Soekarno dan Kemerdekaan Indonesia: Kontroversi Romusha hingga Lahirnya Proklamasi 17 Agustus 1945

M. Helmi Nurhisam • Dipublikasikan Jumat, 7 Agustus 2026 | 17:50 WIB
Soekarno dan kemerdekaan Indonesia menjadi kisah penuh kontroversi. Simak perjalanan Bung Karno dari masa muda, Romusha, hingga Proklamasi 17 Agustus 1945. (Pinterest)
Soekarno dan kemerdekaan Indonesia menjadi kisah penuh kontroversi. Simak perjalanan Bung Karno dari masa muda, Romusha, hingga Proklamasi 17 Agustus 1945. (Pinterest)

JAKARTA – Nama Soekarno tidak pernah lepas dari sejarah lahirnya Republik Indonesia. Sosok yang dikenal sebagai Proklamator Kemerdekaan itu dipuji karena keberhasilannya memimpin bangsa menuju kemerdekaan pada 17 Agustus 1945. Namun, perjalanan hidupnya juga dipenuhi berbagai keputusan yang hingga kini masih memunculkan perdebatan, terutama terkait kerja samanya dengan Jepang selama masa pendudukan.

Di balik gelar sebagai bapak bangsa, Soekarno pernah mendapat tudingan sebagai kolaborator Jepang. Ia juga dikaitkan dengan pelaksanaan program romusha yang menyebabkan banyak rakyat Indonesia menjadi korban. Meski demikian, berbagai keputusan tersebut diambil di tengah situasi perang yang sangat sulit, ketika pilihan yang tersedia sama-sama memiliki risiko besar bagi masa depan bangsa.

Perjalanan panjang Soekarno membangun Indonesia tidak berlangsung dalam waktu singkat. Sejak usia muda, ia telah menunjukkan karakter sebagai pribadi yang berani menyuarakan perlawanan terhadap kolonialisme dan bercita-cita membebaskan rakyat Indonesia dari penjajahan.

Baca Juga: BPS: Ekonomi Indonesia Kuartal II 2026 Tumbuh Ditopang Konsumsi Rumah Tangga dan Investasi

Pendidikan Membentuk Jiwa Perjuangan

Lahir di Surabaya pada 6 Juni 1901, Soekarno memperoleh kesempatan mengenyam pendidikan di sekolah Belanda. Kesempatan itu membuatnya mengenal berbagai pemikiran politik modern yang kemudian membentuk pandangannya mengenai nasionalisme, demokrasi, hingga perjuangan kemerdekaan.

Saat tinggal di rumah H.O.S. Tjokroaminoto di Surabaya, Soekarno semakin akrab dengan dunia pergerakan. Rumah tersebut menjadi tempat berkumpul para tokoh yang aktif berdiskusi mengenai masa depan bangsa Indonesia. Dari lingkungan itulah kemampuan berpikir kritis dan kepiawaian Soekarno dalam berpidato mulai berkembang.

Memasuki masa kuliah di Bandung, Soekarno semakin aktif mengikuti berbagai kegiatan politik. Ia banyak menulis kritik terhadap sistem kolonial Belanda dan mulai dikenal sebagai tokoh muda yang vokal menyuarakan kemerdekaan.

Marhaenisme dan Lahirnya PNI

Salah satu pengalaman penting yang membentuk pemikiran Soekarno adalah pertemuannya dengan seorang petani bernama Marhaen. Dari kisah hidup petani tersebut, Soekarno merumuskan konsep Marhaenisme yang menitikberatkan pada perjuangan rakyat kecil melawan penindasan ekonomi dan kolonialisme.

Pada 1927, Soekarno bersama sejumlah rekannya mendirikan Partai Nasional Indonesia (PNI). Organisasi ini mengusung semangat persatuan bangsa melalui perjuangan politik tanpa bekerja sama dengan pemerintah kolonial.

Keberadaan PNI berkembang sangat pesat hingga menarik perhatian pemerintah Hindia Belanda. Akibat aktivitas politiknya, Soekarno ditangkap dan menjalani persidangan yang kemudian melahirkan pidato legendaris Indonesia Menggugat. Pidato tersebut menjadi simbol perlawanan terhadap praktik penjajahan Belanda.

Pengasingan Tak Memadamkan Semangat

Setelah keluar dari penjara, Soekarno kembali aktif menggerakkan perjuangan. Namun pemerintah kolonial memilih mengasingkannya ke Ende, Flores, kemudian dipindahkan ke Bengkulu.

Masa pengasingan justru menjadi periode penting dalam perjalanan hidupnya. Di Ende, Soekarno banyak merenung mengenai konsep dasar negara Indonesia. Sementara di Bengkulu, ia aktif mengajar di sekolah Muhammadiyah dan bertemu Fatmawati yang kemudian menjadi pendamping hidupnya.

Dilema Kerja Sama dengan Jepang

Ketika Jepang menduduki Indonesia pada 1942, kondisi politik berubah drastis. Soekarno dihadapkan pada pilihan sulit antara melakukan perlawanan terbuka atau memanfaatkan Jepang untuk mempercepat kemerdekaan Indonesia.

Ia akhirnya memilih bekerja sama dengan pemerintah pendudukan Jepang. Langkah tersebut didukung Mohammad Hatta, Ki Hajar Dewantara, serta beberapa tokoh nasional lainnya, tetapi ditentang kelompok pemuda yang dipimpin Sutan Sjahrir.

Keputusan itu menjadi salah satu bab paling kontroversial dalam sejarah Soekarno. Program romusha yang dijalankan Jepang membuat banyak rakyat Indonesia dipaksa bekerja hingga kehilangan nyawa. Meski demikian, Soekarno memandang kerja sama tersebut sebagai strategi untuk menghindari korban yang lebih besar sekaligus membuka peluang mempersiapkan kemerdekaan.

Pada masa inilah Jepang juga membentuk berbagai organisasi yang kemudian dimanfaatkan para pemimpin Indonesia untuk memperkuat persiapan menuju negara merdeka, termasuk pembentukan PETA sebagai cikal bakal kekuatan militer nasional.

Mengantarkan Indonesia Menuju Kemerdekaan

Situasi berubah ketika Jepang mengalami kekalahan dalam Perang Dunia II. Setelah melalui berbagai dinamika politik, termasuk peristiwa Rengasdengklok, Soekarno bersama Mohammad Hatta memproklamasikan kemerdekaan Indonesia pada 17 Agustus 1945.

Momentum tersebut menjadi puncak perjuangan panjang yang telah dirintis sejak masa muda. Namun, proklamasi bukanlah akhir dari perjuangan Soekarno. Ia masih harus menghadapi upaya Belanda yang ingin kembali menguasai Indonesia serta membangun pemerintahan di negara yang baru lahir.

Hingga kini, perjalanan hidup Soekarno tetap menjadi salah satu kisah paling menarik dalam sejarah Indonesia. Di balik keberhasilannya mengantarkan bangsa menuju kemerdekaan, berbagai keputusan politik yang diambilnya terus menjadi bahan kajian dan perdebatan, menjadikan sosoknya dikenang sebagai pemimpin besar dengan perjalanan hidup yang penuh dinamika.

Editor : M. Helmi Nurhisam
Sumber : Matahatipemuda
Proklamasi 17 Agustus 1945 kemerdekaan indonesia ROMUSHA soekarno pancasila