JAKARTA - Sejarah perjuangan Indonesia tidak bisa dilepaskan dari panjangnya masa kolonialisme di Nusantara. Kedatangan bangsa Eropa yang awalnya bertujuan mencari rempah-rempah perlahan berubah menjadi upaya menguasai perdagangan, wilayah, hingga sumber daya alam.
Baca Juga: Sejarah dan Perjalanan Negara Indonesia Dari Sriwijaya, Majapahit hingga Merdeka
Sejarah perjuangan Indonesia mencatat Belanda bukan datang ke Nusantara sejak awal dengan tujuan menjajah. Mereka datang sebagai pedagang yang tertarik pada kekayaan rempah-rempah. Namun, persaingan dagang dan ambisi memperoleh keuntungan membuat aktivitas perdagangan berkembang menjadi penguasaan wilayah.
Perubahan tersebut semakin kuat setelah Vereenigde Oostindische Compagnie (VOC) memperoleh hak istimewa dari pemerintah Belanda. Dengan hak oktroi, VOC dapat memiliki tentara, membangun benteng, mencetak uang, melakukan peperangan, hingga membuat perjanjian dengan penguasa lokal.
Dari Perdagangan Menjadi Kolonialisme
Nusantara pada masa itu bukan wilayah tanpa pemerintahan. Berbagai kerajaan telah berdiri dan memiliki kekuasaan masing-masing. Namun, kedatangan bangsa Eropa membawa persaingan baru. Monopoli perdagangan menjadi salah satu strategi utama untuk menguasai wilayah penghasil komoditas.
Rempah-rempah seperti cengkih dan pala menjadi komoditas bernilai tinggi di pasar internasional. Belanda berusaha memastikan hasil bumi tersebut hanya diperdagangkan melalui jaringan mereka. Penguasaan jalur perdagangan kemudian berkembang menjadi penguasaan politik dan militer.
VOC yang didirikan pada 1602 secara bertahap memperluas pengaruhnya. Batavia menjadi salah satu pusat kekuasaan penting setelah berhasil dikuasai Belanda. Dari wilayah tersebut, VOC memperkuat kedudukannya dan menghadapi berbagai kerajaan Nusantara.
Sultan Agung Menantang VOC di Batavia
Salah satu perlawanan penting datang dari Sultan Agung, raja Mataram yang memerintah pada 1613 hingga 1646. Ia memiliki ambisi menyatukan wilayah Jawa dan memandang keberadaan VOC di Batavia sebagai ancaman.
Sultan Agung kemudian mengirim pasukan untuk menyerang Batavia. Serangan pertama dimulai pada 22 Agustus 1628 dengan mengerahkan ribuan prajurit dari berbagai wilayah.
Pasukan Mataram sempat berhasil merebut sejumlah benteng kecil di sekitar Batavia. Namun, mereka menghadapi persoalan besar berupa persediaan makanan, penyakit, dan sistem pertahanan VOC.
Strategi membendung Sungai Ciliwung juga tidak menghasilkan kemenangan yang diharapkan. Pasukan Mataram akhirnya mundur setelah mengalami kekurangan pangan dan banyak prajurit gugur.
Setahun kemudian, Sultan Agung kembali melancarkan serangan. Kali ini persiapan logistik dibuat lebih matang dengan menyiapkan lumbung padi di Tegal dan Cirebon. Namun, VOC menghancurkan persediaan tersebut sebelum dapat dimanfaatkan. Serangan kedua pun kembali gagal.
VOC Bangkrut, Penjajahan Berlanjut
Kekuasaan VOC terus berkembang hingga mencapai puncak kejayaan sebagai salah satu perusahaan dagang terbesar pada abad ke-17. Namun, korupsi, konflik, dan beban birokrasi membuat VOC mengalami kebangkrutan.
Pada 1799, VOC resmi dibubarkan. Aset dan wilayah kekuasaannya kemudian diambil alih pemerintah Belanda. Berakhirnya VOC ternyata tidak mengakhiri kolonialisme. Pemerintah Hindia Belanda justru melanjutkan berbagai bentuk penguasaan dan eksploitasi di Nusantara.
Perlawanan rakyat pun muncul di berbagai daerah. Salah satu yang terbesar adalah Perang Jawa atau Perang Diponegoro pada 1825-1830.
Baca Juga: Sejarah dan Perjalanan Negara Indonesia, Jejak Panjang dari Homo Erectus hingga Majapahit
Perang Diponegoro Menjadi Perlawanan Besar
Pangeran Diponegoro memimpin perlawanan terhadap Belanda dari lingkungan Kesultanan Yogyakarta. Perang berlangsung selama lima tahun dan melibatkan dukungan luas dari masyarakat.
Belanda menghadapi perlawanan sengit hingga harus mengeluarkan biaya besar. Berbagai strategi digunakan untuk melemahkan pasukan Diponegoro, termasuk politik adu domba dan tipu muslihat.
Pada 1830, Pangeran Diponegoro akhirnya ditangkap di Magelang ketika menghadiri perundingan. Ia kemudian diasingkan ke Sulawesi hingga wafat.
Rangkaian peristiwa tersebut menjadi bagian penting dari sejarah perjuangan Indonesia. Dari perebutan rempah-rempah, monopoli VOC, perlawanan Sultan Agung, hingga Perang Diponegoro, perjuangan rakyat menunjukkan bahwa kolonialisme selalu mendapat perlawanan dari berbagai daerah di Nusantara.
Editor : Muhammad Rusdian Nuzula
Sumber : Islamic Youthcare Indonesia