tertutup. Tata letaknya masih mengikuti fungsi aslinya sejak rumah pertama kali dihuni keluarga Bung Karno.

Gudang Koleksi Peralatan Dapur Tempo Dulu

Istana Gebang juga menyimpan berbagai perlengkapan rumah tangga tempo dulu.

Di antaranya terdapat blender lawas, pemanggang roti, panci, lampu minyak, koper, hingga sepeda tua yang masih tersimpan sebagai koleksi.

Selain itu terdapat seperangkat gamelan yang dahulu digunakan untuk menyambut kedatangan Bung Karno saat berkunjung ke Blitar.

Sumur Berusia 140 Tahun

Salah satu bagian yang menarik perhatian pengunjung adalah sumur tua yang usianya sama dengan bangunan rumah.

Menurut penjelasan pengelola, sumur tersebut tidak pernah mengalami kekeringan sejak pertama kali dibuat.

Airnya masih digunakan hingga sekarang. Pengunjung diperbolehkan mencuci tangan, mencuci muka, bahkan meminum air dari sumur tersebut.

Sebagian pengunjung juga memanfaatkan kamar mandi pertama untuk mandi menggunakan air sumur karena memiliki keyakinan tertentu.

Dapur Tradisional Masih Dipertahankan

Bagian belakang rumah juga memperlihatkan dapur tradisional yang masih menggunakan tungku kayu bakar.

Di sampingnya terdapat dapur yang lebih modern sebagai pelengkap fungsi rumah pada masa berikutnya.

Seluruh tata letak ruangan tetap dipertahankan agar menggambarkan kehidupan keluarga Bung Karno semasa tinggal di Istana Gebang.

Mobil Mercedes Milik Bung Karno

Sebelum keluar area museum, pengunjung dapat melihat mobil Mercedes tipe 190 buatan Jerman yang pernah digunakan Bung Karno.

Mobil tersebut dipesan pada tahun 1960 dan tiba pada 1961 dengan penambahan lambang bendera Merah Putih di bagian depan sebagai pesanan khusus.

Selain digunakan Bung Karno saat berada di Blitar, kendaraan itu juga pernah dipakai keluarga untuk aktivitas sehari-hari.

Kini mobil disimpan di garasi khusus sebagai salah satu koleksi utama Istana Gebang.

Dengan bangunan yang masih mempertahankan keaslian, koleksi bersejarah yang lengkap, serta kisah perjalanan Bung Karno bersama keluarganya, Istana Gebang menjadi destinasi wisata sejarah yang memperlihatkan sisi kehidupan pribadi sang proklamator. Rumah berusia lebih dari satu abad ini tidak hanya menjadi museum, tetapi juga menyimpan jejak penting perjalanan sejarah Indonesia yang masih dapat dinikmati masyarakat hingga sekarang.

Editor : M. Helmi Nurhisam
Sumber : Arafat Kiki
Museum Blitar Rumah Bung Karno Bung Karno istana gebang blitar wisata sejarah blitar