Kisah Perjuangan Bung Karno Memerdekakan Indonesia: Dari Gemblengan Cokroaminoto hingga Proklamasi 1945

Muhammad Rusdian Nuzula • Dipublikasikan Kamis, 23 Juli 2026 | 17:15 WIB
Kisah perjuangan Bung Karno memerdekakan Indonesia, dari era Cokroaminoto, PNI, dilema Romusa Jepang, hingga pembacaan Proklamasi 1945. (PINTEREST)
Kisah perjuangan Bung Karno memerdekakan Indonesia, dari era Cokroaminoto, PNI, dilema Romusa Jepang, hingga pembacaan Proklamasi 1945. (PINTEREST)

SURABAYA - Perjalanan panjang Bung Karno dalam memerdekakan Indonesia diwarnai garis takdir sejarah yang penuh dilema serta perjuangan sengit melawan penjajahan. Sosok bernama asli Kusno Sosrodiharjo ini lahir di Desa Peneleh, Surabaya, pada 6 Juni 1902 dari pasangan Raden Sukemi Sosrodiharjo dan Ida Ayu Nyoman Rai Sariben. Sebagai anak priayi, sosok yang dijuluki Sang Putra Fajar ini mendapat keistimewaan mengenyam pendidikan kolonial.

Pendidikan awal Bung Karno dimulai di Hollandsch-Inlandsche School (HIS) Mojokerto pada tahun 1908. Ia kemudian melanjutkan sekolah ke Europeesche Lagere School (ELS) pada tahun 1913. Saat menginjak usia 15 tahun, ayahnya memindahkan Bung Karno ke Surabaya untuk tinggal di rumah sahabat karibnya, Haji Umar Said Cokroaminoto.

Baca Juga: Kasus Kekerasan Anak di Blitar Kota Meningkat, Sudah 20 Korban hingga Juli 2026, Mayoritas Berawal dari Pacaran dan Media Sosial

Gemblengan Politik Surabaya dan Lahirnya Marhaenisme

Di rumah Cokroaminoto yang merupakan pemimpin Sarekat Islam, Bung Karno bertemu tokoh-tokoh besar seperti Alimin, Musso, Darsono, Kudus, hingga Semaoen. Ia sering menyimak diskusi politik, membaca pemikiran Barat tentang nasionalisme, sosialisme, dan marxisme, serta menirukan gaya pidato Cokroaminoto. Bung Karno juga mengenyam pendidikan di Hogere Burgerschool (HBS) Surabaya dan aktif di organisasi Trikoro Dharmo sejak tahun 1918.

Guna menyuarakan perlawanan, Bung Karno menulis kritik diskriminasi Belanda di harian Utusan Hindia pada tahun 1920 menggunakan nama samaran Bima. Pada tahun 1921, ia pindah ke Bandung, menikahi Siti Utari, dan berkuliah di Technische Hoogeschool (THS/ITB). Di Bandung, ia berinteraksi dengan Ki Hajar Dewantara, Cipto Mangunkusumo, dan Douwes Dekker.

Saat berkeliling desa di Bandung, Bung Karno bertemu seorang petani miskin bernama Marhaen. Pertemuan ini menginspirasinya merumuskan gagasan sosialis ala Indonesia bernama Marhaenisme. Akibat orasi kerasnya di rapat umum tahun 1922, Rektor THS Profesor Klopper sempat menegurnya. Bung Karno kemudian mendirikan Algemeene Studieclub untuk menggalang mahasiswa pribumi.

Dinamika Asmara, PNI, dan Jerat Penjara Kolonial

Kehidupan pribadi Bung Karno berjalan beriringan dengan perjuangan politiknya. Setelah menceraikan Utari dan Inggit Garnasih bercerai dari Haji Sanusi, Bung Karno menikahi Inggit pada tahun 1923. Inggit menjadi sosok yang setia mendampingi awal masa perjuangannya.

Melihat perpecahan Sarekat Islam menjadi SI Merah dan SI Putih pada tahun 1923, Bung Karno menulis gagasan penyatuan Nasionalisme, Islam, dan Marxisme di majalah Suluh Indonesia Muda pada tahun 1926. Pasca-pemberontakan PKI gagal pada Desember 1926, Bung Karno bersama Cipto Mangunkusumo, Sartono, Budiarto, dan Sunario mendirikan Partai Nasional Indonesia (PNI) pada 4 Juli 1927.

PNI berkembang pesat dan menginisiasi pembentukan Permufakatan Perhimpunan-Perhimpunan Politik Kebangsaan Indonesia (PPPKI) pada 17 Desember 1927, yang membidani lahirnya Sumpah Pemuda pada 28 Oktober 1928. Aktivitas propaganda ini membuat Belanda menangkap Bung Karno di Yogyakarta pada Desember 1929 dan memenjarakannya di Banceuy, Bandung. Di persidangan, ia menyampaikan pembelaan terkenal berjudul Indonesia Menggugat.

Pengasingan Ende, Bengkulu, dan Dilema Masa Jepang

Bung Karno bebas pada 31 Desember 1931 usai PNI terpecah menjadi PNI Baru pimpinan Mohammad Hatta dan Partindo pimpinan Sartono. Bung Karno memilih bergabung dengan Partindo, namun pemerintah kolonial kembali menangkap dan mengasingkannya ke Ende, Nusa Tenggara Timur, pada tahun 1933. Di Ende, saat merenung di bawah pohon sukun, ia merumuskan butir-butir Pancasila.

Akibat wabah malaria pada tahun 1938, Bung Karno dipindahkan ke Bengkulu dan mengajar di sekolah Muhammadiyah. Di sana ia bertemu Fatmawati, sosok murid yang kelak dinikahinya. Saat militer Jepang masuk menguasai Indonesia pada Maret 1942, Belanda sempat berupaya membawa Bung Karno ke Australia, namun gagal.

Jepang yang menemukan Bung Karno pada Juli 1942 memanfaatkannya untuk propaganda perang Pasifik. Demi menghindari pembantaian rakyat, Bung Karno bersama Mohammad Hatta, Ki Hajar Dewantara, dan Buya Hamka sepakat bekerja sama dengan Jepang, meski ditentang kelompok muda seperti Sutan Sjahrir dan Sukarni. Pada 16 April 1943, dibentuklah Pusat Tenaga Rakyat (Putra).

Kerja sama ini membawa dilema berat ketika Jepang memanfaatkan Putra untuk merekrut tenaga kerja paksa atau Romusa. Bung Karno menyadari penderitaan Romusa, namun menganggap langkah kolaborasi ini sebagai satu-satunya jalan rasional guna mencegah korban jiwa yang jauh lebih besar dari tindakan brutal militer Jepang.

Baca Juga: Kasus Kekerasan Anak di Blitar Kota Meningkat, Sudah 20 Korban hingga Juli 2026, Mayoritas Berawal dari Pacaran dan Media Sosial

Pembentukan PETA hingga Detik-Detik Proklamasi

Guna mempersiapkan kekuatan militer, atas inisiatif Gatot Mangkupraja, dibentuklah Pembela Tanah Air (PETA) pada 3 Oktober 1943. Seiring terdesaknya posisi Jepang dalam Perang Pasifik, janji kemerdekaan mulai direalisasikan dengan dibentuknya Badan Penyelidik Usaha-usaha Persiapan Kemerdekaan Indonesia (BPUPKI) pada 29 April 1945. Dalam sidang BPUPKI tanggal 1 Juni 1945, Bung Karno memaparkan konsep Pancasila.

BPUPKI kemudian berganti menjadi Panitia Persiapan Kemerdekaan Indonesia (PPKI) pada 7 Agustus 1945 yang diketuai langsung oleh Bung Karno. Usai bom atom menghancurkan Hiroshima dan Nagasaki, Bung Karno, Hatta, dan Radjiman Wedyodiningrat dipanggil Marsekal Terauchi ke Dalat, Vietnam, pada 12 Agustus 1945 untuk menerima kewenangan memproklamasikan kemerdekaan.

Sekembalinya ke tanah air, Jepang menyerah tanpa syarat kepada Sekutu pada 14 Agustus 1945. Perbedaan pendapat antara Golongan Muda dan Golongan Tua memuncak hingga memicu peristiwa penculikan Bung Karno dan Hatta ke Rengasdengklok pada 16 Agustus 1945. Setelah dijemput Ahmad Soebardjo dan mendapat jaminan keamanan dari Laksamana Tadashi Maeda, perumusan teks proklamasi dilakukan di rumah Maeda.

Puncak perjuangan tersebut terwujud pada Jumat, 17 Agustus 1945 pukul 10.00 WIB. Di hadapan ribuan rakyat di Jalan Pegangsaan Timur Nomor 56 Jakarta, Bung Karno didampingi Mohammad Hatta secara resmi membacakan teks Proklamasi Kemerdekaan Indonesia, menandai lahirnya sebuah bangsa baru yang bebas dari cengkeraman penjajahan.

 

Editor : Muhammad Rusdian Nuzula
Sumber : Matahatipemuda
PNI Sejarah Soekarno Bung Karno Proklamasi Kemerdekaan PETA