Mohammad Hatta, Sang Proklamator yang Pernah Dipenjara Belanda hingga Mundur dari Jabatan

'Isyna Mufida Ma Radhita • Dipublikasikan Sabtu, 26 September 2026 | 11:20 WIB
Mohammad Hatta melewati penjara, pengasingan, hingga menjadi Wakil Presiden pertama sebelum mundur karena beda pandangan politik.
Mohammad Hatta melewati penjara, pengasingan, hingga menjadi Wakil Presiden pertama sebelum mundur karena beda pandangan politik.

 

JAKARTA - Mohammad Hatta merupakan salah satu tokoh penting dalam perjuangan kemerdekaan Indonesia. Dikenal sebagai founding father bersama Soekarno sekaligus Bapak Koperasi Indonesia, perjalanan Mohammad Hatta tidak lepas dari pendidikan, aktivitas politik, penjara, pengasingan, hingga perannya sebagai Wakil Presiden pertama Republik Indonesia. Perbedaan pandangan politik dengan Soekarno kemudian membuat Hatta memilih mengundurkan diri dari jabatan pada 1956.

Pendidikan dan Awal Pergerakan Mohammad Hatta

Mohammad Hatta lahir di Bukittinggi, Sumatera Barat, pada 12 Agustus 1902 dengan nama Muhammad Attar. Ia berasal dari keluarga yang kuat dalam menjalankan ajaran Islam. Ayahnya, Muhammad Jamil, merupakan keturunan ulama Naqsyabandiyah di Payakumbuh, sedangkan ibunya, Siti Saleha, berasal dari keluarga pedagang di Bukittinggi.

Pendidikan Hatta dimulai di sekolah Melayu pada 1913. Setelah menyelesaikan pendidikan dasar, ia melanjutkan ke Europeesche Lagere School (ELS) di Padang, kemudian MULO. Pada 1921, Hatta menyelesaikan pendidikan HBS dengan hasil baik sebelum melanjutkan studi ekonomi ke Nederlandsche Handels-Hoogeschool di Rotterdam, Belanda, yang kini dikenal sebagai Erasmus University.

Baca Juga: Soekarno dan Hatta: Saat Perbedaan Politik Mengubah Arah Demokrasi Indonesia

Ketertarikannya terhadap organisasi dan politik sudah terlihat sejak masih bersekolah. Hatta menjadi bendahara Jong Sumatranen Bond cabang Padang dan kemudian dipercaya menduduki posisi serupa di kantor pusat organisasi tersebut di Jakarta.

Ketika berada di Belanda, Hatta bergabung dengan Indische Vereeniging pada 1922. Organisasi yang awalnya menjadi perkumpulan mahasiswa Hindia Belanda itu berkembang menjadi gerakan politik seiring meningkatnya kesadaran nasionalisme.

Pemikiran Hatta semakin berkembang karena ia aktif mengikuti berbagai ceramah politik. Salah satu tokoh yang dikaguminya adalah Abdul Muis. Pada 1927, Hatta juga bergabung dengan organisasi yang menentang kolonialisme di Belanda. Di sana ia bertemu dengan Jawaharlal Nehru, tokoh nasionalis India.

Baca Juga: Jaring Atlet Muda Potensial di Blitar, IPSI Gelar Kompetisi Wali Cup di GOR Soekarno Hatta

Ditangkap Belanda hingga Diasingkan

Aktivitas politik Hatta membuat pemerintah kolonial Belanda mengambil tindakan. Pada 23 September 1927, ia ditangkap dan dipenjara di Den Haag. Hatta baru dibebaskan pada 22 Maret 1928 setelah menyampaikan pembelaan yang kemudian dikenal dengan judul Indonesia Vrij atau Indonesia Merdeka.

Hatta kembali ke Indonesia pada 1932. Ia kemudian bergabung dengan organisasi Pendidikan Nasional Indonesia yang berupaya meningkatkan kesadaran politik masyarakat melalui pendidikan dan pelatihan.

Aktivitas tersebut kembali membuatnya berhadapan dengan pemerintah kolonial. Pada Februari 1934, Hatta ditangkap bersama Sutan Sjahrir. Ia kemudian diasingkan ke Boven Digoel di Papua dan selanjutnya dipindahkan ke Banda Neira, Maluku.

Baca Juga: Detik-Detik Proklamasi 17 Agustus 1945: Perjuangan Soekarno-Hatta Menuju Indonesia Merdeka

Masa pengasingan tidak menghentikan perjuangan Hatta. Ia tetap menggunakan pemikiran dan tulisan sebagai bagian dari perjuangan politik. Setelah Jepang menduduki Indonesia dan Belanda menyerah, Hatta bersama Soekarno, Ki Hajar Dewantara, dan K.H. Mas Mansyur memimpin Putera.

Mendampingi Soekarno Memproklamasikan Kemerdekaan

Menjelang kemerdekaan, Hatta dipercaya menjadi Wakil Ketua Panitia Persiapan Kemerdekaan Indonesia (PPKI). Seluruh pemikiran dan aktivitas politiknya kemudian bermuara pada perjuangan kemerdekaan.

Pada 17 Agustus 1945, Hatta mendampingi Soekarno membacakan Proklamasi Kemerdekaan Indonesia. Sehari kemudian, dalam sidang PPKI, Hatta ditetapkan sebagai Wakil Presiden pertama Republik Indonesia.

Baca Juga: Bikin Tegang! Bung Hatta Pernah Pergi ke India dengan Paspor Palsu “Abdullah”

Selain menjabat wakil presiden, Hatta pernah menjadi Perdana Menteri sekaligus Menteri Pertahanan pada 1948-1949. Ia juga menjabat Menteri Luar Negeri dalam pemerintahan Republik Indonesia Serikat pada 1949-1950.

Namun, perjalanan politik Hatta tidak berakhir di pemerintahan. Perbedaan pandangan dengan Soekarno semakin tajam, terutama mengenai arah demokrasi dan pengelolaan negara.

Pada 1 Desember 1956, setelah sekitar 11 tahun menjabat, Hatta resmi mengundurkan diri sebagai wakil presiden. Setelah itu, ia tetap menyuarakan pemikirannya dari luar pemerintahan, salah satunya melalui buku Demokrasi Kita yang berisi kritik terhadap kebijakan politik Soekarno.

Baca Juga: Bikin Tegang! Bung Hatta Pernah Pergi ke India dengan Paspor Palsu “Abdullah”

Hatta meninggal dunia pada 14 Maret 1980 di Rumah Sakit Cipto Mangunkusumo. Enam tahun kemudian, pemerintah menganugerahinya gelar Pahlawan Proklamator bersama Soekarno.

Jejak Mohammad Hatta menunjukkan perjalanan seorang tokoh yang menggabungkan pendidikan, pemikiran, perjuangan politik, dan prinsip kenegaraan hingga akhir hayatnya.

Editor : 'Isyna Mufida Ma Radhita
proklamator indonesia Mohammad Hatta Wakil Presiden Indonesia Boven Digoel soekarno