Sisi Kontroversial Soekarno: Romusha, Kehidupan Pribadi hingga Kritik Gaya Kepemimpinan

'Isyna Mufida Ma Radhita • Dipublikasikan Sabtu, 26 September 2026 | 10:40 WIB
Sisi kontroversial Soekarno mencakup Romusha, kehidupan pribadi, kritik gaya hidup hingga Demokrasi Terpimpin.
Sisi kontroversial Soekarno mencakup Romusha, kehidupan pribadi, kritik gaya hidup hingga Demokrasi Terpimpin.

 

JAKARTA - Soekarno dikenal sebagai Proklamator Kemerdekaan Indonesia sekaligus presiden pertama Republik Indonesia. Namun, di balik peran besarnya dalam sejarah, perjalanan politik dan kehidupan pribadinya juga menyimpan sejumlah kontroversi yang terus menjadi bahan pembahasan.

Video Auto Populer ID berjudul “TAK SE-BAIK DI BUKU SEJARAH? Sisi gelap Ir. Soekarno Bikin Heran, Bapak Proklamator Gemar Foya-Foya?” mengulas sejumlah sisi kontroversial tersebut. Pembahasannya tidak hanya menyentuh kehidupan pribadi Soekarno, tetapi juga keputusan politiknya pada masa pendudukan Jepang hingga periode Demokrasi Terpimpin.

Secara historis, Soekarno lahir di Surabaya pada 6 Juni 1901. Ia menempuh pendidikan di ELS Mojokerto dan HBS Surabaya sebelum melanjutkan pendidikan teknik di Technische Hoogeschool te Bandoeng, yang kini menjadi Institut Teknologi Bandung. Arsip Nasional Republik Indonesia (ANRI) mencatat Soekarno meraih gelar insinyur pada 25 Mei 1926.

Baca Juga: Guru Soekarno Sebelum Jadi Presiden, Sosro Kartono dan Rahasia di Balik Alif

Perjalanan politiknya kemudian berkembang melalui pendirian Partai Nasional Indonesia (PNI) pada 1927. Aktivitas tersebut membuatnya berhadapan dengan pemerintah kolonial Belanda. Soekarno sempat dipenjara di Sukamiskin dan menyampaikan pembelaan yang kemudian dikenal sebagai “Indonesia Menggugat”. Setelah itu, ia menjalani pengasingan di Ende dan Bengkulu.

Kontroversi Soekarno pada Masa Pendudukan Jepang

Salah satu bagian paling kontroversial dalam perjalanan Soekarno terjadi ketika Jepang menduduki Indonesia. Berbeda dengan sebagian tokoh pergerakan yang memilih bergerak secara sembunyi-sembunyi, Soekarno dan Mohammad Hatta mengambil strategi bekerja melalui organisasi bentukan Jepang.

Strategi tersebut kemudian dikaitkan dengan keterlibatan Soekarno dalam propaganda Jepang. Salah satu isu yang sering dibahas adalah Romusha, yakni pengerahan tenaga kerja untuk kepentingan Jepang.

Baca Juga: Guru Soekarno Sebelum Jadi Presiden, Sosok Sosro Kartono dan Filosofi Alif

Video tersebut menyoroti pengakuan Soekarno dalam autobiografinya mengenai keterlibatannya dalam mengajak masyarakat mengikuti pengerahan tenaga kerja tersebut. Namun, konteks pendudukan Jepang tetap penting diperhatikan karena kebijakan Romusha merupakan bagian dari sistem mobilisasi tenaga kerja pemerintahan pendudukan.

Pada periode yang sama, Soekarno juga terlibat dalam organisasi PUTERA. Pengalaman organisasi dan mobilisasi massa selama pendudukan Jepang kemudian menjadi salah satu bagian dari dinamika menuju kemerdekaan.

Kehidupan Pribadi hingga Kritik terhadap Kepemimpinan

Kehidupan pribadi Soekarno juga menjadi perhatian. Ia tercatat beberapa kali menikah dengan sejumlah perempuan, termasuk Siti Utari, Inggit Garnasih, Fatmawati, Hartini, Kartini Manoppo, Ratna Sari Dewi, Haryati, Yurike Sanger, dan Heldy Djafar.

Baca Juga: Soekarno dan Jalan Menuju Demokrasi Terpimpin, Saat Kekuasaan Presiden Makin Besar

Kehidupan rumah tangganya kemudian menjadi bagian dari berbagai tulisan dan pembahasan mengenai Soekarno. Hubungannya dengan Fatmawati, misalnya, berakhir dengan perpisahan setelah Soekarno menikah lagi dengan Hartini. Arsip ANRI juga mencatat adanya perbedaan sikap antara Fatmawati dan Soekarno mengenai poligami.

Selain kehidupan pribadi, video tersebut mengangkat kritik terhadap kebiasaan jamuan di lingkungan Istana. Kritik itu dikaitkan dengan catatan harian Soe Hok Gie yang merekam situasi politik dan sosial pada masa tersebut. Catatan semacam ini merupakan sudut pandang seorang pengamat dan aktivis pada zamannya, sehingga perlu dibaca dalam konteks sumber dan pengalaman penulisnya.

Kontroversi lainnya berkaitan dengan hubungan Soekarno dan Mohammad Hatta. Setelah Hatta mengundurkan diri sebagai wakil presiden pada 1956, arah politik pemerintahan Soekarno berkembang menuju Demokrasi Terpimpin. ANRI sendiri memiliki arsip pidato Soekarno mengenai Demokrasi Terpimpin pada 1959.

Baca Juga: Perjuangan Soekarno Menuju Kemerdekaan, dari Pergerakan hingga Proklamasi 1945

Di tengah berbagai kontroversi tersebut, Soekarno tetap memiliki peran penting dalam sejarah Indonesia. Ia bersama Hatta memproklamasikan kemerdekaan pada 17 Agustus 1945. Ia juga menyampaikan gagasan Pancasila pada sidang BPUPK 1 Juni 1945.

Dalam hubungan internasional, Soekarno turut berperan dalam proses yang mengantarkan Indonesia menjadi tuan rumah Konferensi Asia-Afrika 1955 di Bandung. Museum KAA mencatat Soekarno membuka konferensi tersebut pada 18 April 1955, sementara Kementerian Luar Negeri menyebut KAA sebagai salah satu proses awal lahirnya Gerakan Non-Blok.

Karena itu, pembahasan mengenai Soekarno tidak hanya dapat ditempatkan dalam satu sisi. Rekam sejarahnya mencakup perjuangan melawan kolonialisme, peran dalam kemerdekaan, kebijakan politik, kehidupan pribadi, sekaligus keputusan-keputusan kontroversial yang masih menjadi bahan kajian sejarah.

Baca Juga: Perjuangan Soekarno Menuju Kemerdekaan, dari Pergerakan hingga Proklamasi 1945

Editor : 'Isyna Mufida Ma Radhita
Sejarah Soekarno sisi kontroversial Soekarno ROMUSHA soekarno Proklamasi Kemerdekaan