JAKARTA – Sosok Soekarno selalu menghadirkan dua pandangan yang berbeda di tengah masyarakat. Di satu sisi, ia dikenang sebagai Proklamator Kemerdekaan Republik Indonesia yang berhasil membawa bangsa ini keluar dari belenggu penjajahan. Namun di sisi lain, perjalanan politiknya juga menyisakan kontroversi, terutama ketika memutuskan bekerja sama dengan Jepang pada masa Perang Dunia II.
Keputusan itu membuat Soekarno kerap mendapat cap sebagai kolaborator Jepang. Bahkan, ia juga dituding ikut bertanggung jawab atas kebijakan romusha atau kerja paksa yang menelan banyak korban jiwa. Meski demikian, perjalanan hidup Soekarno menunjukkan bahwa setiap langkah yang diambil lahir dari situasi politik yang sangat rumit dan penuh tekanan.
Perjalanan panjang Soekarno menuju kemerdekaan Indonesia dimulai sejak usia muda. Lahir di Surabaya pada 6 Juni 1901, Soekarno tumbuh di lingkungan keluarga yang memberinya kesempatan mengenyam pendidikan Barat. Kesempatan tersebut membuka wawasannya mengenai kolonialisme, nasionalisme, hingga berbagai ide perjuangan yang berkembang di dunia.
Awal Munculnya Jiwa Nasionalisme
Saat remaja, Soekarno tinggal di rumah H.O.S. Tjokroaminoto di Surabaya. Di tempat itulah ia bertemu banyak tokoh pergerakan nasional yang kelak menjadi pemimpin penting Indonesia. Diskusi-diskusi politik yang berlangsung hampir setiap hari membentuk karakter Soekarno sebagai seorang orator sekaligus pemikir muda.
Selain aktif mengikuti organisasi, Soekarno juga gemar menulis mengenai ketidakadilan yang dialami rakyat pribumi. Pengalamannya menyaksikan langsung diskriminasi Belanda semakin memperkuat tekadnya untuk memperjuangkan kemerdekaan Indonesia.
Ketika melanjutkan pendidikan di Bandung, Soekarno semakin aktif dalam dunia pergerakan. Ia mendirikan Algemene Studie Club yang menjadi wadah diskusi bagi kaum muda. Dari pertemuannya dengan seorang petani bernama Marhaen, lahirlah gagasan Marhaenisme yang kemudian menjadi salah satu dasar pemikirannya dalam memperjuangkan rakyat kecil.
Lahirnya PNI dan Indonesia Menggugat
Semangat perjuangan Soekarno semakin terlihat saat mendirikan Partai Nasional Indonesia (PNI) pada 1927. Organisasi ini mengusung perjuangan nonkooperatif terhadap pemerintah kolonial Belanda dan berhasil menarik perhatian banyak kalangan.
Popularitas PNI yang terus meningkat membuat pemerintah Hindia Belanda mulai merasa terancam. Pada akhir 1929, Soekarno ditangkap bersama sejumlah rekannya dan dipenjara di Bandung.
Dalam persidangan, Soekarno menyampaikan pidato pembelaan berjudul Indonesia Menggugat. Pidato tersebut menjadi salah satu dokumen penting dalam sejarah perjuangan nasional karena memaparkan kritik keras terhadap praktik kolonialisme Belanda.
Meski sempat dipenjara, semangat perjuangan Soekarno tidak pernah surut. Setelah bebas, ia kembali aktif membangun kekuatan politik hingga akhirnya diasingkan ke Ende, Flores, kemudian dipindahkan ke Bengkulu.
Masa Pendudukan Jepang Jadi Titik Kontroversi
Ketika Jepang menguasai Indonesia pada 1942, Soekarno menghadapi dilema besar. Jepang menawarkan kerja sama kepada para pemimpin nasional dengan janji akan memberikan kemerdekaan kepada Indonesia di kemudian hari.
Di tengah tekanan militer Jepang yang terkenal keras, Soekarno memilih bekerja sama. Keputusan itu didukung sejumlah tokoh nasional seperti Mohammad Hatta, Ki Hajar Dewantara, dan KH Mas Mansur. Namun, sebagian golongan muda, termasuk Sutan Sjahrir, menolak langkah tersebut.
Salah satu kebijakan paling kontroversial pada masa itu adalah program romusha atau kerja paksa. Soekarno menyadari kebijakan tersebut menimbulkan penderitaan besar. Namun menurut pandangannya, penolakan secara terbuka terhadap Jepang justru dikhawatirkan akan memicu pembantaian yang lebih luas terhadap rakyat Indonesia.
Di sisi lain, Soekarno juga memanfaatkan hubungan dengan Jepang untuk memperoleh ruang bagi bangsa Indonesia membangun organisasi, melatih pemuda melalui PETA, hingga mempersiapkan perangkat menuju kemerdekaan.
Proklamasi Jadi Puncak Perjuangan
Kekalahan Jepang dalam Perang Dunia II membuka peluang besar bagi bangsa Indonesia. Setelah melalui berbagai perdebatan dengan golongan muda, termasuk peristiwa Rengasdengklok, Soekarno dan Mohammad Hatta akhirnya memproklamasikan kemerdekaan Indonesia pada 17 Agustus 1945.
Proklamasi tersebut menjadi titik balik sejarah bangsa Indonesia setelah ratusan tahun berada di bawah penjajahan. Meski demikian, perjuangan Soekarno tidak berhenti pada hari itu. Ia masih harus menghadapi upaya Belanda yang ingin kembali menguasai Indonesia, sekaligus memimpin negara yang baru lahir di tengah berbagai tantangan politik.
Hingga kini, sosok Soekarno tetap menjadi salah satu tokoh paling berpengaruh dalam sejarah Indonesia. Di balik keberhasilannya memimpin bangsa menuju kemerdekaan, perjalanan hidupnya juga menyimpan berbagai keputusan yang terus menjadi bahan perdebatan para sejarawan. Kombinasi antara keberanian, kecerdasan politik, serta kontroversi itulah yang menjadikan kisah perjuangan Soekarno selalu menarik untuk dikaji dari berbagai sudut pandang.
Editor : M. Helmi NurhisamSumber : Matahatipemuda