BUKITTINGGI - Mohammad Hatta dikenal sebagai salah satu proklamator dan Wakil Presiden pertama Indonesia yang hidup sederhana, berpegang teguh pada prinsip, serta memiliki pemikiran kuat tentang ekonomi dan demokrasi. Namun, di balik sosok pendiam itu terdapat perjalanan panjang sejak masa kecil di Bukittinggi, perjuangan di Belanda, kisah cinta yang unik, hubungan dengan Soekarno, hingga keputusan meninggalkan jabatan wakil presiden. Arsip Nasional Republik Indonesia mencatat Hatta menjabat sebagai wakil presiden pada 1945-1956 dan menempuh pendidikan hingga Rotterdam, Belanda.
Masa Kecil Hatta dan Benih Perlawanan
Benih perjuangan Mohammad Hatta disebut mulai tumbuh sejak ia masih kecil. Dalam kisah yang diangkat dari memoarnya, Hatta pernah menyaksikan orang-orang Kamang ditangkap serdadu Belanda di sekitar Bukittinggi. Peristiwa tersebut membekas dalam ingatannya dan menumbuhkan kesadaran tentang ketidakadilan kolonial.
Hatta tumbuh dalam keluarga Minangkabau yang kuat dalam pendidikan agama dan perdagangan. Ia mendapat bimbingan keagamaan dari ulama setempat, sementara lingkungan keluarganya mengenalkan prinsip hidup, kedisiplinan, dan dunia perniagaan.
Baca Juga: Soekarno dan Hatta: Saat Perbedaan Politik Mengubah Arah Demokrasi Indonesia
Salah satu sosok paling penting dalam perjalanan pendidikannya adalah pamannya, Ayub Rasyid. Ketika Hatta berangkat ke Batavia pada 1919, sang paman menanggung kebutuhan hidup dan sekolahnya. Ayub juga membelikannya buku-buku sosial dan ekonomi yang kemudian ikut membentuk cakrawala intelektual Hatta.
Dukungan tersebut berlanjut ketika Hatta melanjutkan studi ke Belanda pada 1921. Di Rotterdam, ia tidak hanya belajar, tetapi juga aktif dalam pergerakan. Bersama para pelajar Indonesia, Hatta terlibat dalam organisasi yang kemudian berkembang menjadi Perhimpunan Indonesia.
Aktivitas politik membuat Hatta berhadapan dengan pemerintah kolonial. Ia sempat ditahan dan menjalani proses pengadilan sebelum akhirnya dibebaskan. Pengalaman di Belanda kemudian menjadi bagian penting dalam pembentukan pemikiran politik dan perjuangannya.
Baca Juga: Detik-Detik Proklamasi 17 Agustus 1945: Perjuangan Soekarno-Hatta Menuju Indonesia Merdeka
Janji Tidak Menikah Sebelum Indonesia Merdeka
Sisi lain yang menarik dari Mohammad Hatta adalah prinsipnya dalam urusan pribadi. Ia berjanji tidak menikah sebelum Indonesia merdeka. Prinsip tersebut membuat kehidupan asmaranya berjalan tidak biasa.
Hatta pernah menjalin hubungan dengan Ani, seorang perempuan yang aktif dalam pergerakan nasional. Keduanya bahkan sempat bertunangan, tetapi hubungan itu berakhir. Setelah Indonesia merdeka, Hatta kemudian meminang Rahmi, putri Ani.
Pada 18 November 1945, Hatta menikah dengan Rahmi. Salah satu hal yang dikenang dari pernikahan tersebut adalah mahar berupa buku Alam Pikiran Yunani, karya Hatta sendiri. Keduanya kemudian menjalani kehidupan rumah tangga dan dikaruniai tiga putri.
Kisah tersebut memperlihatkan sisi pribadi Hatta yang berbeda dari citra politiknya. Ia dikenal lebih banyak menunjukkan kasih sayang melalui tindakan daripada ungkapan.
Berbeda dengan Soekarno hingga Mundur dari Jabatan
Dalam perjuangan menuju kemerdekaan, Hatta bersama Soekarno memainkan peran penting. Keduanya mendampingi lahirnya Proklamasi Kemerdekaan pada 17 Agustus 1945. Hatta kemudian menjadi Wakil Presiden pertama Republik Indonesia.
Namun, hubungan politik keduanya tidak selalu berjalan mulus. Perbedaan pandangan semakin terlihat ketika Soekarno mendorong Demokrasi Terpimpin, sementara Hatta mempertahankan gagasan demokrasi parlementer dan prinsip konstitusional. Arsip Nasional RI juga mencatat perbedaan pandangan mengenai sistem pemerintahan menjadi salah satu faktor penting di balik keputusan Hatta meninggalkan jabatan wakil presiden.
Baca Juga: Bikin Tegang! Bung Hatta Pernah Pergi ke India dengan Paspor Palsu “Abdullah”
Pada 1 Desember 1956, Hatta resmi mengundurkan diri setelah sekitar 11 tahun menjabat. Keputusan tersebut menjadi salah satu titik paling penting dalam perjalanan politiknya.
Meski tidak lagi berada di pemerintahan, Hatta tetap menyampaikan kritik terhadap arah politik negara. Bahkan, perbedaan dengan Soekarno tidak sepenuhnya menghapus hubungan personal keduanya. Saat Soekarno berada dalam kondisi kritis pada 1970, Hatta datang menjenguk sahabat sekaligus rekan seperjuangannya itu.
Perjalanan Mohammad Hatta menunjukkan bahwa perjuangan seorang tokoh bangsa tidak hanya berlangsung di panggung kekuasaan. Dari pengalaman masa kecil, pendidikan, kehidupan keluarga, perjuangan kemerdekaan, hingga keberaniannya meninggalkan jabatan, Hatta dikenal sebagai sosok yang berusaha mempertahankan prinsip di tengah perubahan politik Indonesia.
Baca Juga: Bikin Tegang! Bung Hatta Pernah Pergi ke India dengan Paspor Palsu “Abdullah”
Editor : 'Isyna Mufida Ma Radhita