JAKARTA - Perjuangan Soekarno menuju kemerdekaan Indonesia berlangsung panjang dan penuh kontroversi. Sejak muda, Soekarno dikenal aktif melawan kolonialisme Belanda melalui organisasi, tulisan, pidato, hingga pergerakan politik. Namun, dalam perjalanan menuju kemerdekaan, ia juga mengambil keputusan kontroversial dengan bekerja sama dengan Jepang.
Soekarno lahir pada 6 Juni 1902 di Peneleh, Surabaya, dari pasangan Raden Sukemi Sosrodiharjo dan Idayu Nyoman Rai. Sebagai anak priyayi, ia mendapat kesempatan mengenyam pendidikan di sekolah milik Hindia Belanda.
Saat berusia 15 tahun, Soekarno pindah ke Surabaya dan tinggal di rumah HOS Tjokroaminoto, pemimpin Sarekat Islam. Di tempat tersebut, ia bertemu sejumlah tokoh pergerakan dan aktif mengikuti diskusi mengenai perjuangan melawan penjajahan.
Dari lingkungan itu, pemikiran Soekarno berkembang. Ia membaca berbagai gagasan seperti nasionalisme, sosialisme, dan marxisme. Pengaruh Tjokroaminoto sebagai orator juga membentuk kemampuan Soekarno dalam berpidato.
Saat bersekolah di HBS Surabaya, Soekarno semakin menyadari diskriminasi terhadap rakyat pribumi. Pada 1918, ia mulai aktif dalam organisasi Trikoro Dharmo. Ia juga menulis menggunakan nama samaran Bima dan mengkritik perlakuan pemerintah kolonial terhadap pribumi.
Baca Juga: Acer Aspire 7 Pro 2026, Laptop Gaming RTX 3050 di Bawah Rp15 Juta
Membentuk PNI dan Menghadapi Penjara
Pada 1921, Soekarno pindah ke Bandung dan melanjutkan pendidikan di sekolah tinggi teknik. Di kota tersebut, ia bertemu dengan sejumlah aktivis senior. Pertemuannya dengan seorang petani bernama Marhaen juga menginspirasinya merumuskan gagasan marhaenisme.
Soekarno kemudian semakin aktif dalam pergerakan. Pada 1926, ia menulis mengenai nasionalisme, Islam, dan marxisme. Gagasan tersebut berupaya menyatukan kekuatan nasionalis, agama, dan kelompok kiri untuk menghadapi kolonialisme.
Pada 4 Juli 1927, Soekarno bersama sejumlah tokoh mendirikan Partai Nasional Indonesia atau PNI. Organisasi tersebut menjadi salah satu kekuatan politik yang menentang pemerintahan kolonial Belanda.
Aktivitas PNI membuat pemerintah Hindia Belanda semakin khawatir. Pada Desember 1929, Soekarno ditangkap dan kemudian dipenjara di Bandung. Dalam persidangannya, ia menyampaikan pembelaan berjudul Indonesia Menggugat yang mengkritik sistem penjajahan Belanda.
Setelah sekitar dua tahun dipenjara, Soekarno dibebaskan pada 31 Desember 1931. Ia kemudian bergabung dengan Partindo. Namun, aktivitas politiknya kembali membuat pemerintah kolonial mengambil tindakan. Soekarno akhirnya dibuang ke Ende, kemudian dipindahkan ke Bengkulu.
Di Ende, Soekarno sering merenung di bawah pohon sukun. Dari perenungan tersebut, ia mulai memikirkan butir-butir dasar negara yang kelak dikenal sebagai Pancasila.
Bekerja Sama dengan Jepang
Ketika Jepang mulai menguasai Indonesia pada 1942, perjalanan Soekarno memasuki fase paling kontroversial. Jepang berusaha memanfaatkan pengaruh Soekarno untuk kepentingan propaganda perang.
Soekarno memilih bekerja sama dengan Jepang. Keputusan tersebut ditentang sejumlah tokoh muda yang menginginkan perlawanan terhadap fasisme Jepang. Namun, Soekarno menilai perlawanan terbuka dapat menimbulkan korban lebih besar karena rakyat Indonesia belum memiliki kekuatan militer yang memadai.
Pada 16 April 1943, Soekarno bersama Ki Hajar Dewantara, Mas Mansur, dan Mohammad Hatta membentuk Putera atau Pusat Tenaga Rakyat. Organisasi itu kemudian dimanfaatkan Jepang untuk menggalang dukungan rakyat, termasuk dalam pengerahan tenaga kerja paksa atau romusa.
Baca Juga: Acer Nitro V15 RTX 4050 Diuji, Performa Kencang tapi RTX 5050 Lebih Menggoda
Soekarno menyadari bahwa romusa menimbulkan penderitaan. Dalam kisah yang dikutip dari karya Cindy Adams, Soekarno bahkan mengakui keterlibatannya dalam pengerahan romusa. Ia menyebut keputusan tersebut sebagai jalan yang menurutnya harus ditempuh untuk menghindari korban yang lebih besar akibat perlawanan langsung terhadap Jepang.
Ketika Jepang mulai terdesak dalam Perang Pasifik, Soekarno juga mendorong pembentukan Pembela Tanah Air atau PETA pada 1943. Ia berharap kekuatan tersebut kelak dapat menjadi modal militer bagi Indonesia setelah merdeka.
Pada 1945, persiapan kemerdekaan semakin nyata. Soekarno dipercaya memimpin badan persiapan kemerdekaan. Dalam sidang 1 Juni 1945, ia menyampaikan gagasan dasar negara yang kemudian dikenal sebagai Pancasila.
Setelah Jepang menyerah kepada Sekutu pada Agustus 1945, golongan muda mendesak Soekarno dan Hatta segera memproklamasikan kemerdekaan. Pada 16 Agustus, keduanya dibawa ke Rengasdengklok.
Setelah kembali ke Jakarta, Soekarno, Hatta, dan Ahmad Soebardjo menyusun teks proklamasi di rumah Laksamana Tadashi Maeda. Keesokan harinya, 17 Agustus 1945, Soekarno dan Hatta membacakan Proklamasi Kemerdekaan Indonesia di Jalan Pegangsaan Timur Nomor 56, Jakarta.
Bagi Soekarno, pembacaan proklamasi bukan akhir perjuangan. Kemerdekaan justru menjadi awal dari perjuangan berikutnya, termasuk menghadapi Belanda yang berusaha kembali ke Indonesia.
Editor : Muhammad Rusdian Nuzula
Sumber : Matahatipemuda