Gempa NTT M 7,7 Picu 2.119 Gempa Susulan, Pakar Ungkap Kapan Mereda

Muhammad Rusdian Nuzula • Dipublikasikan Jumat, 21 Agustus 2026 | 16:20 WIB
Gempa NTT hari ini masih diikuti ribuan gempa susulan. Pakar menjelaskan penyebab dan memperkirakan aktivitas dapat berlangsung 2-3 minggu. (PINTEREST)
Gempa NTT hari ini masih diikuti ribuan gempa susulan. Pakar menjelaskan penyebab dan memperkirakan aktivitas dapat berlangsung 2-3 minggu. (PINTEREST)

JAKARTA - Gempa NTT hari ini masih dibayangi aktivitas gempa susulan setelah gempa magnitudo 7,7 mengguncang wilayah Nusa Tenggara Timur pada Sabtu, 15 Agustus 2026. Berdasarkan informasi dalam tayangan televisi yang bersumber dari data BMKG, tercatat sekitar 2.119 gempa susulan di wilayah tersebut.

Gempa utama yang berpusat di Nagekeo itu berdampak ke sejumlah wilayah NTT. Guncangan dilaporkan terasa di Kabupaten Manggarai, Manggarai Timur, Sikka, Nagekeo, Ngada dan Ende. Getaran bahkan dirasakan hingga Kepulauan Selayar, Sulawesi Selatan, serta Bima, Nusa Tenggara Barat.

Baca Juga: Gempa NTT Hari Ini M 5,2 Bikin Warga Sikka Berhamburan Keluar Gedung

Data BNPB yang disampaikan dalam tayangan tersebut mencatat 68 orang meninggal dunia akibat gempa magnitudo 7,7. Sebanyak 213 orang mengalami luka, sementara lebih dari 5.000 warga mengungsi.

Meski sudah berada di lahan terbuka dan tinggal di bawah tenda, warga masih menghadapi ancaman gempa susulan. Guncangan dengan magnitudo sekitar 2 hingga 5 disebut masih terjadi setiap hari.

Pada Senin pagi sekitar pukul 08.46 Waktu Indonesia Tengah, gempa magnitudo 5,8 kembali mengguncang Pulau Flores. Beberapa menit kemudian, gempa magnitudo 4,3 terjadi di Manggarai. Aktivitas berikutnya kemudian menurun pada kisaran magnitudo 4,1, 3,6 hingga 3,0.

Mengapa Gempa Susulan Terjadi Ribuan Kali?

Pakar gempa bumi Dariono menjelaskan banyaknya gempa susulan merupakan hal yang lazim setelah gempa utama berukuran besar. Menurut dia, gempa magnitudo 7,7 menyebabkan deformasi besar pada kerak bumi.

Ketika keseimbangan tektonik berubah, bagian-bagian kerak bumi akan kembali mencari keseimbangan baru. Proses tersebut kemudian memunculkan gempa susulan.

"Karena ketika terjadi deformasi yang besar maka ada bagian-bagian yang keseimbangan itu hilang sehingga dia harus menata kembali mencari kesetimbangan supaya terbentuk kesetimbangan tektonik baru," ujar Dariono dalam tayangan tersebut.

Ia mengatakan gempa susulan biasanya mengalami penurunan kekuatan seiring waktu. Setelah gempa utama, gempa signifikan bermagnitudo 6,1 sempat terjadi. Namun, aktivitas berikutnya lebih banyak berada pada kisaran magnitudo 3 dan 4.

Menurut Dariono, pola tersebut menunjukkan gempa susulan mulai menuju proses peluruhan. Ia menyebut berdasarkan pola Omori, frekuensi dan magnitudo gempa susulan akan berkurang seiring waktu.

Meski demikian, masyarakat masih perlu bersabar karena aktivitas gempa susulan dapat berlangsung sekitar dua hingga tiga minggu. Penentuan kapan rangkaian tersebut benar-benar berakhir tetap menjadi kewenangan BMKG berdasarkan kajian dan pemantauan kegempaan.

Magnitudo, Kedalaman, dan Risiko Guncangan

Baca Juga: Gempa NTT Hari Ini M 5,2 Bikin Warga Sikka Berhamburan Keluar Gedung

Dariono juga menjelaskan sejumlah istilah penting yang perlu dipahami masyarakat ketika terjadi gempa. Episentrum merupakan proyeksi titik pusat gempa atau hiposenter ke permukaan. Wilayah yang berada lebih dekat dengan episentrum umumnya mengalami guncangan lebih besar.

Sementara hiposenter merupakan titik tempat patahan atau gempa pertama kali terjadi di dalam bumi. Adapun magnitudo menggambarkan energi yang dilepaskan ketika terjadi patahan.

Kedalaman juga memengaruhi dampak guncangan. Gempa dangkal dapat menghasilkan guncangan lebih kuat di permukaan karena energi yang dilepaskan belum banyak mengalami pelemahan. Sebaliknya, gempa dalam dapat memiliki jangkauan guncangan yang luas meski dampaknya belum tentu menimbulkan kerusakan.

Dariono menegaskan gempa besar juga dapat memicu tsunami apabila memenuhi kondisi tertentu. Pusat gempa harus berada di laut, memiliki kedalaman yang dangkal, serta menghasilkan deformasi dasar laut yang mengganggu kolom air.

Ia mencontohkan gempa Flores 1992 bermagnitudo 7,8 yang disertai longsoran dasar laut hingga menghasilkan tsunami besar.

Sementara untuk kondisi NTT saat ini, masyarakat tetap perlu mengikuti perkembangan informasi dari BMKG. Aktivitas gempa susulan yang masih berlangsung membuat kewaspadaan menjadi bagian penting dalam menghadapi dampak lanjutan bencana.

 

Editor : Muhammad Rusdian Nuzula
Sumber : tv0nenewscom
Gempa NTT Hari Ini Gempa NTT Nagekeo Gempa Susulan bmkg