Menelusuri Istana Gebang di Blitar: Rumah Masa Muda Soekarno, Koleksi Antik, dan Sumur Tua 1884

Muhammad Rusdian Nuzula • Dipublikasikan Kamis, 23 Juli 2026 | 17:45 WIB
Informasi wisata Istana Gebang Blitar, mengulas sejarah rumah masa muda Soekarno, sumur tua 1884, hingga mobil Mercedes-Benz 1961. (PINTEREST)
Informasi wisata Istana Gebang Blitar, mengulas sejarah rumah masa muda Soekarno, sumur tua 1884, hingga mobil Mercedes-Benz 1961. (PINTEREST)

BLITAR - Istana Gebang yang berlokasi di Jalan Sultan Agung, Kota Blitar, Jawa Timur, terus menjadi destinasi wisata sejarah favorit yang menyimpan jejak masa muda Presiden Pertama RI, Soekarno. Bangunan cagar budaya berdiri di atas lahan seluas 1,7 hektar atau sekitar 20.000 meter persegi ini menyajikan atmosfer hunian klasik yang terjaga keasliannya.

Objek wisata museum yang berjarak dekat dari Stasiun Blitar ini resmi dibuka sebagai museum umum sejak 10 Januari 2012. Bangunan utama Istana Gebang awalnya didirikan pada tahun 1884 oleh seorang pejabat kepala jaringan kereta api PT KAI asal Belanda, Christian Portier.

Baca Juga: Solo Traveling Bukan Obat Utama Atasi Burnout, Psikolog Ingatkan Pentingnya Menyelesaikan Akar Masalah

Silsilah Keluarga dan Koleksi Orisinal Tahun 1884

Di dalam bangunan utama Istana Gebang, pengunjung diwajibkan melepas alas kaki demi menjaga kebersihan serta kelestarian lantai bangunan bersejarah tersebut. Edukator museum, Kintan, menjelaskan bahwa rumah ini mulai ditempati oleh keluarga orang tua Soekarno ketika sang Proklamator berusia 16 tahun.

Ayah Soekarno, Raden Sukemi Sosrodiharjo, berasal dari Kepatihan Tulungagung dan berprofesi sebagai Mantri Guru atau penilik sekolah. Sementara sang ibu, Ibu Ida Ayu Nyoman Rai Simben, berasal dari Singaraja, Bali. Di rumah ini pula Soekarno tinggal bersama kakak kandungnya, Ibu Sukarmini atau yang lebih dikenal masyarakat Blitar dengan sebutan Ibu Wardoyo.

Bangunan yang kini berusia lebih dari 140 tahun tersebut mempertahankan susunan furnitur aslinya. Perabot di ruang tamu utama berupa empat kelompok kursi buatan tahun 1920, sementara deretan kursi kayu jati tua di ruang berikutnya berasal dari era tahun 1950-an.

Aturan Kunjungan dan Penataan Kamar Bersejarah

Pengelola museum menerapkan aturan ketat bagi seluruh pengunjung Istana Gebang. Pengunjung dilarang menduduki kursi maupun berbaring di atas tempat tidur koleksi guna mengantisipasi kerusakan fisik pada material kayu antik.

Tata ruang bangunan ini memiliki keunikan berupa pintu penghubung (connecting door) antar kamar yang berjejer dari depan hingga ke area belakang. Kamar tamu laki-laki dan perempuan dipisah di sisi timur, sementara kamar masa remaja Soekarno berada di seberangnya dengan ranjang besi orisinal.

Di area tengah terdapat kamar khusus yang disebut Kamar Presiden. Kamar tersebut digunakan Soekarno saat pulang ke Blitar setelah menjabat sebagai Presiden RI. Sebelum kedua orang tuanya wafat, kamar utama ini ditempati oleh Raden Sukemi dan Ibu Ida Ayu Nyoman Rai.

Di dalam Kamar Presiden tersimpan foto momentum tradisi sungkem Soekarno kepada sang ibu dengan posisi jalan jongkok dari pintu depan. Kamar ini juga menyimpan tiga tongkat komando pribadi, salah satunya berbahan gading gajah pemberian Persatuan Pemuda India, serta perangkat radio, cermin, dan mesin ketik merk Royal buatan Belanda tahun 1930 milik Bapak Wardoyo.

Area Santai Favorit dan Sumur Tua Sejak 1884

Sisi belakang bangunan Istana Gebang memiliki meja santai dengan kursi hijau yang menghadap ke arah selatan. Tempat tersebut merupakan lokasi favorit Soekarno untuk duduk beristirahat sambil menikmati teh atau kopi setiap kali pulang ke Kota Blitar.

Di dekat area ruang makan keluarga, terdapat peninggalan perangkat alat dapur, tempat penyimpanan, hingga kerangka sepeda kebo tua. Selain itu, tersimpan pula perangkat gamelan di bangunan samping yang dahulu digunakan untuk menyambut kedatangan Soekarno di Gedung Kesenian.

Salah satu daya tarik utama di area belakang adalah keberadaan sumur tua yang dibuat bersamaan dengan pembangunan rumah pada tahun 1884. Sumur bersejarah ini tidak pernah mengalami kekeringan selama lebih dari 139 tahun dan airnya yang tawar kerap dimanfaatkan pengunjung untuk mencuci muka maupun diminum langsung.

Baca Juga: Solo Traveling Bukan Obat Utama Atasi Burnout, Psikolog Ingatkan Pentingnya Menyelesaikan Akar Masalah

Kendaraan Antik Presiden dan Fasilitas Kompleks Museum

Perjalanan wisata di Istana Gebang diakhiri dengan mengunjungi area garasi di sebelah barat kompleks museum. Di lokasi ini terpajang mobil dinas antik bermerek Mercedes-Benz tipe 190 keluaran tahun 1961 buatan Jerman.

Mobil berpelat nomor AG 390 tersebut dikirimkan langsung oleh Soekarno ke Blitar pada tahun 1961 khusus untuk penjemputan dirinya serta kelancaran aktivitas keluarga di Blitar. Kendaraan langka ini memiliki ciri khas berupa dudukan tiang bendera di bagian depan.

Kompleks Istana Gebang juga dilengkapi dengan fasilitas dua unit rumah tambahan, area parkir luas di sisi barat, lapangan, serta taman yang rindang. Pengunjung dapat memanfaatkan area halaman belakang untuk beristirahat sejenak sebelum mengakhiri rute kunjungan museum.

 

Editor : Muhammad Rusdian Nuzula
Sumber : HM Adventure
Museum Soekarno Rumah Masa Muda Bung Karno wisata blitar Istana Gebang wisata sejarah blitar