Sejarah TNI dan Perjalanan Panjangnya, Berawal dari Pasukan Rakyat hingga Menjadi Penjaga NKRI

Muhammad Rusdian Nuzula • Dipublikasikan Selasa, 18 Agustus 2026 | 17:55 WIB
Sejarah TNI penuh perjuangan, dari BKR dan TKR hingga menjadi kekuatan pertahanan NKRI. Simak kisah lengkapnya dan fakta penting di baliknya. (PINTEREST)
Sejarah TNI penuh perjuangan, dari BKR dan TKR hingga menjadi kekuatan pertahanan NKRI. Simak kisah lengkapnya dan fakta penting di baliknya. (PINTEREST)

JAKARTA - Sejarah TNI menyimpan perjalanan panjang yang tidak bisa dilepaskan dari perjuangan mempertahankan kemerdekaan Indonesia. Jauh sebelum memiliki alutsista modern, tentara Indonesia tumbuh dari rakyat yang belajar bertempur, mengorganisasi kekuatan, dan mempertahankan wilayah Republik dengan persenjataan terbatas.

Sejarah TNI juga bermula dari situasi Indonesia setelah Proklamasi Kemerdekaan 17 Agustus 1945. Saat itu, negara yang baru berdiri menghadapi ancaman dari berbagai arah. Jepang masih berada di sejumlah wilayah, sementara kedatangan Sekutu membuka peluang bagi Belanda untuk kembali menguasai Indonesia.

Karena itu, sejarah TNI tidak hanya berbicara mengenai pembentukan sebuah institusi militer. Di dalamnya terdapat kisah tentang pemuda, laskar rakyat, bekas anggota organisasi militer, hingga tokoh-tokoh yang kemudian menjadi bagian penting dalam perjuangan mempertahankan kedaulatan Indonesia.

Baca Juga: Hayden Panettiere Tutup Usia di 36 Tahun, Polisi Ungkap Fakta Awal Kematian Sang Aktris Hollywood

Pengalaman Militer Sebelum Kemerdekaan

Sebelum Indonesia merdeka, masyarakat pribumi telah bersentuhan dengan dunia kemiliteran melalui KNIL atau Koninklijk Nederlands-Indisch Leger. Pasukan tersebut dibentuk pemerintah kolonial Belanda untuk mempertahankan kepentingan Hindia Belanda.

Situasi berubah ketika Jepang menduduki Indonesia pada 1942. Jepang membentuk sejumlah organisasi militer dan semi-militer untuk mendukung kepentingan perangnya. Salah satu yang paling berpengaruh bagi perkembangan militer Indonesia adalah Pembela Tanah Air atau PETA.

Para pemuda yang bergabung dalam PETA mendapatkan pelatihan mengenai kedisiplinan, organisasi pasukan, strategi, dan penggunaan senjata. Setelah Indonesia merdeka, pengalaman tersebut menjadi modal bagi terbentuknya kekuatan bersenjata Republik.

Jenderal Soedirman merupakan salah satu tokoh yang memiliki latar belakang PETA. Kelak, ia dikenal sebagai Panglima Besar yang memimpin perjuangan gerilya menghadapi Belanda.

BKR Menjadi TKR

Setelah Proklamasi, pemerintah Indonesia tidak langsung membentuk tentara reguler. Pada 23 Agustus 1945, dibentuk Badan Keamanan Rakyat atau BKR. Organisasi ini bertugas menjaga keamanan dan menjadi wadah bagi berbagai unsur perjuangan bersenjata.

Namun, situasi politik dan keamanan berkembang semakin cepat. Ancaman kedatangan Belanda membuat kebutuhan terhadap tentara resmi semakin mendesak.

Pada 5 Oktober 1945, pemerintah mengumumkan pembentukan Tentara Keamanan Rakyat atau TKR. Momentum tersebut kemudian menjadi dasar peringatan Hari TNI setiap 5 Oktober.

TKR pada masa awal masih jauh dari kondisi militer modern. Para prajurit menggunakan persenjataan hasil rampasan dari Jepang, senjata sederhana, bahkan perlengkapan seadanya. Akan tetapi, keterbatasan tersebut tidak menghilangkan semangat mempertahankan kemerdekaan.

Pada 1946, TKR kemudian berubah menjadi Tentara Republik Indonesia atau TRI. Pemerintah terus berupaya menyatukan berbagai kelompok bersenjata agar perjuangan mempertahankan Republik memiliki struktur komando yang lebih jelas.

TNI Lahir di Tengah Perang Kemerdekaan

Tanggal 3 Juni 1947 menjadi salah satu titik penting dalam sejarah militer Indonesia. Pemerintah menyatukan TRI dengan berbagai laskar perjuangan dan menetapkan Tentara Nasional Indonesia atau TNI sebagai tentara nasional.

Pembentukan TNI berlangsung ketika Indonesia masih menghadapi tekanan Belanda. Agresi Militer Belanda I dan II menjadi ujian berat bagi kekuatan Republik.

Dengan keterbatasan persenjataan, TNI menggunakan strategi perang gerilya. Pasukan bergerak dari satu tempat ke tempat lain, memanfaatkan dukungan masyarakat dan kondisi geografis Indonesia.

Jenderal Soedirman menjadi salah satu simbol utama perjuangan tersebut. Dalam keadaan sakit, ia tetap memimpin perang gerilya. Perjuangan itu memperlihatkan bahwa kekuatan Republik belum hilang meskipun sejumlah kota berhasil dikuasai Belanda.

Serangan Umum 1 Maret 1949 di Yogyakarta kemudian menjadi salah satu momentum penting. Keberhasilan pasukan Republik menguasai Yogyakarta selama beberapa jam memberikan pesan kepada dunia internasional bahwa Republik Indonesia masih bertahan.

Baca Juga: Hayden Panettiere Tutup Usia di 36 Tahun, Polisi Ungkap Fakta Awal Kematian Sang Aktris Hollywood

Menghadapi Berbagai Ancaman Setelah Merdeka

Setelah pengakuan kedaulatan pada 1949, tugas TNI tidak langsung berakhir. Indonesia menghadapi berbagai pemberontakan dan konflik, termasuk DI/TII, PRRI, Permesta, serta persoalan integrasi wilayah.

TNI juga terlibat dalam upaya merebut Irian Barat dari Belanda melalui Operasi Trikora. Selain itu, pada periode 1963-1966, Indonesia menghadapi Konfrontasi Malaysia yang turut melibatkan kekuatan militer.

Memasuki era Reformasi, peran TNI kembali mengalami perubahan. Dwifungsi ABRI dihapus dan keterlibatan politik militer dikurangi. TNI kemudian diarahkan untuk lebih fokus menjalankan fungsi pertahanan negara.

Tiga Matra TNI di Era Modern

Saat ini TNI terdiri atas TNI Angkatan Darat, TNI Angkatan Laut, dan TNI Angkatan Udara. Ketiganya memiliki tanggung jawab berbeda dalam menjaga kedaulatan wilayah Indonesia.

Tantangan yang dihadapi juga semakin beragam. Selain ancaman militer konvensional, terdapat persoalan keamanan perbatasan, terorisme, kejahatan siber, penyelundupan, pelanggaran wilayah, hingga kebutuhan bantuan dalam penanggulangan bencana.

Perjalanan sejarah TNI menunjukkan perubahan besar dari kekuatan rakyat bersenjata sederhana menjadi institusi pertahanan negara. Meski zaman berubah, tugas utamanya tetap berkaitan dengan menjaga kedaulatan, mempertahankan keutuhan wilayah NKRI, serta melindungi bangsa Indonesia.

 

Editor : Muhammad Rusdian Nuzula
Sumber : Teluk Bone
Sejarah TNI BKR TKR sejarah kemerdekaan Indonesia Tentara Nasional Indonesia