BOGOR - Di tengah gejolak revolusi fisik 1945-1949, Bung Karno disebut tidak hanya membutuhkan strategi untuk menghadapi situasi politik dan keamanan. Sang proklamator juga dikisahkan mencari ketenangan batin dan nasihat spiritual kepada seorang ulama sepuh di Pagentongan, Bogor, yakni K. H. Tubagus Muhammad Falaq Abbas atau yang lebih dikenal sebagai Mama Falak Pagentongan.
Nama Mama Falak tidak hanya dikenal karena kedalaman ilmu agama. Ia juga disebut sebagai ulama yang memiliki keahlian khusus dalam ilmu falak atau astronomi Islam. Keilmuannya berkembang setelah puluhan tahun menuntut ilmu di Makkah dan berguru kepada sejumlah ulama besar dari Nusantara maupun Timur Tengah.
Mama Falak lahir di Saniwara, Desa Sempur, Paledang, Kabupaten Pandeglang, Banten, pada 1842 berdasarkan literatur manakib yang disebut diakui oleh pihak keluarga. Ia merupakan putra K. H. Tubagus Abbas dan Ratu Quraisin.
Gelar Tubagus yang melekat pada namanya disebut sebagai penanda keturunan Kesultanan Banten. Dalam silsilah yang disampaikan, nasab Mama Falak disebut bersambung kepada Sultan Ageng Tirtayasa dan Syarif Hidayatullah atau Sunan Gunung Jati.
Baca Juga: Mama Falak Pagentongan dan Kisah Kedekatannya dengan Bung Karno Saat Revolusi
Sejak kecil, Tubagus Muhammad memperoleh pendidikan agama dari ayahnya. Ia kemudian melanjutkan perjalanan ke sejumlah pesantren di Banten dan Cirebon sebelum berangkat ke Makkah ketika usianya sekitar 15 tahun.
### Berguru kepada Ulama Besar di Makkah
Di Makkah, Mama Falak disebut bergabung dengan komunitas ulama Jawi. Salah satu guru utamanya adalah Syekh Nawawi Al-Bantani. Selain itu, ia juga disebut berguru kepada Syekh Mahfuz Termas, Sayid Zaini Dahlan, Syekh Abdul Karim Al-Bantani, Syekh Umar Bajunaid, dan Syekh Said Afandi Turki.
Di Tanah Suci, ketertarikannya terhadap ilmu falak semakin berkembang. Bidang tersebut mempelajari pergerakan matahari, bulan, dan benda langit untuk berbagai kebutuhan ibadah, seperti menentukan arah kiblat, waktu salat, awal bulan Hijriah, Ramadan, Syawal, serta gerhana.
Kemampuannya dalam menghitung pergerakan benda langit kemudian membuatnya memperoleh gelar Falaq. Nama tersebut akhirnya menjadi bagian dari identitasnya sebagai K. H. Tubagus Muhammad Falaq.
Selama berada di Makkah, Mama Falak juga disebut berinteraksi dengan sejumlah tokoh ulama Nusantara, termasuk K. H. Hasyim Asy'ari, K. H. Ahmad Dahlan, dan K. H. Wahab Hasbullah. Dalam riwayat tersebut, mereka turut berdiskusi mengenai kondisi bangsa Indonesia yang masih berada di bawah penjajahan.
Setelah puluhan tahun menuntut ilmu, Mama Falak akhirnya kembali ke Indonesia. Ia sempat berdakwah di Pandeglang sebelum memilih Pagentongan, Bogor, sebagai tempat bermukim.
Pada 1901, ia mulai merintis majelis taklim yang kemudian berkembang menjadi Pesantren Al-Falaq. Kawasan Pagentongan saat itu disebut masih berupa hutan dan perkampungan yang relatif sunyi.
Di tempat tersebut, Mama Falak mengembangkan pendidikan agama sekaligus ilmu falak. Santri datang dari berbagai daerah di Nusantara, bahkan dalam riwayat disebut berasal dari Malaysia dan Thailand.
### Dari Pesantren ke Masa Revolusi
Keahlian Mama Falak dalam ilmu falak membuatnya disebut menjadi rujukan dalam persoalan arah kiblat dan perhitungan waktu-waktu ibadah. Ia juga mengajarkan penggunaan instrumen astronomi tradisional seperti rubu mujayab.
Namun, pengaruh Mama Falak tidak berhenti di bidang keilmuan. Ketika revolusi fisik berlangsung, Pagentongan disebut menjadi salah satu tempat para pejuang mencari penguatan mental dan spiritual.
Baca Juga: Mama Falak Pagentongan, Ulama yang Disebut Dekat dengan Bung Karno di Masa Revolusi
Kedekatan Mama Falak dengan Bung Karno menjadi bagian penting dalam kisah tersebut. Pada 1945-1949, ketika Jakarta berada dalam situasi tidak aman dan Bung Karno kerap berkunjung ke Bogor, sang proklamator disebut beberapa kali menyempatkan diri sowan ke Pagentongan.
Menurut riwayat yang disampaikan, Bung Karno datang bukan untuk meminta strategi militer. Ia disebut mencari ketenangan batin, nasihat spiritual, dan doa dari Mama Falak.
Dalam situasi perjuangan yang penuh tekanan, Mama Falak juga dikisahkan memberikan ijazah doa dan wirid kepada Bung Karno untuk keselamatan dirinya serta bangsa.
Di kalangan pejuang, Mama Falak juga disebut memberikan penguatan spiritual. Para pemuda yang hendak menghadapi tentara Belanda atau NICA dikisahkan datang ke Pagentongan untuk mengikuti doa bersama. Bambu runcing yang digunakan para pejuang bahkan disebut turut didoakan.
Kisah tentang karamah Mama Falak kemudian berkembang luas di masyarakat. Salah satu cerita yang diwariskan menyebut sebuah bom yang dijatuhkan pesawat Belanda ke arah kompleks pesantren tidak meledak.
Ada pula riwayat mengenai pasukan Belanda yang beberapa kali mengepung kediamannya, tetapi disebut tidak berhasil menemukan atau menangkap Mama Falak.
Berbagai kisah tersebut merupakan cerita yang disebut diwariskan secara turun-temurun oleh masyarakat dan kalangan santri. Sementara itu, jejak keilmuan Mama Falak di Pagentongan tetap menjadi bagian penting dari kisah perkembangan pendidikan Islam dan ilmu falak di wilayah Bogor.
Sosok Mama Falak akhirnya dikenang bukan hanya sebagai ulama ahli astronomi Islam, tetapi juga sebagai figur spiritual yang dalam berbagai riwayat berada di dekat
masyarakat dan tokoh bangsa pada masa penuh gejolak.
Editor : Muhammad Rusdian NuzulaSumber : Riyo Fulana