MEKKAH - Pelaksanaan ibadah haji memiliki sejumlah tahapan yang harus dijalankan jamaah sesuai ketentuan. Mulai dari mengenakan ihram dan berniat, menuju Arafah untuk wukuf, bermalam di Muzdalifah, hingga menjalankan rangkaian ibadah di Mina dan Jamarat.
Pelaksanaan ibadah haji membutuhkan persiapan fisik dan pemahaman yang baik. Jamaah tidak hanya dituntut mengetahui rukun haji, tetapi juga wajib haji dan berbagai larangan ihram agar rangkaian ibadah dapat dijalankan dengan tertib.
Pelaksanaan ibadah haji mencapai salah satu tahapan penting ketika jamaah berada di Arafah. Wukuf pada 9 Zulhijah menjadi bagian utama yang tidak boleh dilewatkan. Setelah wukuf, jamaah bergerak menuju Muzdalifah dan kemudian Mina untuk melanjutkan rangkaian berikutnya.
Baca Juga: Perluas TPA Ngegong, DLH Kota Blitar Siap Gandeng Kejaksaan, Ini Alasannya
Memulai Perjalanan dengan Ihram
Sebelum bergerak menuju Arafah, jamaah terlebih dahulu mempersiapkan diri dengan mengenakan pakaian ihram dan melakukan niat haji. Jamaah biasanya diberangkatkan dari hotel menggunakan bus sesuai rombongan masing-masing.
Tanggal 8 Zulhijah menjadi awal perjalanan jamaah menuju Arafah. Ada jamaah yang berangkat pagi, siang, sore, maupun malam, tergantung pengaturan perjalanan yang telah ditetapkan.
Sejak berniat ihram, jamaah harus memperhatikan sejumlah larangan. Di antaranya menggunakan wewangian, memotong kuku, mencabut rambut atau bulu, serta menutup kepala bagi jamaah laki-laki.
Jamaah juga dilarang melakukan perburuan binatang darat di kawasan yang ditentukan dan melakukan sejumlah aktivitas lain yang bertentangan dengan ketentuan ihram.
Wukuf di Arafah
Setelah tiba di Arafah, jamaah menempati tenda yang telah disediakan. Wukuf dilaksanakan pada 9 Zulhijah setelah matahari tergelincir hingga matahari terbenam.
Wukuf menjadi salah satu rukun haji yang sangat penting. Karena itu, jamaah harus memastikan berada di kawasan Arafah ketika waktu wukuf berlangsung.
Selama wukuf, jamaah dapat memperbanyak doa, zikir, membaca Al-Qur'an, dan mengikuti khutbah serta rangkaian ibadah yang telah disiapkan.
Posisi jamaah juga perlu diperhatikan. Area Arafah memiliki batas yang jelas sehingga jamaah harus memastikan dirinya berada di dalam kawasan tersebut ketika melaksanakan wukuf.
Lanjut ke Muzdalifah
Setelah rangkaian wukuf selesai, jamaah bergerak menuju Muzdalifah. Perjalanan dilakukan setelah matahari terbenam dan menjadi bagian dari rangkaian perjalanan menuju Mina.
Di Muzdalifah, jamaah melaksanakan mabit atau bermalam. Tempat ini juga menjadi salah satu lokasi jamaah dapat mengambil kerikil untuk kebutuhan lempar jumrah.
Kerikil yang dikumpulkan kemudian digunakan saat jamaah melaksanakan lempar jumrah di Jamarat. Jamaah perlu mempersiapkan jumlah kerikil sesuai kebutuhan rangkaian ibadah.
Setelah menyelesaikan mabit, jamaah kemudian bergerak menuju Mina untuk menempati tenda yang sudah ditentukan.
Mina Jadi Tempat Tinggal Jamaah
Mina menjadi salah satu kawasan yang paling lama ditempati jamaah selama rangkaian haji. Jamaah yang mengambil nafar awal biasanya berada di Mina pada 10, 11, dan 12 Zulhijah.
Sementara itu, jamaah yang mengambil nafar tsani melanjutkan keberadaannya hingga 13 Zulhijah.
Pada 10 Zulhijah, jamaah melaksanakan lempar Jumrah Aqabah sebanyak tujuh kali. Selanjutnya pada 11 dan 12 Zulhijah, jamaah melempar tiga jumrah, yaitu Jumrah Ula, Wustha, dan Aqabah.
Jarak dari tenda menuju Jamarat cukup jauh. Jamaah harus berjalan melalui jalur yang telah ditentukan, sehingga kondisi fisik menjadi salah satu hal yang harus diperhatikan.
Bagi jamaah lanjut usia atau yang memiliki keterbatasan fisik, perjalanan tersebut dapat menjadi tantangan. Karena itu, jamaah dianjurkan mengikuti arahan petugas dan tidak memaksakan kondisi tubuh.
Kembali ke Masjidil Haram
Setelah menyelesaikan rangkaian di Mina, jamaah melanjutkan ibadah ke Masjidil Haram. Salah satu rangkaian yang dilakukan adalah tawaf ifadah sebanyak tujuh putaran.
Setelah tawaf, jamaah melaksanakan sai sebanyak tujuh kali perjalanan antara Safa dan Marwah. Rangkaian tersebut menjadi bagian penting dalam penyelesaian ibadah haji.
Secara keseluruhan, perjalanan haji memiliki tahapan yang saling berkaitan. Mulai dari ihram, Arafah, Muzdalifah, Mina, Jamarat, hingga kembali ke Masjidil Haram.
Dengan memahami urutan dan ketentuan setiap tahapan, jamaah diharapkan dapat menjalankan pelaksanaan ibadah haji dengan lebih tertib. Persiapan fisik, pemahaman manasik, serta kepatuhan terhadap arahan petugas juga menjadi bekal penting selama berada di Tanah Suci.
Editor : M. Helmi NurhisamSumber : MAS AWIEE