JAKARTA – Lahirnya Pancasila tidak lepas dari perjalanan panjang Bung Karno saat menjalani pengasingan di Ende, Flores, Nusa Tenggara Timur. Gagasan yang kemudian menjadi dasar negara Indonesia itu dipaparkan Soekarno dalam sidang Badan Penyelidik Usaha Persiapan Kemerdekaan Indonesia (BPUPKI) pada 1 Juni 1945 sebagai fondasi bagi Indonesia merdeka.
Dalam pidatonya, Bung Karno menyebut Pancasila sebagai hasil “penggalian” nilai-nilai yang telah hidup di tengah masyarakat Indonesia. Menurutnya, Pancasila bukan sesuatu yang diciptakan secara tiba-tiba, melainkan digali dari kepribadian bangsa.
Konsep tersebut kemudian menjadi tonggak sejarah yang setiap tahun diperingati sebagai Hari Lahir Pancasila.
Dalam pidato yang disampaikan di hadapan sidang BPUPKI, Soekarno mengawali penjelasannya dengan menggambarkan proses menemukan dasar negara sebagai upaya menggali nilai-nilai yang telah lama hidup di Indonesia.
Ia mengatakan telah menggali dari ingatan, pemikiran, hingga khayalannya untuk menemukan dasar yang paling tepat bagi Indonesia merdeka.
“Pancasila yang saya gali dan saya persembahkan kepada rakyat Indonesia benar-benar merupakan dasar yang dinamis,” ujar Bung Karno dalam pidatonya.
Menurutnya, dasar negara tersebut mampu menghimpun seluruh kekuatan rakyat Indonesia sekaligus menjadi pemersatu bangsa yang terdiri atas beragam suku, agama, ras, dan budaya.
Pidato itu disampaikan dalam rangkaian sidang BPUPKI yang berlangsung pada 29 Mei hingga 1 Juni 1945 di bawah pimpinan Radjiman Wedyodiningrat. Sidang tersebut membahas dasar negara yang akan digunakan setelah Indonesia merdeka.
Transkrip juga menjelaskan bahwa cikal bakal lahirnya Pancasila berasal dari masa pengasingan Bung Karno di Ende, Flores, Nusa Tenggara Timur.
Soekarno diasingkan pemerintah kolonial Hindia Belanda pada 14 Januari 1934 hingga 18 Oktober 1938 karena aktivitas politiknya dianggap membahayakan kekuasaan kolonial.
Meski berada jauh dari pusat pergerakan nasional, semangat Bung Karno untuk memperjuangkan kemerdekaan Indonesia tidak pernah surut.
Dalam suasana pengasingan yang penuh kesunyian, ia terus merenungkan masa depan Indonesia. Dari proses perenungan itulah lahir gagasan besar mengenai ideologi negara yang kelak dikenal sebagai Pancasila.
Transkrip menggambarkan bahwa pengasingan justru menjadi momentum penting yang melahirkan konsep pemersatu bangsa Indonesia.
Lebih dari sekadar dasar negara, Pancasila disebut sebagai pedoman kehidupan bermasyarakat, berbangsa, dan bernegara.
Nilai-nilai yang terkandung di dalamnya dinilai mampu merangkul keberagaman masyarakat Indonesia yang majemuk.
Melalui Pancasila, masyarakat diajak hidup berdampingan, saling menghormati, bergotong royong, serta tidak membedakan suku, ras, maupun agama.
Transkrip juga menegaskan bahwa perjalanan lahirnya Pancasila merupakan bagian penting dari sejarah bangsa Indonesia.
Semangat persatuan yang terkandung di dalam lima sila tersebut diharapkan terus menjadi landasan dalam menjaga keutuhan Negara Kesatuan Republik Indonesia.
Sebagaimana disampaikan dalam penutup video, Pancasila tidak hanya menjadi simbol persatuan, tetapi juga menjadi acuan dalam membangun kehidupan berbangsa yang harmonis di tengah keberagaman masyarakat Indonesia.
Editor : Cendikiawan Tristan Valentino