Perjalanan Soekarno Menuju Proklamasi, dari Aktivis Muda hingga Proklamator

Muhammad Rusdian Nuzula • Dipublikasikan Sabtu, 5 September 2026 | 19:15 WIB
Perjalanan Soekarno menuju Proklamasi penuh perjuangan, penangkapan, pengasingan, kontroversi kerja sama Jepang hingga 17 Agustus 1945. (PINTEREST)
Perjalanan Soekarno menuju Proklamasi penuh perjuangan, penangkapan, pengasingan, kontroversi kerja sama Jepang hingga 17 Agustus 1945. (PINTEREST)

SURABAYA - Perjalanan Soekarno menuju Proklamasi Kemerdekaan Indonesia tidak berlangsung singkat. Jauh sebelum membacakan teks Proklamasi pada 17 Agustus 1945, Soekarno telah melewati berbagai fase perjuangan, mulai dari masa pendidikan, aktivitas pergerakan, penangkapan, pengasingan, hingga keterlibatannya dalam berbagai organisasi politik.

Soekarno lahir di Peneleh, Surabaya, pada 6 Juni 1902. Ia merupakan putra Raden Sukemi Sosrodiharjo dan Idayu Nyoman Rai Sariben. Sebagai anak keluarga priyayi, Soekarno mendapatkan pendidikan di sekolah kolonial Belanda. Ia pernah bersekolah di HIS Mojokerto, ELS, kemudian melanjutkan pendidikan di HBS Surabaya.

Baca Juga: Acer Aspire 7 Pro 2026, Laptop Gaming RTX 3050 di Bawah Rp15 Juta

Ketika berusia sekitar 15 tahun, Soekarno pindah ke Surabaya dan tinggal di rumah HOS Tjokroaminoto. Lingkungan tersebut menjadi salah satu titik penting dalam perkembangan pemikirannya. Di sana ia bertemu dengan sejumlah tokoh pergerakan dan mengikuti berbagai diskusi mengenai nasionalisme, sosialisme, serta marxisme.

Pengalaman tersebut membuat Soekarno semakin aktif dalam pergerakan. Pada 1918, ia bergabung dengan Trikoro Dharmo. Ia juga menulis menggunakan nama samaran Bima di Utusan Hindia dan menyampaikan kritik terhadap diskriminasi pemerintahan kolonial Belanda.

Dari Bandung hingga PNI

Pada 1921, Soekarno pindah ke Bandung untuk melanjutkan pendidikan di Technische Hoogeschool te Bandoeng. Di kota tersebut, ia bertemu dengan sejumlah tokoh pergerakan, termasuk Ki Hajar Dewantara, Cipto Mangunkusumo, dan Douwes Dekker.

Di Bandung pula Soekarno mengenal seorang petani bernama Marhaen. Pertemuan tersebut kemudian menginspirasi pemikirannya mengenai marhaenisme. Soekarno melihat persoalan rakyat kecil sebagai bagian penting dalam perjuangan melawan kapitalisme dan imperialisme.

Pada 1927, Soekarno bersama sejumlah tokoh mendirikan Partai Nasional Indonesia atau PNI. Organisasi tersebut menjadi salah satu wadah perjuangan politik untuk mencapai kemerdekaan.

Aktivitas politik Soekarno membuat pemerintah kolonial melakukan penangkapan. Pada Desember 1929, Soekarno dan sejumlah anggota PNI ditangkap di Yogyakarta. Ia kemudian dipenjara di Banceuy, Bandung.

Dalam persidangan, Soekarno menyampaikan pembelaan yang kemudian dikenal sebagai “Indonesia Menggugat”. Pidato tersebut menjadi salah satu bagian penting dari perjuangannya menghadapi pemerintahan kolonial.

Setelah keluar dari penjara pada 31 Desember 1931, Soekarno bergabung dengan Partindo. Namun, perjalanan perjuangannya kembali menghadapi tekanan hingga akhirnya ia mengalami pengasingan ke Ende dan kemudian Bengkulu.

Masa Pendudukan Jepang dan Proklamasi

Ketika Jepang masuk ke Indonesia pada 1942, Soekarno mengambil keputusan untuk bekerja sama dengan pemerintahan pendudukan. Keputusan tersebut menjadi salah satu bagian paling kontroversial dalam perjalanan politiknya.

Bersama Mohammad Hatta, Ki Hajar Dewantara, dan Mas Mansur, Soekarno membentuk Putera pada 16 April 1943. Organisasi tersebut dimanfaatkan Jepang untuk kepentingan propaganda dan pengerahan tenaga rakyat, termasuk romusha.

Keterlibatan Soekarno dalam pengerahan romusha kemudian menjadi salah satu sisi kontroversial dalam sejarahnya. Namun, dalam penjelasan yang dikutip dari autobiografi yang ditulis Cindy Adams, Soekarno menggambarkan kerja sama tersebut sebagai pilihan yang menurutnya dilakukan untuk kepentingan perjuangan yang lebih besar.

Baca Juga: Acer Nitro V15 RTX 4050 Diuji, Performa Kencang tapi RTX 5050 Lebih Menggoda

Memasuki 1945, posisi Jepang semakin melemah. Soekarno kemudian terlibat dalam proses perumusan dasar negara. Pada 1 Juni 1945, ia menyampaikan gagasan mengenai dasar negara yang kemudian dikenal sebagai Pancasila.

Setelah situasi Jepang semakin terdesak, desakan untuk memproklamasikan kemerdekaan semakin kuat. Pada 16 Agustus 1945, Soekarno dan Hatta dibawa para pemuda ke Rengasdengklok. Setelah Ahmad Soebardjo datang menjemput, keduanya kembali ke Jakarta.

Malam harinya, Soekarno, Hatta, dan Ahmad Soebardjo menyusun teks Proklamasi di rumah Laksamana Tadashi Maeda.

Keesokan paginya, 17 Agustus 1945, Soekarno dan Hatta membacakan Proklamasi Kemerdekaan Indonesia di Pegangsaan Timur 56 pada pukul 10.00 WIB.

Peristiwa tersebut menjadi puncak dari perjalanan panjang Soekarno dalam pergerakan politik. Namun, kemerdekaan bukan menjadi akhir perjuangan. Setelah Proklamasi, Indonesia masih menghadapi berbagai persoalan, termasuk kembalinya Belanda serta konflik politik dan pemberontakan yang kemudian menjadi bagian dari perjalanan panjang republik.

 

Editor : Muhammad Rusdian Nuzula
Sumber : Matahatipemuda
Perjalanan Soekarno soekarno Proklamasi Kemerdekaan pancasila sejarah indonesia