BLITAR KAWENTAR - Ampiang Dadiah merupakan salah satu makanan tradisional masyarakat Minangkabau yang masih bertahan hingga sekarang. Kuliner khas Payakumbuh, Sumatera Barat, ini dibuat dari susu kerbau yang difermentasi secara alami menggunakan wadah bambu.
Makanan tersebut telah dikenal sejak zaman penjajahan Belanda. Meski zaman terus berubah, Ampiang Dadiah masih dipertahankan sebagai bagian dari kuliner tradisional Minangkabau.
Keunikan Ampiang Dadiah tidak hanya terletak pada bahan utamanya, tetapi juga proses fermentasinya. Susu kerbau segar dimasukkan ke dalam bambu yang baru dipotong, kemudian ditutup menggunakan daun pisang atau daun waru.
Baca Juga: Vivo X300 Pro Dipakai 7 Bulan, Kamera Flagship Ini Punya 4 Kekurangan
Difermentasi Secara Alami dalam Bambu
Proses pembuatan Dadiah terbilang sederhana. Susu kerbau murni dimasukkan ke dalam potongan bambu dengan panjang sekitar 15 hingga 30 sentimeter.
Bambu yang digunakan tidak dicuci terlebih dahulu. Dalam proses tradisional tersebut, mikroorganisme yang terdapat secara alami pada bambu berperan dalam proses fermentasi susu.
Setelah susu kerbau dimasukkan, bagian atas bambu ditutup menggunakan daun pisang atau daun waru. Susu kemudian dibiarkan menjalani proses fermentasi selama sekitar dua hingga tiga hari.
Dadiah dinyatakan siap disantap ketika susu telah mengalami perubahan tekstur dan menggumpal. Proses alami inilah yang membuat Dadiah memiliki cita rasa serta tekstur yang berbeda dari susu biasa.
Istilah Dadiah sendiri dalam bahasa Minang merujuk pada susu yang dikentalkan atau susu yang telah mengalami fermentasi. Sementara itu, Ampiang merupakan bahan pendamping yang terbuat dari beras ketan yang ditumbuk dan dikeringkan.
Baca Juga: OPPO Find X9 Pro vs Find X9 Ultra, Apa Bedanya dan Mana yang Lebih Masuk Akal?
Disajikan dengan Gula Aren dan Kelapa
Dadiah biasanya tidak disantap begitu saja. Makanan ini disajikan bersama beberapa bahan pendamping yang membuat cita rasanya semakin beragam.
Ampiang Dadiah dapat disajikan dengan ampiang atau emping ketan, parutan kelapa, serta siraman gula aren. Perpaduan tersebut menghasilkan kombinasi rasa yang terdiri dari rasa asam dari Dadiah, manis dari gula aren, serta cita rasa dari kelapa dan ampiang.
Salah seorang penikmat yang diwawancarai dalam tayangan tersebut mengaku sudah mengenal makanan ini sejak kecil karena diperkenalkan oleh orang tuanya.
Menurutnya, rasa asam dari susu yang difermentasi menjadi salah satu ciri khas Dadiah. Ketika dicampur dengan ampiang, kelapa, dan gula aren, rasanya menjadi lebih beragam.
Warisan Kuliner yang Mulai Sulit Ditemukan
Meski telah bertahan sejak zaman dahulu, Ampiang Dadiah kini tidak mudah ditemukan. Salah satu penyebabnya adalah produksi susu kerbau yang semakin berkurang.
Menurut pemilik Bofet Sianok, Sanusmawati, yang berusia 71 tahun, di Payakumbuh saat ini hanya tempat usahanya yang masih menyediakan Ampiang Dadiah. Padahal sebelumnya terdapat sejumlah warung dan rumah makan lain yang juga menyediakan makanan tradisional tersebut.
Bofet Sianok sendiri telah menyediakan menu Ampiang Dadiah secara turun-temurun. Sanusmawati merupakan generasi keempat yang meneruskan usaha tersebut dari keluarganya.
Ia tetap menyediakan Dadiah setiap hari sebagai bagian dari upaya mempertahankan makanan tradisional yang telah diwariskan keluarganya sejak masa penjajahan Belanda.
Menurut pegawai Bofet Sianok, Samuel Jedi, pelanggan yang datang tidak hanya berasal dari masyarakat lokal. Banyak pula warga perantauan yang sengaja mencari Ampiang Dadiah ketika pulang kampung.
Selain itu, terdapat pengunjung yang datang karena penasaran ingin mencicipi makanan berbahan dasar susu kerbau yang difermentasi secara alami.
Bagi masyarakat yang ingin mengenal kuliner tradisional Minangkabau, Ampiang Dadiah menjadi salah satu makanan yang menarik untuk dicoba. Perpaduan Dadiah, ampiang, kelapa, dan gula aren sekaligus memperlihatkan kekayaan cita rasa kuliner khas Sumatera Barat yang masih dipertahankan hingga kini.
Editor : Gita Dwi Nuraini
Sumber : pinterest