JAKARTA - Wisata Makam Bung Karno Blitar menjadi salah satu destinasi sejarah yang selalu ramai dikunjungi wisatawan dan peziarah dari berbagai daerah. Berlokasi di Jalan Raya Ir. Soekarno Nomor 152, Bendogerit, Kecamatan Sananwetan, Kota Blitar, Jawa Timur, kawasan ini tidak hanya menjadi tempat peristirahatan Presiden pertama Republik Indonesia, tetapi juga menghadirkan museum, perpustakaan, hingga Gong Perdamaian Dunia sebagai sarana edukasi sejarah.
Kompleks Makam Bung Karno berjarak sekitar 2,5 kilometer dari Alun-Alun Kota Blitar atau dapat ditempuh dalam waktu sekitar delapan menit. Hingga kini, kawasan tersebut menjadi salah satu ikon wisata sejarah Kota Blitar yang tidak pernah sepi pengunjung.
Baca Juga: Bonsai Santigi Rp1,5 Miliar Jadi Sorotan, Koleksi Berusia 15 Tahun Ini Curi Perhatian di Pameran
Lokasi dan Akses Menuju Makam Bung Karno
Sesampainya di kawasan makam, pengunjung akan menemukan banyak pedagang bunga untuk keperluan ziarah di depan pintu masuk.
Area parkir kendaraan tersedia cukup luas, baik untuk sepeda motor maupun mobil. Tarif parkir dipatok Rp2.000 untuk motor dan Rp5.000 untuk mobil.
Sementara itu, bus wisata diparkir di lokasi yang berjarak sekitar satu kilometer dari kawasan makam. Bagi pengunjung yang tidak ingin berjalan kaki, tersedia becak dengan tarif Rp15.000 sekali jalan atau Rp25.000 pulang pergi menuju kompleks makam.
Museum Bung Karno Simpan Ribuan Koleksi Bersejarah
Memasuki kawasan dari pintu barat, pengunjung akan disambut patung Bung Karno yang sedang duduk sambil memegang buku.
Di sampingnya berdiri Museum Bung Karno yang dapat dikunjungi secara gratis. Museum ini menyimpan sekitar 2.200 koleksi yang berkaitan dengan kehidupan dan perjuangan sang proklamator.
Koleksi tersebut meliputi lukisan, pakaian, benda pribadi, uang seri Bung Karno, dokumentasi perjalanan hidup, hingga replika naskah Proklamasi Kemerdekaan Republik Indonesia.
Di kawasan museum juga terdapat Rumah Pintar Pemilu Nasional Bung Karno yang menyajikan sejarah penyelenggaraan pemilu di Indonesia sejak Pemilu 1955 hingga Pemilu 2024.
Pengunjung dapat melihat miniatur tempat pemungutan suara, dokumentasi perjalanan pemilu, serta berbagai informasi mengenai perkembangan demokrasi di Indonesia.
Miniatur Rumah Pengasingan Bung Karno
Museum juga menampilkan miniatur rumah pengasingan Bung Karno di beberapa daerah.
Miniatur tersebut menggambarkan rumah pengasingan di Parapat, Bengkulu, Ende, Flores, hingga Berastagi.
Selain itu, tersedia layar sentuh yang memungkinkan pengunjung menyaksikan film dokumenter mengenai perjalanan hidup dan perjuangan Bung Karno.
Berbagai benda pribadi juga dipamerkan, mulai dari koper yang digunakan saat keluar masuk penjara, peci, kacamata hitam, baju safari, jam tangan, pulpen, parfum favorit, hingga meja kerja Bung Karno.
Tak hanya itu, terdapat pula koleksi benda pusaka seperti Gong Kiai Jimat dan Keris Kiai Sekar Jagat.
Relief Perjuangan hingga Gong Perdamaian Dunia
Keluar dari museum, pengunjung akan melewati area pilar yang dihiasi relief perjalanan perjuangan Bung Karno dari masa penjajahan hingga Indonesia merdeka.
Di bagian tengah terdapat kolam ikan yang dapat menjadi tempat bersantai. Pengunjung juga bisa membeli pakan ikan seharga Rp3.000.
Di sisi lain kawasan terdapat amfiteater yang kerap digunakan sebagai lokasi pertunjukan dan berbagai kegiatan masyarakat.
Tak jauh dari sana berdiri Gong Perdamaian Dunia yang menjadi salah satu daya tarik kompleks Makam Bung Karno.
Monumen tersebut dilengkapi simbol berbagai agama serta bendera dari 202 negara sebagai lambang perdamaian dunia.
Tiket Masuk Makam Bung Karno
Sebelum memasuki area makam, pengunjung diwajibkan membeli tiket di sekretariat kompleks makam.
Harga tiket masuk sebesar Rp4.000 per orang.
Tiket tersebut sudah termasuk akses menuju Istana Gebang yang lokasinya berada sekitar 2,5 kilometer dari kompleks Makam Bung Karno.
Pendopo Astono Mulyo dan Area Makam
Area utama kompleks adalah Pendopo Astono Mulyo yang menjadi lokasi makam Bung Karno.
Bangunan setinggi sekitar 15 meter tersebut mengusung arsitektur Joglo khas Jawa dengan atap tembaga berlapis.
Di dalam kawasan makam terdapat tempat istirahat bagi peziarah serta Masjid Raden Soekemi Sosrodihardjo yang namanya diambil dari ayah Bung Karno.
Masjid tersebut dibangun dengan arsitektur bernuansa Jawa.
Makam Bung Karno Berdampingan dengan Orang Tuanya
Bung Karno lahir di Surabaya pada 6 Juni 1901 dan wafat di Jakarta pada 21 Juni 1970.
Melalui Keputusan Presiden Nomor 44 Tahun 1970, Presiden Soeharto menetapkan Bung Karno dimakamkan di Kota Blitar.
Pusara Bung Karno berada berdampingan dengan makam ayahnya, Raden Soekemi Sosrodihardjo, serta ibunya, Ida Ayu Nyoman Rai.
Nisan makam berupa batu pualam hitam berukuran besar yang memuat keterangan mengenai tempat peristirahatan sang proklamator.
Pengunjung yang datang biasanya melakukan doa bersama dan menaburkan bunga di atas pusara Bung Karno.
Pusat Oleh-Oleh Khas Kota Blitar
Setelah selesai berziarah, pengunjung keluar melalui area pasar oleh-oleh.
Di sepanjang jalur tersebut terdapat banyak pelaku UMKM yang menjual berbagai produk khas Kota Blitar.
Mulai dari batik, pakaian, gantungan kunci, kerajinan manik-manik, mainan tradisional, hingga aneka makanan dan camilan khas daerah tersedia sebagai buah tangan.
Dengan perpaduan wisata religi, edukasi, sejarah, dan budaya, Wisata Makam Bung Karno Blitar menjadi destinasi yang tidak hanya menawarkan pengalaman berziarah, tetapi juga memberikan kesempatan bagi masyarakat untuk mengenal lebih dekat perjalanan hidup Presiden pertama Republik Indonesia melalui berbagai koleksi dan fasilitas yang tersedia di kawasan tersebut.
Editor : M. Helmi NurhisamSumber : Dewi Novala