JAKARTA – Fenomena gerhana matahari hibrida akan menghiasi langit Indonesia pada 20 April. Peristiwa langka ini menjadi istimewa karena dalam satu rangkaian gerhana, masyarakat dapat menyaksikan gerhana matahari cincin dan gerhana matahari total secara berurutan, tergantung lokasi pengamatan.
Gerhana matahari hibrida merupakan salah satu jenis gerhana yang paling jarang terjadi. Di Indonesia, fenomena ini dapat diamati secara penuh di sejumlah wilayah timur, sementara sebagian besar daerah lain hanya akan menyaksikan gerhana matahari sebagian.
Peristiwa tersebut diperkirakan mencapai puncaknya pada pukul 11.16.45 WIB dengan durasi fase maksimum sekitar 1 menit 16 detik.
Wilayah Indonesia yang Bisa Menyaksikan Gerhana Matahari Hibrida
Fenomena diawali dengan gerhana matahari cincin, kemudian berubah menjadi gerhana matahari total, sebelum kembali menjadi gerhana matahari cincin dalam waktu yang relatif singkat.
Perbedaan jenis gerhana yang terlihat di setiap lokasi dipengaruhi oleh posisi pengamat terhadap bayangan Bulan.
Daerah yang berada di dalam umbra, yaitu bayangan paling gelap Bulan, akan mengalami gerhana matahari total.
Sementara itu, wilayah yang berada di luar umbra tetapi masih berada pada lintasan tertentu akan menyaksikan gerhana matahari cincin.
Di Indonesia, wilayah yang dapat menikmati gerhana matahari hibrida berada di kawasan timur, meliputi Pulau Kisar, Pulau Moa, Pulau Watubela, Pulau Damar, Biak, dan Fakfak.
Masyarakat di wilayah tersebut berkesempatan menyaksikan fenomena langka yang tidak terjadi setiap tahun.
Sebagian Besar Indonesia Hanya Mengalami Gerhana Matahari Sebagian
Meski jalur gerhana hibrida hanya melintasi sebagian kecil Indonesia timur, hampir seluruh wilayah Indonesia tetap dapat menikmati gerhana matahari sebagian.
Wilayah yang diperkirakan tidak dapat menyaksikan fenomena tersebut adalah Banda Aceh.
Di luar daerah itu, masyarakat masih bisa melihat sebagian piringan Matahari tertutup Bulan dengan persentase yang berbeda-beda.
Baca Juga: Gerhana Matahari: Pengertian, Jenis, Cara Terjadi, hingga Tips Aman Mengamatinya
Fenomena tersebut berlangsung mulai sekitar 09.30 WIB hingga 12.00 WIB, sehingga memiliki durasi pengamatan sekitar dua setengah jam.
Sementara itu, Yogyakarta menjadi salah satu kota yang lebih dahulu mengalami gerhana matahari sebagian dengan cakupan sekitar 52,59 persen.
Sebaliknya, Medan menjadi salah satu kota terakhir yang mengakhiri fenomena tersebut dengan persentase sekitar 3,36 persen.
Perbedaan persentase ini menunjukkan bahwa semakin ke arah barat Indonesia, bagian Matahari yang tertutup Bulan akan semakin kecil.
Jangan Melihat Gerhana Matahari Tanpa Kacamata Khusus
Masyarakat yang ingin menyaksikan gerhana matahari diimbau menggunakan kacamata gerhana atau alat pelindung khusus yang memenuhi standar keamanan.
Melihat Matahari secara langsung tanpa perlindungan yang tepat dapat menyebabkan kerusakan serius pada retina mata.
Penggunaan kacamata hitam biasa tidak cukup untuk melindungi mata saat mengamati gerhana.
Bagi masyarakat yang berada di kawasan timur Indonesia, khususnya di gugusan Kepulauan Laut Banda seperti Kisar maupun kawasan Teluk Cenderawasih seperti Fakfak, fenomena gerhana matahari hibrida menjadi kesempatan langka untuk menyaksikan perubahan dari gerhana cincin menjadi gerhana total secara langsung.
Sementara masyarakat di daerah lain tetap dapat menikmati gerhana matahari sebagian dengan tetap mengutamakan keselamatan selama proses pengamatan.
Fenomena ini menjadi salah satu peristiwa astronomi yang menarik perhatian karena memperlihatkan bagaimana posisi Matahari, Bulan, dan Bumi dapat menghasilkan jenis gerhana yang berbeda dalam satu lintasan yang sama.
Editor : Ahmad Fadhil Gusnaashir