BLITAR - Kawasan wisata sejarah Istana Gebang Blitar terus menjadi destinasi favorit masyarakat yang ingin menelusuri jejak kehidupan masa kecil hingga remaja Presiden Pertama Republik Indonesia, Ir. Soekarno.
Rumah bersejarah yang berlokasi di Jalan Sultan Agung Nomor 59, Kecamatan Sananwetan, Kota Blitar, Jawa Timur ini berdiri di atas lahan seluas dua hektar.
Pengunjung yang ingin mengulik rekam jejak Sang Proklamator di Istana Gebang Blitar cukup membayar retribusi tiket masuk yang sangat terjangkau, yakni sebesar Rp4.000 per orang.
Fasilitas Parkir dan Lokasi Pembelian Tiket Masuk
Lokasi parkir kendaraan roda dua, mobil pribadi, hingga bus pariwisata terletak di sebelah barat kompleks bangunan Istana Gebang Blitar.
Area parkir ini dilengkapi dengan deretan warung kuliner yang dapat dimanfaatkan para peziarah atau wisatawan untuk beristirahat sejenak setelah menempuh perjalanan jauh.
Pengunjung dapat membeli tiket masuk retribusi di Balai Kesenian yang berada di area depan sebelum melangkahkan kaki memasuki kawasan utama.
Sesuai ketentuan pengelola, tempat wisata edukasi sejarah ini beroperasi setiap hari mulai pukul 08.00 pagi hingga pukul 17.00 WIB.
Kentong Robyong dan Bangunan Berusia 140 Tahun
Di area halaman luar, pengunjung disambut oleh ikon Kentong Robyong Bangbang Wetan Jala Tengara yang sarat makna.
Bagian luar Kentong Robyong ini dihiasi relief detail yang mengisahkan cerita Ramayana, yakni perjuangan Garuda Jatayu saat menyelamatkan Dewi Sinta dari cengkeraman Rahwana.
Tepat di depan rumah utama, berdiri kokoh patung Bung Karno berukuran tinggi yang menjadi latar favorit wisatawan untuk berswafoto.
Bangunan utama Istana Gebang Blitar tercatat telah berusia 140 tahun, dihitung dari awal pembuatannya pada tahun 1884.
Proses pembangunan rumah ini dilakukan secara bersamaan dengan pembangunan Stasiun Kereta Api Blitar pada era kolonial Hindia Belanda.
Pemerintah sempat melakukan proyek pemugaran pada tahun 1998 untuk memperkokoh struktur bangunan tanpa mengubah bentuk aslinya sedikit pun.
Setiap tanggal 6 Juni, kawasan ini selalu menjadi pusat pelaksanaan upacara bendera untuk memperingati hari kelahiran Sang Proklamator.
Di area halaman juga terdapat Gong Perdamaian Dunia yang dikelilingi bendera negara-negara di dunia sebagai simbol persatuan universal.
Bagi wisatawan yang ingin melanjutkan agenda ziarah, jarak Istana Gebang Blitar menuju kompleks Makam Bung Karno (MBK) sangat dekat, yakni hanya terpaut sekitar 2 kilometer.
Aturan Masuk dan Koleksi Antik Ruang Tamu
Sebelum melangkah ke dalam area dalam rumah, setiap pengunjung diwajibkan melepas alas kaki dan menyimpannya di dalam tas kain merah yang telah disediakan.
Pengunjung juga diminta mengisi buku tamu di meja penerima tamu dan dapat meminta bantuan petugas pemandu untuk menjelaskan sejarah koleksi.
Begitu memasuki ruang tamu, mata pengunjung disambut jajaran empat unit kursi kayu klasik buatan tahun 1920 yang terawat sangat baik.
Dinding ruang tamu dipenuhi deretan foto sejarah dokumentasi Bung Karno bersama keluarga dan tokoh penting lainnya.
Terdapat foto Bung Karno bersama sang ibunda, Ida Ayu Nyoman Rai yang berasal dari Singaraja, Bali.
Di sebelahnya, terpajang foto ayahanda Bung Karno, Raden Soekemi Sosrodiharjo yang merupakan sosok pendidik asal Kepatihan, Tulungagung.
Di sudut lain ruang tamu, terdapat set kursi rotan antik buatan tahun 1950-an serta berbagai piagam penghargaan resmi.
Salah satu dokumen penting yang dipajang adalah petikan Keputusan Presiden Republik Indonesia serta Piagam Pimpinan Pusat Legiun Veteran Republik Indonesia.
Terdapat pula dokumentasi visual yang merekam kondisi awal pemakaman Bung Karno saat masih berstatus Tempat Pemakaman Umum (TPU) sebelum dipugar.
Kamar Tamu dan Kamar Masa Remaja Bung Karno
Istana Gebang Blitar memiliki tata ruang berupa connecting room atau pintu penghubung antarkamar yang sangat rapi.
Kamar tamu laki-laki dilengkapi ranjang besi orisinal, lemari kayu klasik, serta kasur bahan kapas tradisional yang mempertahankan bentuk aslinya.
Pintu penghubung tersebut tembus menuju kamar tidur tamu wanita yang dilengkapi meja rias berbahan marmer mewah dan wastafel kaca.
Berlanjut ke area tengah, terdapat kamar tidur masa remaja tempat Soekarno menghabiskan waktunya sewaktu tinggal di Blitar.
Di dalam kamar tersebut terdapat jam dinding kuno berumur ratusan tahun, meja wastafel, jendela berantai, serta tempat tidur berseprai putih.
Sejarah mencatat, rumah ini awalnya merupakan milik seorang warga negara Belanda yang bekerja sebagai pegawai perusahaan kereta api.
Ketika ayah Bung Karno dipindahtugaskan dari Mojokerto ke Blitar, orang tua Soekarno memutuskan untuk membeli rumah ini.
Rumah tersebut kemudian ditinggali oleh Soekarno, kedua orang tuanya, serta kakak kandung Soekarno bernama Sukarmini bersama suami dan anak-anaknya.
Silsilah Keluarga dan Meja Kerja Mesin Ketik Belanda
Memasuki area ruang keluarga, terpajang foto dokumentasi saat Soekarno melaksanakan salat Jumat hingga foto kunjungan Megawati Soekarnoputri.
Ada pula foto bersejarah saat Presiden Soekarno bertemu dengan Presiden Amerika Serikat ke-35, John F. Kennedy.
Di area ini terdapat kamar pribadi milik Sukarmini, kakak kandung Bung Karno yang sangat tersohor di Blitar dengan sapaan Bu Wardoyo.
Nama Bu Wardoyo melekat pada diri Sukarmini lantaran beliau menikah dengan seorang pria bernama Puguh Wardoyo.
Kamar Sukarmini tetap dipertahankan orisinalitasnya, mulai dari dipan besi, bentuk tirai, jendela, hingga lemarinya.
Di dekat kamar tersebut, terdapat patung ukiran batu berbentuk wajah ibunda Bung Karno, Ida Ayu Nyoman Rai.
Tepat di sebelahnya berdiri meja kerja milik ayah Bung Karno yang dilengkapi mesin ketik manual merek Royal buatan Belanda tahun 1961.
Di dinding area ini dipajang silsilah keluarga Sukarmini yang tercatat pernah menikah dua kali dan dikaruniai dua orang anak.
Sebelum dibeli oleh pemerintah pada tahun 1917 dan dibuka untuk umum, rumah ini dihuni oleh keturunan dari keluarga Sukarmini.
Tradisi Sungkeman Jalan Jongkok di Kamar Utama
Ruang keluarga utama Istana Gebang Blitar menyimpan seperangkat kursi tamu vintage buatan tahun 1920-an.
Pengelola melarang pengunjung untuk menduduki kursi kayu antik tersebut demi menjaga keaslian dan kelestarian barang sejarah.
Di sepanjang dinding dipajang foto Bung Karno bersama para istrinya, termasuk Fatmawati selaku penjahit Bendera Pusaka Merah Putih, Hartini, hingga Ratnasari Devi.
Kamar paling sakral di Istana Gebang Blitar adalah kamar utama milik kedua orang tua Bung Karno, Raden Soekemi Sosrodiharjo dan Ida Ayu Nyoman Rai.
Saat berkunjung ke Blitar semasa menjabat sebagai Presiden, Bung Karno selalu menjalankan agenda rutin berupa ritual sungkeman kepada sang ibunda.
Bung Karno menunjukkan rasa hormat yang luar biasa dengan cara berjalan jongkok mulai dari pintu depan rumah hingga masuk ke dalam kamar ibunya.
Ketika kedua orang tuanya telah wafat, Bung Karno memanfaatkan kamar utama ini sebagai tempat beristirahat selama melakukan kunjungan kerja.
Suasana di dalam kamar utama senantiasa wangi semerbak lantaran pengelola rutin meletakkan rangkaian bunga sedap malam segar.
Di dalam kamar ini tersimpan tiga buah tongkat komando milik Bung Karno pemberian dari Persatuan Pemuda Hindia.
Salah satu tongkat komando yang berada di posisi tengah dibuat khusus dari bahan gading gajah asli berwarna putih.
Kamar utama ini juga dilengkapi kamar mandi dalam yang tergolong sangat modern pada zamannya karena sudah menggunakan fasilitas kloset duduk.
Soekarno tercatat menghuni rumah megah ini pada masa remajanya, yakni kurun waktu tahun 1917 hingga 1919.
Ruang Santai, Dapur Tradisional, dan Sumur Tua 140 Tahun
Pada bagian belakang rumah utama, terdapat area ruang santai bersuasana asri yang kerap digunakan Bung Karno untuk menikmati teh atau kopi.
Di sebelah ruang santai, terdapat ruang makan keluarga yang sifatnya privat dan dihiasi lampu gantung bergaya vintage.
Pengelola juga mempertahankan ruangan gudang tempat penyimpanan alat dapur kuno, seperti panggangan roti, pemanggang, wajan tanah liat, hingga blender manual.
Di gudang ini tersimpan pula rangka sepeda tua, lampu strongking, toples kaca raksasa, panci jadul, koper kulit, serta wadah air kuno.
Di sudut lain, terpajang seperangkat instrumen gamelan Jawa orisinal yang dahulu kerap ditabuh untuk menyambut kedatangan Bung Karno di Kota Blitar.
Memasuki area halaman belakang, pengunjung dapat melihat sumur tua berusia 140 tahun yang dibangun bersamaan dengan rumah utama pada tahun 1884.
Hebatnya, air di dalam sumur tua ini tidak pernah surut atau kering sedikit pun sepanjang sejarah perjalanan usianya.
Banyak pengunjung yang meminum, membasuh muka, atau membawa pulang air sumur ini menggunakan botol karena meyakini kehebatannya.
Pengelola juga menyediakan fasilitas kamar mandi khusus bagi pengunjung yang memiliki niat atau kepercayaan tertentu untuk mandi di lokasi ini.
Di area ini terdapat dua tipe dapur, yakni dapur bersih yang sudah menggunakan kompor gas dan dapur luar yang masih memakai tungku kayu bakar tradisional.
Koleksi Mobil Mewah Mercedes-Benz 190 Tahun 1960
Sebelum melangkah menuju pintu keluar, pengunjung dapat menyaksikan koleksi mobil sedan hitam legendaris milik Sang Proklamator di dalam garasi khusus.
Mobil bernilai sejarah tinggi ini merupakan tipe Mercedes-Benz 190 buatan Jerman yang dipesan khusus (custom) oleh Bung Karno pada tahun 1960.
Keunikan mobil ini terletak pada emblem lambang bendera Merah Putih yang terpasang anggun di bagian kap depan mobil.
Mobil legendaris yang tiba di Indonesia pada tahun 1961 tersebut dahulu sering digunakan Bung Karno maupun keluarga besar Sukarmini untuk berkendara di Kota Blitar.
Meskipun pengunjung tidak diperbolehkan masuk ke dalam interior kendaraan, wisatawan dapat mengabadikan momen dengan berfoto di samping garasi mobil tersebut.
Di sepanjang dinding area garasi, dipajang puluhan foto dokumentasi keluarga besar Sosrodiharjo dan momen kebersamaan Bung Karno bersama kerabat.
Secara keseluruhan, kawasan cagar budaya Istana Gebang Blitar yang berdiri di atas lahan dua hektar ini menyajikan paket edukasi sejarah yang lengkap, otentik, dan mempesona.
Editor : Muhammad Rusdian Nuzula
Sumber : Arafat Kiki