Dadiah, Susu Kerbau Fermentasi Khas Minangkabau yang Masih Dibuat dalam Bambu

Gita Dwi Nuraini • Dipublikasikan Jumat, 25 September 2026 | 21:15 WIB
Dadiah merupakan kuliner tradisional Minangkabau berbahan susu kerbau yang difermentasi alami dalam bambu hingga bertekstur padat.(Gemini AI)
Dadiah merupakan kuliner tradisional Minangkabau berbahan susu kerbau yang difermentasi alami dalam bambu hingga bertekstur padat.(Gemini AI)

 

BLITAR KAWENTAR - Dadiah menjadi salah satu kuliner tradisional Sumatera Barat yang masih mempertahankan cara pengolahan secara turun-temurun. Makanan khas Minangkabau ini dibuat dari susu kerbau segar yang difermentasi secara alami di dalam ruas bambu.

Kuliner tersebut dikenal di kawasan Luhak Nan Tigo, wilayah dataran tinggi Sumatera Barat yang menjadi salah satu bagian penting dalam tradisi masyarakat Minangkabau. Dadiah tidak hanya menawarkan cita rasa yang khas, tetapi juga memperlihatkan teknik pengolahan makanan tradisional yang masih dipertahankan.

Berbeda dengan yogurt yang umumnya dibuat menggunakan starter fermentasi, proses pembuatan Dadiah dilakukan secara sederhana tanpa tambahan starter. Susu kerbau yang baru diperah langsung dipersiapkan untuk menjalani proses fermentasi alami.

Baca Juga: Vivo X300 Jadi Flagship Compact, Spek Pro Masuk Bodi Mungil

Fermentasi Alami di Dalam Bambu

Proses pembuatan Dadiah dimulai dari susu kerbau segar. Susu yang baru diperah terlebih dahulu disaring untuk memastikan tidak terdapat kotoran sebelum masuk ke tahap berikutnya.

Setelah disaring, susu kemudian dimasukkan ke dalam ruas bambu. Bambu tersebut menjadi wadah alami tempat susu menjalani proses fermentasi.

Bagian bambu kemudian ditutup dan dibiarkan selama sekitar satu hingga dua hari. Selama waktu tersebut, susu mengalami perubahan tekstur hingga menjadi lebih padat.

Proses fermentasi alami tersebut menghasilkan Dadiah dengan karakter yang berbeda dari susu biasa. Teksturnya menjadi lebih padat, sementara cita rasanya berubah menjadi asam khas hasil fermentasi.

Semakin lama proses penyimpanan, rasa asam pada Dadiah dapat semakin kuat. Teknik sederhana inilah yang menjadi salah satu keunikan dari makanan tradisional Minangkabau tersebut.

Baca Juga: Vivo X300 Jadi Flagship Compact, Ukuran Mini tapi Speknya Bikin Kaget

Disajikan Bersama Ampiang dan Gula Aren

Dadiah biasanya tidak disantap begitu saja. Salah satu cara penyajian yang dikenal adalah dengan menambahkan ampiang atau emping yang dibuat dari beras.

Dadiah kemudian dipadukan dengan gula aren. Perpaduan antara susu fermentasi, ampiang, dan gula aren menghasilkan kombinasi rasa asam, manis, serta gurih dalam satu sajian.

Cara penyajian tersebut juga menjadi bagian dari karakter kuliner tradisional masyarakat Minangkabau. Tekstur Dadiah yang padat berpadu dengan ampiang dan rasa manis dari gula aren.

Selain disajikan sebagai makanan dengan cita rasa manis, Dadiah di beberapa daerah juga dapat dinikmati sebagai pendamping nasi. Sajian tersebut dapat dilengkapi dengan sambal dan bawang untuk memberikan rasa yang lebih kuat dan segar.

Warisan Kuliner yang Mulai Terbatas

Di tengah perkembangan kuliner modern, keberadaan Dadiah kini semakin terbatas. Makanan tradisional tersebut tidak selalu mudah ditemukan dan hanya masih diproduksi di sejumlah wilayah Sumatera Barat.

Salah satu kawasan yang masih dikenal dengan keberadaan kuliner tradisional tersebut adalah sekitar Bukittinggi. Keberadaan Dadiah di wilayah tersebut menjadi bagian dari warisan gastronomi Minangkabau yang masih dapat ditemui hingga sekarang.

Keterbatasan produksi membuat Dadiah memiliki posisi tersendiri dalam kekayaan kuliner Sumatera Barat. Makanan ini tidak hanya menyimpan cita rasa khas, tetapi juga memperlihatkan bagaimana masyarakat terdahulu memanfaatkan bahan dan teknik sederhana untuk mengolah susu menjadi makanan yang dapat dikonsumsi.

Penggunaan bambu sebagai wadah fermentasi menjadi salah satu ciri yang membedakan Dadiah dari produk susu fermentasi modern. Proses tersebut juga memperlihatkan adanya pengetahuan kuliner yang diwariskan dari generasi ke generasi.

Keberadaan Dadiah menjadi bukti bahwa kuliner tradisional Minangkabau masih memiliki tempat di tengah perubahan zaman. Dengan mempertahankan bahan, proses fermentasi, dan cara penyajian tradisional, makanan berbahan susu kerbau ini tetap menjadi bagian dari identitas kuliner Sumatera Barat.

 

Editor : Gita Dwi Nuraini
Sumber : pinterest
Kuliner Tradisional Ampiang Dadiah kuliner Sumatera Barat Dadiah makanan khas Minangkabau