BLITAR KAWENTAR - Cara merawat murai batu cepat gacor dan rajin bunyi tidak hanya bergantung pada pemberian pakan. Perawatan rutin mulai dari pengembunan, penjemuran, ekstra fooding (EF), mandi, pengerodongan, hingga pemasteran turut menjadi bagian penting. Bagi pemula yang ingin murai batu lebih aktif berkicau, terdapat sejumlah tahapan perawatan yang bisa diterapkan secara teratur.
Murai batu dikenal sebagai salah satu burung kicau yang banyak dipelihara untuk didengarkan suaranya maupun mengikuti perlombaan. Pemilik burung biasanya memiliki settingan masing-masing sesuai karakter dan kebutuhan murai batu.
Namun, bagi pemula, menentukan pola perawatan terkadang menjadi tantangan. Karena itu, beberapa perawatan dasar berikut dapat menjadi panduan untuk menjaga kondisi murai batu.
Baca Juga: Bikin Sertifikat Tanah di BPN Tak Bisa Asal, Begini Tahapan Lengkapnya
1. Rutin Melakukan Pengembunan
Pengembunan menjadi langkah pertama yang dapat dilakukan pada pagi hari. Waktu yang disarankan adalah setelah salat Subuh ketika matahari belum terbit.
Udara pada pagi hari yang masih sejuk dan dingin dinilai membuat murai batu lebih nyaman. Burung dapat ditempatkan di teras atau lokasi lain yang nantinya mendapatkan paparan sinar matahari.
Murai batu dapat dibiarkan di tempat tersebut hingga matahari terbit sehingga proses pengembunan sekaligus berlanjut menuju penjemuran.
Baca Juga: Mau Urus Sertifikat Tanah Baru? Siapkan Dokumen Ini Sebelum ke BPN
2. Jangan Menjemur Terlalu Lama
Setelah matahari terbit, murai batu dapat dijemur. Namun, durasinya tidak perlu terlalu lama. Dalam transkrip tersebut, penjemuran disarankan sekitar 30 menit.
Sinar matahari pagi disebut bermanfaat bagi kondisi tubuh burung. Meski begitu, pemilik perlu memperhatikan perilaku murai batu. Jika burung mulai terlihat gelisah, sebaiknya segera dipindahkan ke tempat yang lebih sejuk.
3. Atur Pemberian Extra Fooding
Extra fooding atau EF menjadi bagian penting dalam perawatan murai batu. Jangkrik dan kroto dapat diberikan sesuai kebutuhan masing-masing burung.
Porsi EF tidak harus disamakan antara satu burung dengan lainnya. Jika murai batu terbiasa mengonsumsi 10 jangkrik pada pagi hari, pemilik dapat mempertahankan jumlah tersebut.
Penambahan porsi juga perlu dilakukan secara bertahap sambil melihat respons burung. Cara tersebut dapat membantu pemilik mengetahui kebutuhan pakan yang sesuai.
Baca Juga: Cara Membuat Sertifikat Tanah Baru di BPN, Ini Syarat dan Tahapannya
4. Murai Batu Tidak Harus Dimandikan Setiap Hari
Mandi juga tidak harus dilakukan setiap hari. Pemilik tetap perlu menjaga kebersihan burung dan sangkar secara rutin.
Dalam materi tersebut, murai batu dapat dimandikan sekitar tiga hari sekali atau bahkan tujuh hari sekali, tergantung kondisi dan kebiasaan burung.
5. Kerodong pada Malam Hari
Murai batu merupakan burung teritorial yang dapat merespons keberadaan burung lain. Karena itu, pengerodongan pada malam hari dapat digunakan agar burung memiliki waktu beristirahat dengan lebih tenang.
Pengerodongan dilakukan terutama pada malam hari sehingga murai batu tidak terus terpapar rangsangan dari lingkungan sekitar.
6. Letakkan Dekat Suara Gemericik Air
Lokasi istirahat juga menjadi salah satu perhatian. Murai batu dapat ditempatkan di area yang memiliki suara gemericik air, seperti dekat akuarium, kolam ikan, kamar mandi, atau taman.
Suara air dalam materi tersebut disebut dapat membantu menciptakan suasana yang lebih tenang bagi burung.
7. Lakukan Pemasteran Secara Teratur
Pemasteran menjadi tahapan berikutnya yang dapat dilakukan untuk mendukung kemampuan berkicau murai batu. Materi suara dapat berasal dari burung asli maupun audio dari berbagai sumber.
Pemilik juga perlu memperhatikan pemilihan suara masteran. Tidak semua suara dianggap cocok untuk setiap murai batu sehingga penggunaannya perlu disesuaikan dengan karakter burung.
8. Konsisten dengan Perawatan
Pada akhirnya, perawatan murai batu membutuhkan konsistensi. Pakan berkualitas, pola perawatan yang teratur, serta penyesuaian dengan karakter burung menjadi bagian yang perlu diperhatikan.
Perawatan tambahan seperti latihan dan terapi dapat diterapkan pada tahap berikutnya. Sementara bagi pemula, rutinitas dasar yang dilakukan secara konsisten dapat menjadi langkah awal dalam menjaga kondisi murai batu agar tetap aktif berbunyi.
Editor : Gita Dwi Nuraini
Sumber : pinterest