Mengunjungi Makam Bung Karno di Blitar: Pusat Wisata Sejarah, Museum, hingga Gong Perdamaian Dunia

Muhammad Rusdian Nuzula • Dipublikasikan Kamis, 23 Juli 2026 | 17:30 WIB
Informasi lengkap panduan wisata sejarah Makam Bung Karno di Blitar, fasilitas museum, relief perjuangan, hingga harga tiket masuk. (PINTEREST)
Informasi lengkap panduan wisata sejarah Makam Bung Karno di Blitar, fasilitas museum, relief perjuangan, hingga harga tiket masuk. (PINTEREST)

BLITAR - Wisata sejarah Makam Bung Karno yang berlokasi di Jalan Raya Ir Soekarno Nomor 152, Bendogerit, Kecamatan Sananwetan, Kota Blitar, Jawa Timur, terus menjadi magnet utama peziarah dan wisatawan dari berbagai daerah. Destinasi berjarak 2,5 kilometer atau sekitar 8 menit dari Alun-alun Kota Blitar ini buka setiap hari mulai pukul 07.00 hingga 17.00 WIB.

Kompleks pemakaman sang proklamator sekaligus Presiden Pertama Republik Indonesia ini menawarkan fasilitas edukasi sejarah yang lengkap, mulai dari museum, perpustakaan, hingga situs bernilai kebudayaan tinggi. Akses menuju lokasi sangat terjangkau, dengan opsi parkir kendaraan pribadi seharga Rp5.000 untuk sepeda motor dan Rp10.000 untuk mobil.

Bagi pengunjung bus pariwisata yang terparkir sekitar 1 kilometer dari lokasi, tersedia layanan becak seharga Rp15.000 untuk sekali jalan atau Rp25.000 pergi-pulang (PP).

Baca Juga: Kasus Kekerasan Anak di Blitar Kota Meningkat, Sudah 20 Korban hingga Juli 2026, Mayoritas Berawal dari Pacaran dan Media Sosial

Fasilitas Lengkap dan Museum Bersejarah

Memasuki kawasan Makam Bung Karno melalui pintu barat, pengunjung langsung disambut oleh patung sang proklamator yang sedang duduk memegang buku. Tepat di sampingnya berdiri area Layanan Koleksi Memorabilia atau Museum Bung Karno yang dapat diakses pengunjung secara gratis.

Museum yang diresmikan pada 3 Juli 2004 oleh Presiden Kelima RI Megawati Soekarnoputri ini menyimpan sekitar 2.200 barang peninggalan bersejarah. Koleksi tersebut meliputi lukisan, pakaian kenegaraan, barang pribadi, foto dokumenter dari masa ke masa, hingga koleksi uang seri Soekarno.

Di dalam museum, pengunjung juga dapat melihat replika naskah Proklamasi, lambang Garuda Pancasila, serta area Rumah Pintar Pemilu Nasional yang mengulas sejarah Pemilihan Umum dari tahun 1955 hingga Pemilu 2024.

Selain itu, terdapat layar komputer interaktif untuk menyaksikan film biografi Soekarno, lukisan fenomenal berdetak, serta miniatur rumah pengasingan Soekarno di Parapat, Bengkulu, Ende, dan Berastagi. Sejumlah barang pribadi ikonis turut dipajang, seperti koper tua, jam tangan, kacamata hitam Ray-Ban, peci, parfum, keris Kiai Sekar Jagat, hingga Gong Kiai Jimat.

Relief Perjuangan dan Gong Perdamaian Dunia

Keluar dari area museum, pengunjung akan melintasi lorong berpilar yang dilengkapi relief perjalanan perjuangan Bung Karno dari era pra-kemerdekaan hingga pasca-kemerdekaan. Di tengah deretan pilar, terdapat kolam ikan hias yang mana pakan ikannya dijual seharga Rp3.000 per bungkus, serta jasa sketsa lukis wajah seharga Rp50.000.

Area ini juga terhubung dengan amfiteater luas untuk pertunjukan seni serta kawasan Gong Perdamaian Dunia. Gong berukuran besar tersebut dihiasi simbol-simbol agama serta bendera dari 202 negara sebagai lambang persaudaraan global.

Tata Ruang Makam Berkonsep Jawa

Baca Juga: Kasus Kekerasan Anak di Blitar Kota Meningkat, Sudah 20 Korban hingga Juli 2026, Mayoritas Berawal dari Pacaran dan Media Sosial

Kompleks Makam Bung Karno berdiri di atas lahan seluas 1,8 hektar yang terbagi menjadi tiga zona utama: halaman, teras, dan pendopo. Pembagian arsitektur ini menyesuaikan dengan filosofi Jawa mengenai tiga tahapan kehidupan manusia, yakni alam rahim, kehidupan dunia, dan kematian.

Untuk masuk ke area pusara, peziarah diwajibkan membeli tiket masuk seharga Rp4.000 per orang di sekretariat dekat Paseban Agung. Tiket ini sudah mencakup akses ke destinasi Istana Gebang yang berjarak 2,5 kilometer dari lokasi pemakaman.

Pusara Soekarno berada di dalam Pendopo Astono Mulyo, sebuah bangunan bergaya joglo setinggi 15 meter dengan atap tembaga berlapis tiga. Di dalam pendopo, makam Bung Karno berdampingan dengan makam kedua orang tuanya, yaitu Raden Sukemi Sosrodiharjo yang wafat pada 8 Mei 1945 dan Ibu Ida Ayu Nyoman Rai yang wafat pada 12 September 1958.

Nisan makam ditandai dengan batu pualam hitam berukuran besar. Berdasarkan sejarahnya, lokasi pemakaman ini mulanya merupakan Makam Taman Pahlawan berdasarkan Kepres Nomor 44 Tahun 1970 yang dikeluarkan Presiden Soeharto usai Soekarno wafat di RSPAD Gatot Subroto Jakarta pada 21 Juni 1970. Tempat ini kemudian dipugar pada 1978 dan diresmikan sebagai komplek makam pada 1979.

Pengunjung biasanya memadati area makam pada momen-momen penting seperti hari lahir dan wafat Bung Karno, menjelang bulan Ramadan, serta peringatan Hari Kemerdekaan RI. Usai berziarah, peziarah diarahkan keluar menuju pasar souvenir lokal yang menjual aneka kerajinan, batik, makanan khas, dan jajanan es drop khas Blitar.

 

Editor : Muhammad Rusdian Nuzula
Sumber : Dewi Novala
museum bung karno Komplek Makam Bung Karno Pendopo Astono Mulyo wisata blitar makam bung karno