Mama Falak Pagentongan dan Kisah Kedekatannya dengan Bung Karno Saat Revolusi

Muhammad Rusdian Nuzula • Dipublikasikan Sabtu, 5 September 2026 | 19:40 WIB
Mama Falak Pagentongan disebut dekat dengan Bung Karno dan berperan dalam pendidikan ilmu falak serta perjuangan masa revolusi. (PINTEREST)
Mama Falak Pagentongan disebut dekat dengan Bung Karno dan berperan dalam pendidikan ilmu falak serta perjuangan masa revolusi. (PINTEREST)

BOGOR - Mama Falak Pagentongan merupakan salah satu sosok ulama yang dalam berbagai riwayat disebut memiliki peran penting dalam kehidupan spiritual masyarakat Bogor hingga masa perjuangan kemerdekaan. Ulama bernama lengkap K. H. Tubagus Muhammad Falaq Abbas tersebut juga disebut memiliki kedekatan dengan Presiden Soekarno pada masa revolusi fisik 1945-1949.

 

Kisah Mama Falak bermula dari Banten. Berdasarkan literatur manakib yang disebut diakui oleh pihak keluarga, ia lahir pada 1842 di Saniwara, Desa Sempur, Paledang, Kabupaten Pandeglang, Banten.

Baca Juga: Soekarno dan Hatta: Saat Perbedaan Politik Mengubah Arah Demokrasi Indonesia

Ia merupakan putra K. H. Tubagus Abbas dan Ratu Quraisin. Nama Tubagus yang berada di depan namanya disebut menunjukkan garis keturunan Kesultanan Banten. Dalam silsilah yang disampaikan dalam riwayat tersebut, Mama Falak disebut memiliki hubungan nasab dengan Sultan Ageng Tirtayasa dan Syarif Hidayatullah atau Sunan Gunung Jati.

 

Sejak kecil, Tubagus Muhammad tumbuh dalam lingkungan religius. Pendidikan agama pertama diperolehnya dari sang ayah. Ia mempelajari akidah, Al-Qur'an, nahwu, dan saraf sebelum melanjutkan perjalanan menuntut ilmu ke sejumlah pesantren di Banten dan Cirebon.

 

### Menuntut Ilmu di Makkah

 

Pada usia sekitar 15 tahun, tepatnya sekitar 1857, Tubagus Muhammad berangkat ke Makkah. Perjalanan tersebut tidak hanya untuk menunaikan ibadah haji, tetapi juga memperdalam ilmu agama.

 

Di Makkah, ia bergabung dengan komunitas ulama Jawi dan berguru kepada sejumlah ulama besar. Salah satunya adalah Syekh Nawawi Al-Bantani yang disebut menjadi guru utamanya. Ia juga disebut belajar kepada Syekh Mahfuz Termas, Sayid Zaini Dahlan, Syekh Abdul Karim Al-Bantani, Syekh Umar Bajunaid, dan Syekh Said Afandi Turki.

 

Dari proses belajar tersebut, kemampuan Mama Falak dalam ilmu falak semakin berkembang. Ilmu falak merupakan bidang yang mempelajari pergerakan benda langit untuk berbagai kebutuhan ibadah, termasuk menentukan arah kiblat, waktu salat, awal bulan Hijriah, Ramadan, Syawal, hingga gerhana.

 

Kemampuannya dalam bidang tersebut membuatnya memperoleh gelar Falaq. Nama itu kemudian melekat pada dirinya hingga dikenal sebagai K. H. Tubagus Muhammad Falaq.

 

Selama di Makkah, Mama Falak juga disebut berinteraksi dengan sejumlah ulama Nusantara, termasuk K. H. Hasyim Asy'ari, K. H. Ahmad Dahlan, dan K. H. Wahab Hasbullah. Dalam riwayat tersebut, mereka disebut turut membicarakan kondisi Nusantara yang saat itu berada di bawah penjajahan Belanda.

 

### Pagentongan Jadi Pusat Ilmu Falak

 

Setelah puluhan tahun menimba ilmu di Tanah Suci, Mama Falak kembali ke Indonesia. Ia sempat berdakwah di Pandeglang sebelum kemudian memilih Pagentongan, Bogor, sebagai tempat bermukim.

Baca Juga: Soekarno dan Jalan Menuju Demokrasi Terpimpin, Saat Kekuasaan Presiden Makin Besar

Pada 1901, ia mulai merintis majelis taklim yang kemudian berkembang menjadi Pesantren Al-Falaq. Masyarakat setempat mengenalnya dengan panggilan Mama, sebuah sebutan kehormatan bagi kiai sepuh di Tatar Sunda.

 

Di Pagentongan, Mama Falak tidak hanya mengajarkan ilmu agama seperti fikih, tauhid, dan tasawuf. Ia juga memberikan perhatian khusus terhadap ilmu hisab dan falak.

 

Keahliannya membuat Pagentongan disebut berkembang sebagai salah satu pusat pembelajaran ilmu falak. Santri berdatangan dari berbagai daerah di Nusantara, bahkan disebut berasal dari Malaysia dan Thailand.

 

Mama Falak juga dikisahkan melakukan pengukuran ulang arah kiblat sejumlah masjid menggunakan alat astronomi tradisional seperti rubu mujayab. Selain itu, perhitungan hisabnya disebut menjadi rujukan masyarakat dalam menentukan waktu-waktu penting ibadah.

 

### Disebut Menjadi Tempat Bung Karno Mencari Ketenangan

 

Peran Mama Falak dalam sejarah perjuangan kemudian dikaitkan dengan kedekatannya dengan Bung Karno. Dalam riwayat yang disampaikan, pada masa revolusi 1945-1949, ketika situasi Jakarta tidak aman dan pusat pemerintahan sering berpindah, Bung Karno kerap berkunjung ke Bogor.

 

Dalam beberapa kunjungan tersebut, sang proklamator disebut menyempatkan diri sowan ke Pagentongan untuk menemui Mama Falak.

 

Pertemuan itu disebut bukan untuk membahas strategi perang. Bung Karno dikisahkan datang untuk mencari ketenangan batin, nasihat spiritual, dan doa.

 

Mama Falak juga disebut memberikan doa serta wirid kepada Bung Karno dalam situasi perjuangan yang penuh tekanan.

 

Pesantren Al-Falaq pada masa revolusi turut disebut menjadi tempat penguatan mental para pejuang. Para pemuda yang hendak turun menghadapi tentara Belanda dan NICA dikisahkan datang untuk mengikuti doa bersama.

 

Salah satu cerita yang berkembang adalah mengenai bambu runcing yang didoakan Mama Falak sebelum digunakan para pejuang.

 

Selain itu, terdapat berbagai kisah karamah yang berkembang di tengah masyarakat. Salah satunya menyebut sebuah bom yang dijatuhkan pesawat Belanda ke arah kompleks pesantren tidak meledak ketika jatuh.

 

Kisah lain menyebut pasukan Belanda beberapa kali mengepung kediaman Mama Falak, tetapi tidak berhasil menangkapnya.

 

Cerita-cerita tersebut diwariskan secara turun-temurun di kalangan masyarakat dan santri. Terlepas dari berbagai kisah karamah yang menyertainya, warisan utama Mama Falak tetap berada pada bidang pendidikan, dakwah, spiritualitas, serta pengembangan ilmu falak di Pagentongan.

 

Dari kawasan yang dahulu disebut masih berupa hutan dan perkampungan sunyi itu, lahir sebuah tradisi keilmuan yang menjadikan Pagentongan dikenal sebagai salah satu tempat

 penting dalam sejarah pendidikan ilmu falak di Nusantara.

Editor : Muhammad Rusdian Nuzula
Sumber : Ryo Fulana
Mama Falak Pagentongan K. H. Tubagus Muhammad Falaq Pesantren Al-Falaq Sejarah Bogor Bung Karno