BLITAR KAWENTAR - Kampung Reforma Agraria bukan sekadar sebutan untuk sebuah desa atau kampung yang mengikuti program pertanahan.
Kawasan tersebut merupakan bentuk nyata pelaksanaan reforma agraria yang mencakup penataan aset, tata guna tanah, serta penataan akses.
Kasubdit Pengembangan dan Diseminasi Model Akses Reforma Agraria Suwindra menjelaskan konsep Kampung Reforma Agraria dalam podcast Kementerian Agraria dan Tata Ruang/Badan Pertanahan Nasional (ATR/BPN).
Baca Juga: Budidaya Ikan Nila Gandusari Menjanjikan, BUMDes Targetkan Produksi 2 Ton
Menurut dia, Kampung Reforma Agraria merupakan bentuk keberhasilan pelaksanaan reforma agraria dalam suatu wilayah. Di dalamnya telah terlaksana penataan aset, penataan penggunaan tanah, dan penataan akses.
“Jadi kampung reforma ini bukan kampung sembarang kampung,” jelas Suwindra dalam podcast tersebut.
Penetapan Kampung Reforma Agraria juga memiliki mekanisme tersendiri. Kampung tersebut ditetapkan melalui surat keputusan atau SK oleh bupati maupun wali kota setempat.
Baca Juga: Kastrasi Gratis Kucing di Blitar Sasar 50 Ekor, Populasi Tembus 1.209 dan Kucing Liar Jadi Perhatian
Ada sejumlah unsur yang harus dipenuhi. Salah satunya berkaitan dengan tanah yang menjadi bagian dari pelaksanaan penataan aset.
Selain itu, penggunaan tanah juga harus ditata. Tanah tersebut harus jelas pemanfaatannya, termasuk untuk kebutuhan permukiman maupun fungsi lain yang sesuai dengan penataan wilayah.
Penataan fasilitas umum dan fasilitas sosial juga menjadi bagian dari konsep tersebut.
Dengan demikian, Kampung Reforma Agraria tidak hanya berbicara mengenai kepemilikan tanah, tetapi juga bagaimana tanah digunakan dan memberikan manfaat bagi masyarakat.
Unsur ketiga adalah penataan akses. Aspek ini menjadi penting karena reforma agraria tidak berhenti setelah masyarakat memperoleh kepastian hukum atas tanah.
Melalui penataan akses, masyarakat didampingi agar tanah yang dimiliki dapat memberikan nilai ekonomi.
Baca Juga: Karhutla Gunung Kawi Makin Mengkhawatirkan, Waterbombing Dibatalkan karena Cuaca Ekstrem dan Angin
Pendampingan dapat dilakukan melalui pengembangan usaha, akses modal, sarana prasarana, pelatihan, hingga kerja sama dengan pihak lain.
Dalam podcast tersebut disebutkan sudah terdapat 192 SK Kampung Reforma Agraria di seluruh Indonesia.
Namun, keberadaan SK saja belum menjadi ukuran tunggal keberhasilan. Suwindra menilai keberhasilan Kampung Reforma Agraria sangat bergantung pada sinergi antara ATR/BPN, pemerintah daerah, serta stakeholder terkait, termasuk off-taker.
Baca Juga: Tecno Pova 8 Pro 5G Bawa Dimensity 7400 dan AMOLED 144Hz, Layak Dibeli?
Jika sinergi berjalan baik, program tersebut dapat memberikan dampak terhadap peningkatan pendapatan masyarakat.
Salah satu contoh yang disebut dalam podcast adalah Desa Bandung di Pandeglang. Desa tersebut disebut sebagai Kampung Reforma Agraria terbaik di Indonesia.
Konsep Kampung Reforma Agraria juga memperlihatkan bahwa penataan tanah tidak berhenti pada persoalan sertifikat. Setelah aset ditata, masyarakat tetap membutuhkan akses agar aset tersebut dapat digunakan secara produktif.
Baca Juga: ROG Zephyrus Duo GX651A, Laptop Gaming Dua Layar yang Tawarkan Performa Ekstrem
Hal tersebut sejalan dengan prinsip reforma agraria yang memiliki dua instrumen utama, yakni penataan aset dan penataan akses.
Penataan aset memberikan kepastian hukum kepada masyarakat atas tanah yang dimiliki atau dikuasainya sesuai ketentuan. Sementara penataan akses diarahkan untuk meningkatkan nilai ekonomi dari aset tersebut.
Pola tersebut juga diharapkan dapat mencegah tanah yang telah disertifikatkan menjadi tidak produktif. Sebab, ketika tanah tidak memberikan manfaat ekonomi, masyarakat bisa terdorong untuk menjual asetnya.
Baca Juga: Samsung Galaxy S26 Ultra Masih Punya Senjata Rahasia di Balik Banyak Kekurangannya
Dalam pembahasan podcast, pemberdayaan tanah masyarakat menjadi bagian penting agar tanah tidak sekadar menjadi aset yang tersimpan, tetapi dapat digunakan untuk kegiatan produktif.
Kampung Reforma Agraria akhirnya menjadi gambaran bagaimana tiga unsur tersebut dapat berjalan bersama. Tanah ditata, penggunaannya diarahkan, dan masyarakat mendapatkan akses untuk mengembangkan potensi ekonominya.
Karena itu, keberhasilan Kampung Reforma Agraria tidak hanya diukur dari berapa banyak sertifikat yang diterbitkan.
Baca Juga: Aquascape Nano Natural Sederhana, Begini Cara Menatanya untuk Pemula
Yang tidak kalah penting adalah bagaimana tanah tersebut benar-benar dimanfaatkan dan memberikan manfaat berkelanjutan bagi masyarakat.
Editor : Ratna Anggi Puspita Sari