Potensi Tsunami NTT ke Jawa Timur, Pakar ITS Ungkap Risikonya

Muhammad Rusdian Nuzula • Dipublikasikan Jumat, 21 Agustus 2026 | 16:40 WIB
Potensi tsunami NTT dari gempa Flores dinilai kecil hingga Jawa Timur. Pakar ITS tetap mengingatkan warga pesisir agar waspada. (PINTEREST)
Potensi tsunami NTT dari gempa Flores dinilai kecil hingga Jawa Timur. Pakar ITS tetap mengingatkan warga pesisir agar waspada. (PINTEREST)

SURABAYA - Potensi tsunami NTT setelah gempa magnitudo 7,7 di wilayah Flores menjadi perhatian. Pakar geologi Institut Teknologi Sepuluh Nopember (ITS) Surabaya Prof. Amien Widodo menyebut hasil simulasi menunjukkan gelombang tsunami dapat menjalar ke sejumlah wilayah, termasuk Bali Utara, Lombok Utara, hingga bagian timur pesisir Jawa Timur.

Meski demikian, Amien menilai potensi gelombang tsunami dari gempa Flores meluas hingga Jawa Timur relatif kecil. Hal tersebut dipengaruhi oleh besarnya pergeseran vertikal dasar laut di Laut Flores yang dinilai tidak terlalu besar.

Gempa bumi bermagnitudo 7,7 tersebut mengguncang wilayah Flores, Nusa Tenggara Timur, pada Sabtu (15/8/2026) pagi. Setelah kejadian, peringatan dini tsunami yang dikeluarkan Badan Meteorologi, Klimatologi, dan Geofisika (BMKG) telah dicabut.

Baca Juga: Potensi Tsunami NTT Terbaru: Gempa M 5,7 Guncang Manggarai, Ini Kata BMKG

Amien menjelaskan, berdasarkan simulasi, apabila gempa tersebut menghasilkan tsunami, gelombang dapat bergerak menuju sejumlah wilayah di sekitar Nusa Tenggara hingga Jawa Timur.

"Kalau kemarin disimulasikan, memang sampai ke mana-mana istilahnya kalau terjadi tsunami. Bali, tapi bagian utara, Jawa ya bagian sisi Situbondo bagian timur, semacam itu. Lombok ya bagian utara," ujar Amien, dikutip Kamis (20/8/2026).

Pergeseran Dasar Laut Jadi Pemicu

Menurut Amien, potensi tsunami berkaitan dengan mekanisme gempa yang menyebabkan dasar laut mengalami pergerakan vertikal. Di Laut Flores, aktivitas sesar naik atau back-arc thrust fault dapat mendorong dasar laut ke atas.

Perubahan tersebut kemudian memengaruhi massa air di atasnya. Ketika air laut terdorong akibat perubahan dasar laut, permukaan air dapat mengalami surut di kawasan tertentu sebelum kemudian bergerak kembali dan membentuk gelombang tsunami.

"Maka pantai yang paling dekat situ kan Labuan Bajo, air lautnya surut karena di tengah laut airnya menuju ke atas. Setelah surut tadi, maka istilahnya menyeimbangkan kembali, maka terjadilah tsunami," jelasnya.

Namun, Amien mengatakan dampak gelombang akan semakin berkurang ketika bergerak menjauh dari sumber gempa. Ia memperkirakan perubahan air laut di sekitar Labuan Bajo saja masih berada di bawah 30 sentimeter.

"Di Labuan Bajo yang dekat saja mungkin di bawah 30 cm, maka yang jauh menjadi sangat berkurang," ungkapnya.

Dengan kondisi tersebut, kemungkinan gelombang tsunami akibat gempa Flores memberikan dampak besar hingga pesisir Jawa Timur dinilai relatif kecil. Meski begitu, masyarakat pesisir tetap diminta tidak mengabaikan risiko gempa laut.

Pesisir Jawa Timur Tetap Perlu Waspada

Amien mengingatkan bahwa perairan di sekitar Jawa Timur memiliki potensi aktivitas seismik. Salah satu contoh yang disebut adalah gempa di laut Selat Madura pada 2011 dengan magnitudo sekitar 6,4 hingga 6,5.

Menurut dia, gempa laut dengan pergeseran vertikal yang cukup besar dapat memicu tsunami. Wilayah yang lokasinya dekat dengan sumber gempa memiliki risiko lebih besar, termasuk Sumenep.

"Kalau dorongannya besar juga bisa menimbulkan tsunami, terutama di daerah Sumenep yang paling dekat. Kalau besar, bisa tsunami," kata Amien.

Mengacu pada peta BMKG, kawasan pesisir mulai dari Sumenep memiliki tingkat risiko tsunami yang tergolong rendah. Namun, kondisi tersebut bukan berarti ancaman sepenuhnya tidak ada.

Baca Juga: Potensi Tsunami NTT Terbaru: Gempa M 5,7 Guncang Manggarai, Ini Kata BMKG

Amien menyarankan masyarakat tetap waspada apabila terjadi gempa di laut dengan kekuatan lebih dari M6,5, terutama jika pusat gempa berada di perairan sekitar Jawa Timur.

"Waspada, begitu ada gempa di laut skalanya lebih dari M6,5. Terlebih di laut utara seperti kemarin yang terjadi di Bawean, atau di Selat Madura. Ya harus tetap waspada karena M6,5, kalau dekat ya bisa juga memicu tsunami," tuturnya.

Ia juga mengingatkan bahwa tsunami berukuran kecil tetap dapat membahayakan. Menurut Amien, air dengan ketinggian sekitar 30 sentimeter sekalipun dapat bergerak sangat cepat dan berpotensi menyeret kendaraan maupun manusia.

"Tsunami itu walaupun kecil, kalau 30 cm gitu ya, kecepatannya kan 100 km/jam. Mobil-mobil kecil bisa kentir, anak kecil bisa bablas," paparnya.

Selain membahas potensi tsunami NTT, Amien turut menjelaskan kondisi struktur patahan di Jawa. Ia menyebut Sesar Kendeng memiliki karakter sesar naik seperti yang terdapat di Laut Flores.

Namun, Amien meluruskan anggapan mengenai jalur patahan yang disebut membentang hingga Surabaya, Madura, dan Tuban. Menurut dia, kawasan tersebut memiliki sistem patahan berbeda.

Wilayah Tuban dan Madura, lanjutnya, berkaitan dengan Sesar RMKS atau Rembang-Madura-Kangean-Sakala. Sesar tersebut disebut berperan dalam proses pengangkatan Pulau Madura.

"Surabaya, Madura, Tuban itu jauh, beda lagi sebetulnya. Kalau Tuban itu sendiri ada patahan sendiri di sana, patahan RMKS," ujar Amien.

 

Editor : Muhammad Rusdian Nuzula
Sumber : Suara.bisnis.com
ITS Surabaya Gempa NTT Gempa Flores Potensi Tsunami NTT Tsunami Jawa Timur