JAKARTA – Pidato Soekarno di PBB menjadi salah satu momen penting dalam sejarah diplomasi Indonesia. Dalam pidatonya, Presiden pertama Republik Indonesia itu memperkenalkan Pancasila sebagai nilai universal yang lahir dari pengalaman bangsa Indonesia, bahkan mengusulkan agar lima sila tersebut menjadi salah satu landasan Piagam Perserikatan Bangsa-Bangsa (PBB).
Gagasan tersebut disampaikan Soekarno saat berbicara di hadapan para pemimpin dunia. Ia menegaskan bahwa Pancasila bukanlah konsep yang diambil dari Manifesto Komunis maupun Deklarasi Kemerdekaan Amerika Serikat, melainkan nilai yang telah hidup di tengah masyarakat Indonesia selama berabad-abad.
Melalui pidato itu, Soekarno memperlihatkan peran Indonesia sebagai negara yang aktif menawarkan gagasan perdamaian dan kerja sama internasional di tengah dinamika politik global.
Dalam pembukaan pidatonya, Soekarno menegaskan bahwa dirinya hadir bukan hanya sebagai Presiden Indonesia, tetapi juga sebagai seorang manusia, suami, ayah, dan bagian dari keluarga besar umat manusia.
Pendekatan tersebut menjadi pengantar sebelum ia menjelaskan filosofi Pancasila kepada para delegasi dari berbagai negara.
“Soekarno menyebut Pancasila atau the five pillars of our state sebagai dasar negara Indonesia yang lahir dari nilai-nilai yang telah lama hidup di tengah rakyat Indonesia.”
Ia menegaskan lima sila tersebut tidak berasal dari ideologi asing.
“These five pillars do not spring directly from either the Communist Manifesto nor the Declaration of Independence.”
Menurut Soekarno, Pancasila merupakan cita-cita yang telah lama tertanam dalam kehidupan bangsa Indonesia dan menjadi fondasi berdirinya negara.
Dalam bagian utama pidatonya, Soekarno menyampaikan keyakinannya bahwa Pancasila tidak hanya relevan bagi Indonesia, tetapi juga dapat menjadi pedoman bagi masyarakat internasional.
Ia menyatakan bahwa apabila prinsip-prinsip Pancasila diadopsi sebagai salah satu dasar Piagam PBB, organisasi tersebut akan semakin kuat menghadapi tantangan masa depan.
“I firmly believe that the adoption of those principles would strengthen the United Nations.”
Soekarno juga mengatakan penerapan Pancasila akan membawa PBB lebih selaras dengan perkembangan dunia yang terus berubah.
Menurutnya, organisasi internasional itu akan lebih siap menghadapi masa depan apabila menjadikan nilai kemanusiaan, persatuan, musyawarah, keadilan sosial, dan penghormatan terhadap sesama sebagai fondasi bersama.
Pidato tersebut memperlihatkan kemampuan diplomasi Soekarno dalam membawa identitas dan nilai bangsa Indonesia ke forum internasional.
Alih-alih hanya membahas kepentingan nasional, ia menawarkan sebuah gagasan yang ditujukan bagi seluruh umat manusia.
Di akhir pidatonya, Soekarno kembali menegaskan keyakinannya bahwa Pancasila dapat memperkuat Piagam PBB dan membuat organisasi itu lebih mampu menjawab tantangan zaman.
Pernyataannya disambut tepuk tangan para hadirin yang memenuhi ruang sidang, menandai besarnya perhatian terhadap gagasan yang disampaikan Indonesia di panggung dunia.
Pidato tersebut hingga kini dikenang sebagai salah satu momen penting yang menunjukkan bagaimana Indonesia, melalui Soekarno, memperkenalkan Pancasila sebagai filosofi yang tidak hanya menjadi dasar negara, tetapi juga ditawarkan sebagai nilai universal bagi perdamaian dan kerja sama antarbangsa.
Editor : Cendikiawan Tristan Valentino