Dadiah, Yogurt Alami Minangkabau dari Susu Kerbau yang Makin Langka

Gita Dwi Nuraini • Dipublikasikan Jumat, 25 September 2026 | 21:25 WIB
Dadiah merupakan yogurt alami Minangkabau berbahan susu kerbau yang difermentasi dalam bambu dan biasa disajikan bersama ampiang.(Gemini AI)
Dadiah merupakan yogurt alami Minangkabau berbahan susu kerbau yang difermentasi dalam bambu dan biasa disajikan bersama ampiang.(Gemini AI)

 

BLITAR KAWENTAR - Dadiah merupakan salah satu makanan tradisional khas Minangkabau yang memiliki cara pembuatan unik. Kuliner ini dikenal sebagai yogurt alami masyarakat Sumatera Barat karena dibuat dari susu kerbau yang difermentasi menggunakan bambu.

Berbeda dengan yogurt modern yang umumnya diproduksi menggunakan metode dan peralatan khusus, Dadiah masih dibuat dengan cara tradisional. Susu kerbau dimasukkan ke dalam bambu untuk menjalani proses fermentasi secara alami hingga menghasilkan tekstur dan cita rasa yang khas.

Keberadaan makanan tradisional ini juga tidak lepas dari budaya masyarakat Minangkabau. Salah satu penyajian yang cukup dikenal adalah Ampiang Dadiah, yakni Dadiah yang disantap bersama ampiang.

Baca Juga: Vivo X300 Pro Dipakai 7 Bulan, Kamera Flagship Ini Punya 4 Kekurangan

Susu Kerbau Difermentasi dalam Bambu

Bahan utama Dadiah adalah susu kerbau. Setelah diperah, susu kemudian dimasukkan ke dalam bambu yang digunakan sebagai wadah fermentasi.

Proses tersebut menjadi salah satu ciri khas dalam pembuatan Dadiah. Bambu digunakan sebagai tempat susu mengalami fermentasi hingga berubah menjadi makanan dengan tekstur yang lebih padat.

Teknik tradisional tersebut telah dikenal dan dipertahankan oleh masyarakat Sumatera Barat. Cara pengolahan yang sederhana membuat Dadiah memiliki karakter yang berbeda dibandingkan produk yogurt yang dibuat secara modern.

Selain menggunakan susu kerbau, dalam tayangan tersebut juga disebutkan adanya pembahasan mengenai susu dari hewan lain. Namun, Dadiah yang dikenal sebagai kuliner tradisional Minangkabau identik dengan penggunaan susu kerbau.

Baca Juga: OPPO Find X9 Pro Dipakai 2 Minggu, Kamera 200 MP dan Baterai 7.500 mAh Jadi Andalan

Ampiang Dadiah Jadi Sajian Khas

Dadiah biasanya disajikan dengan ampiang. Perpaduan keduanya kemudian dikenal sebagai Ampiang Dadiah.

Ampiang menjadi salah satu bahan yang melengkapi Dadiah ketika disantap. Sajian ini menjadi salah satu kuliner yang dapat ditemukan di kawasan Sumatera Barat, termasuk Bukittinggi.

Selain ampiang, dalam tradisi penyajian tertentu Dadiah juga dapat dipadukan dengan daun sirih. Kombinasi tersebut menjadi bagian dari kebiasaan masyarakat dalam menikmati makanan tradisional berbahan susu fermentasi.

Cita rasa Dadiah sendiri memiliki karakter khas dari proses fermentasinya. Ketika dipadukan dengan ampiang, pengalaman menyantap makanan tersebut menjadi berbeda dibandingkan mengonsumsi yogurt dalam bentuk modern.

Populasi Kerbau Jadi Tantangan

Di balik keunikan Dadiah, terdapat tantangan dalam mempertahankan produksinya. Salah satunya berkaitan dengan ketersediaan susu kerbau.

Dalam tayangan tersebut disebutkan bahwa populasi kerbau semakin berkurang. Kondisi tersebut kemudian turut berpengaruh terhadap ketersediaan bahan baku untuk membuat Dadiah.

Ketika jumlah kerbau dan produksi susu terbatas, pembuatan Dadiah secara otomatis juga tidak dapat dilakukan dalam jumlah besar. Hal ini membuat makanan tradisional tersebut semakin sulit ditemukan di sejumlah tempat.

Meski begitu, Dadiah masih memiliki peminat. Kuliner tradisional ini tidak hanya dinikmati masyarakat setempat, tetapi juga menarik perhatian wisatawan yang datang ke Sumatera Barat.

Pengunjung dari luar daerah, termasuk wisatawan asing, dapat menjadi bagian dari masyarakat yang mengenal makanan tradisional tersebut ketika berkunjung ke kawasan Minangkabau.

Kuliner yang Menjadi Bagian dari Budaya

Dadiah bukan sekadar makanan berbahan susu kerbau. Proses pembuatannya yang menggunakan bambu serta cara penyajiannya bersama ampiang menunjukkan adanya tradisi kuliner yang diwariskan dalam masyarakat Minangkabau.

Keberadaan Dadiah juga memperlihatkan bagaimana bahan pangan lokal dapat diolah dengan teknik sederhana menjadi makanan yang memiliki karakter tersendiri.

Namun, keberlanjutan kuliner ini tetap berkaitan dengan ketersediaan bahan baku. Berkurangnya populasi kerbau menjadi salah satu tantangan yang perlu diperhatikan agar produksi Dadiah tetap dapat berlangsung.

Bagi wisatawan yang berkunjung ke Bukittinggi dan kawasan Sumatera Barat, Ampiang Dadiah dapat menjadi salah satu kuliner tradisional yang menarik untuk dicoba. Selain mencicipi rasanya, pengunjung juga dapat mengenal proses dan tradisi yang berada di balik makanan khas Minangkabau tersebut.

 

Editor : Gita Dwi Nuraini
Sumber : pinterest
Ampiang Dadiah kuliner Minangkabau Dadiah makanan khas Sumatera Barat kuliner Bukittinggi