SURABAYA - Potensi tsunami NTT akibat gempa bumi bermagnitudo 7,7 di wilayah Flores, Nusa Tenggara Timur, menjadi perhatian pakar geologi Institut Teknologi Sepuluh Nopember (ITS) Surabaya, Prof. Amien Widodo. Meski peringatan dini tsunami telah dicabut BMKG, simulasi menunjukkan gelombang tsunami berpotensi menjalar hingga Bali Utara, Lombok bagian utara, serta sebagian pesisir Jawa Timur.
Amien menjelaskan, potensi penyebaran gelombang tersebut berkaitan dengan karakteristik gempa dan pergeseran dasar laut di kawasan Laut Flores. Menurut dia, gempa dapat memicu pergerakan dasar laut secara vertikal akibat aktivitas sesar naik atau back-arc thrust fault.
"Kalau kemarin disimulasikan, memang sampai ke mana-mana istilahnya kalau terjadi tsunami. Bali, tapi bagian utara, Jawa ya bagian sisi Situbondo bagian timur, semacam itu. Lombok ya bagian utara," ujar Amien, dikutip Kamis (20/8/2026).
Baca Juga: Potensi Tsunami NTT, Gempa M 5,7 di Manggarai Dipastikan Tak Picu Tsunami
Menurut Amien, ketika dasar laut mengalami dorongan ke atas, massa air laut di atasnya ikut terdorong. Kondisi tersebut kemudian dapat memicu terbentuknya gelombang tsunami.
Ia mencontohkan kondisi di sekitar Labuan Bajo. Ketika terjadi pergeseran dasar laut, air laut dapat mengalami surut karena massa air bergerak mengikuti perubahan di dasar laut. Setelah itu, air kembali bergerak untuk menyeimbangkan kondisi sehingga terbentuk gelombang tsunami.
"Maka pantai yang paling dekat situ kan Labuan Bajo, air lautnya surut karena di tengah laut airnya menuju ke atas. Setelah surut tadi, maka istilahnya menyeimbangkan kembali, maka terjadilah tsunami," jelasnya.
Potensi Gelombang ke Jawa Timur Relatif Kecil
Meski simulasi menunjukkan kemungkinan gelombang menjalar cukup jauh, Amien menilai peluang tsunami dari gempa NTT meluas hingga pesisir Jawa Timur relatif kecil. Salah satu alasannya adalah besarnya dorongan vertikal dasar laut di Laut Flores yang dinilai masih minim.
Ia menyebut, di sekitar Labuan Bajo yang menjadi wilayah lebih dekat dengan sumber gempa, perubahan permukaan air diperkirakan kurang dari 30 sentimeter. Semakin jauh dari sumber, besarnya gelombang juga berpotensi semakin berkurang.
"Di Labuan Bajo yang dekat saja mungkin di bawah 30 cm, maka yang jauh menjadi sangat berkurang," ungkap Amien.
Namun, kondisi tersebut tidak berarti pesisir Jawa Timur dapat mengabaikan potensi tsunami. Amien mengingatkan bahwa sejumlah wilayah perairan Jawa Timur memiliki rekam aktivitas seismik yang perlu diperhatikan, terutama apabila gempa terjadi di laut dengan magnitudo cukup besar.
Ia mencontohkan gempa di perairan Selat Madura pada 2011 yang berkekuatan sekitar M6,4 hingga M6,5. Menurut Amien, gempa dengan pergeseran vertikal yang cukup besar dapat memicu tsunami, terutama di wilayah yang berdekatan dengan sumber gempa seperti Sumenep.
"Kalau dorongannya besar juga bisa menimbulkan tsunami, terutama di daerah Sumenep yang paling dekat. Kalau besar, bisa tsunami," katanya.
Pesisir Jatim Diminta Tetap Waspada
Amien menyebut berdasarkan peta BMKG, kawasan pesisir mulai dari Sumenep memiliki potensi tsunami dengan tingkat risiko rendah. Kendati demikian, kewaspadaan tetap diperlukan ketika terjadi gempa yang berpusat di laut.
Ia mengingatkan masyarakat agar tidak mengabaikan gempa laut dengan magnitudo lebih dari 6,5, khususnya apabila sumbernya berada di sekitar perairan utara Jawa Timur atau Selat Madura.
"Waspada, begitu ada gempa di laut skalanya lebih dari M6,5. Terlebih di laut utara seperti kemarin yang terjadi di Bawean, atau di Selat Madura. Ya harus tetap waspada karena M6,5, kalau dekat ya bisa juga memicu tsunami," tutur Amien.
Baca Juga: Potensi Tsunami NTT, Gempa M 5,7 di Manggarai Dipastikan Tak Picu Tsunami
Ia juga menekankan bahwa gelombang tsunami tidak harus berukuran besar untuk membahayakan masyarakat. Air yang bergerak dengan kecepatan tinggi tetap dapat menyeret kendaraan maupun manusia di kawasan pesisir.
"Tsunami itu walaupun kecil, kalau 30 cm gitu ya, kecepatannya kan 100 km/jam. Mobil-mobil kecil bisa kentir, anak kecil bisa bablas," paparnya.
Selain membahas gempa Flores, Amien turut menjelaskan karakteristik sejumlah struktur geologi di Jawa. Ia menyebut Laut Flores dan Sesar Kendeng sama-sama memiliki karakter sesar naik. Sementara itu, wilayah Tuban dan Madura memiliki sistem patahan tersendiri yang dikenal sebagai Sesar RMKS atau Rembang-Madura-Kangean-Sakala.
Menurut Amien, keberadaan Sesar RMKS berkaitan dengan proses geologi yang membentuk Pulau Madura. Karena itu, anggapan bahwa satu jalur patahan yang sama membentang hingga Surabaya, Madura, dan Tuban perlu diluruskan.
"Surabaya, Madura, Tuban itu jauh, beda lagi sebetulnya. Kalau Tuban itu sendiri ada patahan sendiri di sana, patahan RMKS," ujarnya.
Editor : Muhammad Rusdian Nuzula
Sumber : Suara.bisnis.com