Ampiang Dadiah, Yogurt Tradisional Minangkabau yang Dibuat dari Susu Kerbau

Gita Dwi Nuraini • Dipublikasikan Jumat, 25 September 2026 | 21:20 WIB
Ampiang Dadiah merupakan kuliner khas Minangkabau dari susu kerbau yang difermentasi dalam bambu selama 24 jam.(Gemini AI)
Ampiang Dadiah merupakan kuliner khas Minangkabau dari susu kerbau yang difermentasi dalam bambu selama 24 jam.(Gemini AI)

 

BLITAR KAWENTAR- Ampiang Dadiah merupakan salah satu kuliner tradisional Minangkabau yang masih dibuat dengan cara sederhana dan diwariskan secara turun-temurun. Makanan ini dibuat dari susu kerbau yang difermentasi secara alami di dalam bambu selama kurang lebih 24 jam.

Salah satu lokasi pembuatan Dadiah berada di Nagari Sianok Anam Suku, Kecamatan Ampek Koto, Kabupaten Agam, Sumatera Barat. Kawasan tersebut berada di sekitar Lembah Ngarai Sianok dan menjadi salah satu tempat yang masih mempertahankan pembuatan yogurt tradisional Minangkabau.

Proses pembuatannya dimulai dari memerah susu kerbau hingga memasukkannya ke dalam bambu. Meski terlihat sederhana, mendapatkan susu kerbau dalam jumlah cukup ternyata menjadi salah satu tantangan tersendiri.

Baca Juga: Vivo X300 Jadi Flagship Compact, Spek Pro Masuk Bodi Mungil

Susu Kerbau Diperah Langsung dari Peternakan

Sebelum diperah, kerbau betina terlebih dahulu disiapkan oleh peternak. Dalam proses pemerahan, kerbau ditempatkan di antara dua batang bambu yang telah diikat pada pohon agar tidak banyak bergerak.

Susu kemudian diperah secara langsung dan dikumpulkan untuk digunakan sebagai bahan utama Dadiah. Proses pemerahan tersebut terlihat sederhana, tetapi membutuhkan keterampilan agar susu dapat diperoleh dengan baik.

Kerbau yang diternakkan juga mendapatkan perawatan rutin. Selain diberi pakan, kondisi kesehatan kerbau diperiksa untuk memastikan hewan tetap sehat dan dapat menghasilkan susu.

Menurut informasi dalam tayangan tersebut, hasil susu dari seekor kerbau relatif terbatas. Satu ekor kerbau dapat menghasilkan sekitar satu hingga satu setengah liter susu per hari.

Kondisi tersebut menjadi salah satu alasan mengapa produksi Dadiah tidak dapat dilakukan dalam jumlah besar. Jumlah peternak yang masih memproduksi susu kerbau untuk Dadiah juga disebut semakin sedikit.

Baca Juga: OPPO Find X9 Resmi, Baterai 7.025 mAh dan Kamera Hasselblad Jadi Andalan

Difermentasi dalam Bambu Selama 24 Jam

Setelah susu selesai diperah, tahap berikutnya adalah proses fermentasi. Susu kerbau segar dimasukkan ke dalam ruas bambu yang telah disiapkan.

Bambu tersebut kemudian ditutup dan dibiarkan selama satu hari atau sekitar 24 jam. Selama proses tersebut, susu mengalami fermentasi hingga berubah menjadi Dadiah.

Setelah proses fermentasi selesai, tekstur susu berubah menjadi lebih padat. Dadiah kemudian dapat dikeluarkan dari bambu dan disiapkan untuk disantap.

Penggunaan bambu menjadi salah satu ciri khas dalam proses pembuatan Dadiah. Teknik tersebut membuat kuliner tradisional ini memiliki karakter berbeda dibandingkan yogurt yang diproduksi secara modern.

Ampiang Dadiah Jadi Kuliner Tradisional

Dadiah biasanya disajikan bersama ampiang. Ampiang merupakan olahan beras ketan yang menjadi pendamping Dadiah.

Perpaduan keduanya menghasilkan sajian dengan cita rasa yang khas. Dadiah memiliki rasa asam dari proses fermentasi, sedangkan ampiang menjadi pelengkap dalam penyajiannya.

Kuliner tersebut masih dicari oleh masyarakat, termasuk warga perantauan yang ingin menikmati makanan tradisional Minangkabau. Namun, pemasaran Ampiang Dadiah menghadapi tantangan karena jumlah produksi dan peminatnya masih terbatas.

Dalam tayangan tersebut disebutkan bahwa peminat dari luar daerah juga ada, tetapi pemasaran Ampiang Dadiah masih perlu bersaing dengan berbagai produk yogurt yang dibuat secara modern.

Warisan Kuliner yang Perlu Dipertahankan

Ampiang Dadiah tidak hanya menarik karena rasanya, tetapi juga karena proses pembuatannya yang masih mempertahankan cara tradisional. Mulai dari pemerahan susu kerbau, penggunaan bambu sebagai wadah, hingga proses fermentasi selama 24 jam menjadi bagian dari perjalanan kuliner tersebut.

Keberadaan peternak dan pembuat Dadiah menjadi penting karena tanpa ketersediaan susu kerbau, produksi makanan tradisional ini akan semakin terbatas.

Ampiang Dadiah juga pernah masuk nominasi kategori minuman tradisional terpopuler asal Bukittinggi dalam Anugerah Pesona Indonesia 2020.

Di tengah semakin beragamnya produk makanan dan minuman modern, keberadaan Ampiang Dadiah menunjukkan bahwa kuliner tradisional Minangkabau masih memiliki daya tarik tersendiri. Keunikan bahan dan cara pembuatannya menjadi bagian dari kekayaan kuliner Sumatera Barat yang menarik untuk terus dikenalkan kepada generasi berikutnya.

 

Editor : Gita Dwi Nuraini
Sumber : pinterest
Ampiang Dadiah kuliner Minangkabau Dadiah makanan khas Sumatera Barat yogurt tradisional