BLITAR KAWENTAR- Dadiah menjadi salah satu makanan tradisional Minangkabau yang memiliki cara pengolahan berbeda dari produk susu pada umumnya. Makanan ini dibuat dari susu kerbau yang dimasukkan ke dalam bambu dan dibiarkan mengalami proses fermentasi secara alami.
Bagi masyarakat Minang, Dadiah bukan sekadar makanan berbahan susu. Penganan tradisional ini juga menjadi bagian dari kuliner yang cukup sulit ditemukan karena produksi susu kerbau semakin terbatas.
Keunikan Dadiah tidak berhenti pada proses pembuatannya. Makanan ini juga dapat dinikmati dengan cara yang cukup beragam, mulai dari dipadukan dengan cabai dan bawang merah hingga disajikan bersama ampiang, kelapa, dan gula.
Baca Juga: Vivo X300 Jadi Flagship Compact, Spek Pro Masuk Bodi Mungil
Susu Kerbau Disimpan dalam Bambu
Proses pembuatan Dadiah dimulai dari susu kerbau. Dalam tayangan tersebut, susu kerbau diperoleh langsung dari peternak yang masih memelihara kerbau untuk diperah.
Salah satu tantangan yang dihadapi pembuat Dadiah adalah mendapatkan susu kerbau dalam jumlah yang konsisten. Hasil perahan dapat berbeda setiap hari sehingga proses produksinya tidak selalu mudah dilakukan.
Setelah susu diperoleh, bahan tersebut dibawa untuk diproses. Bambu kemudian disiapkan sebagai wadah fermentasi. Bambu yang digunakan harus sudah cukup tua dan dikeringkan terlebih dahulu.
Pengeringan dilakukan untuk mengurangi kandungan air pada bambu sebelum digunakan sebagai wadah susu. Setelah siap, susu kerbau dituangkan ke dalam bambu dan kemudian disimpan semalaman.
Proses tersebut menghasilkan susu yang mengalami perubahan tekstur dan menjadi Dadiah. Cara tradisional menggunakan bambu menjadi salah satu ciri khas dalam pengolahan makanan ini.
Baca Juga: OPPO Find X9 Pro vs Find X9 Ultra, Apa Bedanya dan Mana yang Lebih Masuk Akal?
Sulit Ditemukan karena Produksi Susu Kerbau Terbatas
Dadiah termasuk makanan yang tidak selalu mudah ditemukan. Salah satu alasannya berkaitan dengan terbatasnya jumlah pemerah susu kerbau.
Dalam tayangan tersebut disebutkan bahwa jumlah pemerah susu kerbau tidak banyak. Bahkan, hasil perahan setiap hari belum tentu sama.
Kondisi tersebut turut berpengaruh terhadap harga Dadiah. Produk yang dibuat secara terbatas kemudian dipasarkan ke sejumlah wilayah, termasuk Padang.
Dadiah yang dijual oleh pembuatnya dapat memiliki harga berbeda ketika sudah sampai di warung makan. Perbedaan harga tersebut berkaitan dengan proses mendapatkan bahan baku dan proses distribusinya.
Bisa Dinikmati dengan Balado
Masyarakat Minang memiliki cara tersendiri untuk menikmati Dadiah. Salah satunya adalah memadukannya dengan cabai atau balado.
Potongan cabai dan bawang merah digunakan sebagai pelengkap. Perpaduan tersebut memberikan rasa pedas dan gurih pada Dadiah yang memiliki cita rasa khas dari proses fermentasi susu.
Bagi orang yang baru pertama kali mencicipinya, rasa Dadiah bisa terasa unik. Perpaduan antara tekstur susu yang telah difermentasi dengan bumbu pedas memberikan pengalaman berbeda dibandingkan makanan berbahan susu lainnya.
Selain versi pedas, Dadiah juga dapat diolah menjadi Ampiang Dadiah yang memiliki cita rasa lebih manis.
Ampiang Dadiah dengan Kelapa dan Gula
Untuk membuat Ampiang Dadiah, ampiang atau bahan dari beras ketan terlebih dahulu direndam menggunakan air mendidih. Proses perendaman dapat dilakukan lebih dari sekali sesuai tekstur yang diinginkan.
Setelah ampiang siap, bahan tersebut kemudian dipadukan dengan kelapa muda, santan, dan gula tebu atau gula saka. Perpaduan tersebut menghasilkan sajian yang berbeda dari Dadiah dengan balado.
Dua cara penyajian ini memperlihatkan bagaimana satu bahan tradisional dapat dinikmati dengan karakter rasa yang berbeda. Ada versi yang menonjolkan rasa pedas dan ada pula yang menghadirkan rasa manis.
Keberadaan Dadiah sekaligus menunjukkan kekayaan kuliner Minangkabau yang masih mempertahankan teknik pengolahan tradisional. Mulai dari penggunaan susu kerbau, bambu sebagai wadah, hingga cara penyajiannya, setiap tahapan memiliki keunikan tersendiri.
Di tengah semakin banyaknya makanan modern, Dadiah menjadi salah satu kuliner tradisional yang menarik untuk terus dikenalkan. Bukan hanya karena rasanya, tetapi juga karena proses pembuatannya yang masih mempertahankan cara tradisional masyarakat Minang.
Editor : Gita Dwi Nuraini
Sumber : pinterest