BLITAR - Istana Gebang, rumah masa kecil Presiden Pertama Republik Indonesia, Ir. Soekarno, yang berlokasi di Kota Blitar, Jawa Timur, terus menarik perhatian pengunjung dengan pesona nilai sejarahnya yang kental. Cagar budaya seluas kurang lebih 1,7 hektar ini menyimpan ribuan koleksi furnitur otentik, peralatan rumah tangga kuno, hingga kendaraan bersejarah milik keluarga sang proklamator.
Bangunan utama Istana Gebang berdiri sejak tahun 1884 dan kini telah berusia sekitar 142 tahun. Rumah bernuansa arsitektur kolonial ini mulanya dimiliki oleh seorang warga Belanda bernama Christian Portier yang menjabat sebagai kepala Stasiun Kereta Api Indonesia (KAI) setempat. Tempat bersejarah ini kemudian dibeli oleh Pemerintah pada tahun 2012 beserta seluruh perabot rumah tangga yang ada di dalamnya.
Memasuki area depan kawasan cagar budaya ini, pengunjung disuguhi pemandangan Gong Perdamaian Dunia yang diletakkan di Kota Blitar pada tahun 2009. Gong tersebut menjadi simbol persaudaraan serta pemersatu umat manusia yang dihiasi oleh bendera berbagai negara di dunia serta deretan simbol keagamaan seperti Islam, Kristen, hingga filosofi Yin dan Yang.
Koleksi Furnitur Klasik di Ruang Tamu dan Ruang Keluarga
Saat melangkah ke ruang tamu Istana Gebang, suasana klasik terasa sangat kuat berkat keberadaan seperangkat perabot kuno yang terjaga keasliannya. Di ruangan ini, terdapat kelompok kursi kayu buatan tahun 1950-an serta satu set kursi di sisi selatan yang dibuat jauh lebih tua, yakni berasal dari tahun 1920.
Dinding ruang tamu juga dihiasi portret dokumentasi bersejarah, seperti foto Bung Karno bersama sang ibunda, Ibu Ida Ayu Nyoman Rai Rimben, yang berasal dari Singaraja, Bali. Selain itu, terpajang foto Bung Karno yang sedang berfoto bersama sang ayahanda, Raden Soekemi Sosrodihardjo, seorang tokoh pendidik asal Tulungagung.
Menuju area ruang keluarga, pengunjung dipamerkan seperangkat kursi kayu buatan tahun 1950-an yang kini telah diberi garis pembatas demi menjaga kelestariannya. Di dinding ruang keluarga ini, terpajang lukisan unik berbahan dasar pasir, potret ayah dan ibu Bung Karno, hingga potret dokumentasi Bung Karno bersama Ibu Fatmawati beserta lima putra-putrinya: Guntur, Megawati, Rahmawati, Sukmawati, dan Guruh.
Kamar Remaja Bung Karno dan Kamar Utama Presiden
Istana Gebang memiliki beberapa kamar tidur dengan interior yang masih dipertahankan sesuai bentuk aslinya. Kamar pertama dan kedua difungsikan sebagai kamar tidur tamu laki-laki dan perempuan yang dilengkapi ranjang besi ori, lemari kayu antik, serta cermin kaca bawaan keluarga.
Di area selanjutnya, terdapat kamar remaja milik Bung Karno yang pernah ditempati sang proklamator saat berusia 16 tahun. Kamar ini kerap dijadikan tempat menginap Bung Karno muda ketika libur sekolah dari Surabaya. Kamar tersebut dihiasi patung bersorak Bali koleksi sang ibunda, serta deretan foto masa muda Bung Karno dan momen salat di Alun-alun Kota Blitar.
Sementara itu, kamar utama yang dikenal sebagai kamar presiden merupakan bekas kamar tidur orang tua Bung Karno. Kamar ini harum oleh wangi Bunga Melati dan menyimpan peninggalan paling berharga berupa tongkat jalan milik Bung Karno dengan pegangan dari gading gajah asli asal India, mesin ketik bermerek Royal buatan tahun 1960, serta ranjang besi asli.
Tempat Musyawarah PETA dan Momen Bersejarah
Di sudut area tengah rumah, terdapat sebuah set meja kayu yang menjadi lokasi favorit Bung Karno untuk duduk bersantai sembari menikmati seduhan kopi hitam. Dari posisi duduk favorit tersebut, Bung Karno dapat memantau seluruh sudut rumah dari berbagai sisi secara jelas.
Lokasi meja ini menyimpan catatan sejarah penting, yakni tempat bermusyawarah antara Bung Karno dan Pahlawan Nasional Supriyadi saat merencanakan aksi pemberontakan Pasukan Pembela Tanah Air (PETA) melawan penjajah. Momen bersejarah ini kini secara rutin diperingati melalui pementasan drama kolosal setiap tanggal 14 Februari di Museum PETA.
Bergeser ke bagian dalam, terdapat ruang makan keluarga yang terhubung langsung dengan area dapur kuno. Area dapur ini dilengkapi peralatan masak tradisional seperti wajan besar pembuat jenang, alat penumbuk jagung atau ketan, hingga tungku masak kayu bakar yang hingga kini masih terawat.
Sumur Tua 30 Meter dan Mobil Mewah Mercedes-Benz
Di area belakang bangunan Istana Gebang, terdapat sebuah sumur tua berkedalaman sekitar 30 meter yang sudah ada sejak rumah pertama kali dibangun. Sumur bersejarah ini menjadi satu dari tujuh sumur di sekitar kawasan rumah yang tidak pernah mengalami kekeringan dan kerap difungsikan pengunjung untuk membasuh muka atau tangan.
Selain sumur tua, kawasan belakang juga menyimpan peninggalan berupa tempat pemanas air (water heater) kuno, batu nisan asli milik ayah Bung Karno sebelum dipindahkan ke Blitar, lampu Petromax, hingga peralatan musik gamelan yang dahulu kerap digunakan untuk latihan karawitan serta pementasan wayang kulit.
Sebagai penutup tur sejarah, di garasi cagar budaya ini terpajang unit mobil sedan Mercedes-Benz tipe 190. Kendaraan dinas keluarga berwarna hitam tersebut pernah digunakan secara khusus untuk menjemput Presiden Soekarno dari Bandara Malang menuju ke Kota Blitar.
Editor : Muhammad Rusdian Nuzula
Sumber : Bang Brew TV