SERANG - Aktivitas Gunung Anak Krakatau di Selat Sunda, Banten, meningkat dari Level II (Waspada) menjadi Level III (Siaga) setelah mengalami erupsi berulang dalam sepekan terakhir. Petugas mencatat 26 kali erupsi bertipe strombolian yang disertai tremor menerus pada Jumat. Meski kondisi visual gunung mulai menunjukkan penurunan dan saat ini hanya terlihat mengeluarkan asap putih, suplai magma yang terindikasi dari aktivitas kegempaan masih menjadi perhatian. Masyarakat, nelayan, dan wisatawan diminta menjauhi kawasan gunung dalam radius 5 kilometer.
Peningkatan status Gunung Anak Krakatau mendorong petugas pos pengamatan gunung api di Pasauran, Kabupaten Serang, untuk terus memantau perkembangan aktivitas vulkanik. Pengamatan dilakukan melalui sejumlah parameter, termasuk kegempaan dan deformasi, guna mengetahui perubahan kondisi gunung api yang berada di Selat Sunda tersebut.
Gunung Anak Krakatau Tercatat 26 Kali Erupsi
Berdasarkan keterangan petugas pengamatan, aktivitas erupsi Gunung Anak Krakatau menunjukkan peningkatan dalam beberapa hari terakhir. Pada Jumat, tercatat sebanyak 26 kali erupsi bertipe strombolian yang disertai tremor menerus.
Baca Juga: Polytron Fox 350 Diuji di Jalan Raya, Motor Listrik Bergaya Maxi Scooter Ini Punya Catatan!
Erupsi strombolian merupakan tipe letusan yang berlangsung secara berkala atau berselang. Dalam kasus Anak Krakatau, periode erupsi tersebut disebut bersifat intermiten, sehingga aktivitasnya dapat terjadi sewaktu-waktu.
Selama periode pengamatan, asap kawah terpantau berwarna putih hingga kelabu dengan ketinggian sekitar 20 sampai 100 meter dari puncak. Pada pengamatan terbaru, gunung terlihat hanya mengeluarkan asap putih.
Meski tampilan visual mulai menunjukkan penurunan aktivitas, kondisi tersebut belum dapat dijadikan alasan untuk mengabaikan potensi erupsi susulan. Petugas masih melakukan pemantauan terhadap perubahan aktivitas vulkanik untuk mengantisipasi perkembangan yang dapat terjadi secara tiba-tiba.
Tremor Menerus Mengindikasikan Suplai Magma
Petugas menjelaskan bahwa pemantauan Gunung Anak Krakatau dilakukan dengan memperhatikan sejumlah parameter, termasuk aktivitas seismik dan deformasi. Hasil pengamatan menunjukkan adanya sedikit peningkatan pada beberapa parameter tersebut.
Baca Juga: Baterai Motor Listrik Hampir Habis? SPKLU Mobil Bisa Jadi Solusi, Ini Caranya
Erupsi terakhir yang tercatat terjadi pada 9 Oktober pukul 21.20 WIB. Setelah kejadian itu, hingga waktu pengamatan dalam laporan tersebut, belum tercatat erupsi kembali.
Namun, kegempaan gunung masih didominasi tremor menerus. Kondisi ini mengindikasikan bahwa suplai magma di dalam sistem gunung api masih berlangsung.
Karena itu, meskipun tidak ada erupsi baru yang tercatat setelah kejadian terakhir tersebut, masyarakat tetap perlu memperhatikan rekomendasi keselamatan dari petugas. Perubahan aktivitas gunung api dapat berlangsung dinamis sehingga pemantauan terus dilakukan untuk menilai perkembangan kondisinya.
Radius 5 Kilometer dan Pulau Baru Dibatasi
Seiring dengan status Level III (Siaga), masyarakat, nelayan, wisatawan, dan pendaki diminta tidak mendekati pusat erupsi Gunung Anak Krakatau dalam radius 5 kilometer. Pembatasan juga diberlakukan dalam radius 1 kilometer dari Pulau Baru yang terbentuk di sektor barat laut dan tenggara gunung.
Petugas mengingatkan adanya sejumlah potensi bahaya yang perlu diwaspadai, antara lain lontaran batu pijar, hujan abu lebat, aliran lava, serta erupsi sekunder. Ancaman tersebut menjadi alasan penting bagi masyarakat untuk mematuhi batas aman yang telah ditetapkan.
Aktivitas wisata maupun kegiatan lain di zona terlarang sebaiknya dihindari sampai terdapat perubahan rekomendasi dari otoritas berwenang.
Warga Banten dan Lampung Diminta Tetap Tenang
Selain meningkatkan kewaspadaan terhadap aktivitas vulkanik, masyarakat pesisir Banten dan Lampung diminta tetap tenang dan tidak mudah mempercayai informasi yang tidak dapat dipertanggungjawabkan mengenai potensi tsunami.
Informasi terkait kondisi Gunung Anak Krakatau sebaiknya diperoleh melalui sumber resmi, termasuk petugas pengamatan gunung api dan instansi kebencanaan terkait.
Masyarakat diimbau mengikuti perkembangan informasi serta mematuhi arahan petugas demi keselamatan bersama. Kewaspadaan diperlukan, tetapi penyebaran kabar yang belum terverifikasi juga perlu dihindari agar tidak menimbulkan kepanikan di tengah masyarakat.
Editor : Maylanni Diana Fitri