JAKARTA - Harga minyak dunia masih bertahan di level tinggi di tengah upaya perdamaian antara Iran dan Amerika Serikat yang menjadi sorotan pelaku pasar. Minyak mentah Brent mendekati US$111 per barel, sedangkan West Texas Intermediate (WTI) diperdagangkan di atas US$99 per barel. Di sisi lain, nilai tukar rupiah melemah ke level Rp17.287 per dolar AS pada perdagangan Rabu (29/4/2026). Pergerakan kedua instrumen pasar tersebut dipengaruhi ketidakpastian pasokan energi global akibat gangguan pelayaran di Selat Hormuz.
Harga Minyak Dunia Masih Bertahan di Level Tinggi
Pergerakan harga minyak dunia menunjukkan tekanan yang belum sepenuhnya mereda meskipun muncul optimisme terhadap upaya penyelesaian konflik di Timur Tengah. Investor kini mencermati perkembangan negosiasi antara Iran dan Amerika Serikat, terutama terkait pembukaan kembali jalur pelayaran di Selat Hormuz.
Baca Juga: Polytron Fox 350 Punya Cruise Control, Ini Kelebihan dan Kekurangannya
Berdasarkan laporan dalam tayangan Metro TV, minyak mentah WTI diperdagangkan di atas US$99 per barel setelah sempat menguat 3,7 persen pada perdagangan Selasa. Sementara itu, minyak mentah Brent ditutup mendekati US$111 per barel.
Harga tersebut mencerminkan kekhawatiran pasar terhadap kelangsungan pasokan energi dunia. Selat Hormuz merupakan jalur strategis bagi pengiriman minyak mentah dan berbagai produk energi dari kawasan Timur Tengah ke pasar internasional.
Gangguan pelayaran di kawasan tersebut berpotensi menghambat distribusi energi, meningkatkan biaya pengiriman, serta memperbesar ketidakpastian bagi negara-negara pengimpor minyak.
Negosiasi Iran-AS Jadi Perhatian Investor
Sentimen positif sempat muncul setelah Presiden Amerika Serikat Donald Trump menyatakan Iran meminta Washington mencabut blokade laut di Selat Hormuz.
Baca Juga: Baterai Motor Listrik Hampir Habis? SPKLU Mobil Bisa Jadi Solusi, Ini Caranya
Pernyataan tersebut menjadi salah satu perkembangan yang diperhatikan investor karena negosiasi kedua negara berpotensi memengaruhi kelancaran distribusi energi global.
Meski demikian, optimisme perdamaian belum sepenuhnya menghilangkan kekhawatiran pasar. Pelaku pasar masih menunggu perkembangan konkret yang dapat memastikan jalur pelayaran kembali beroperasi secara normal.
Sejak konflik pecah pada akhir Februari 2026, aktivitas pelayaran di Selat Hormuz dilaporkan mengalami gangguan serius. Kondisi tersebut berdampak pada aliran minyak mentah, gas alam, hingga produk olahan minyak yang melewati kawasan itu.
Ketidakpastian mengenai kapan pasokan energi kembali normal membuat harga minyak masih rentan mengalami perubahan tajam. Perkembangan negosiasi Iran-AS pun menjadi salah satu faktor penting yang dapat menentukan arah pergerakan harga selanjutnya.
IEA Peringatkan Risiko Guncangan Pasokan Energi
Badan Energi Internasional atau International Energy Agency (IEA) menyebut krisis tersebut sebagai guncangan pasokan terbesar dalam sejarah.
Gangguan pasokan energi tidak hanya berdampak pada pasar minyak, tetapi juga berpotensi memicu tekanan ekonomi yang lebih luas. Kenaikan harga energi dapat meningkatkan biaya transportasi, produksi industri, dan distribusi barang.
Jika tekanan tersebut berlangsung lama, biaya tambahan berisiko diteruskan kepada konsumen melalui kenaikan harga barang dan jasa. Situasi ini turut memperbesar kekhawatiran terhadap inflasi global.
Karena itu, perkembangan konflik dan pemulihan jalur distribusi energi menjadi perhatian penting bagi pemerintah, pelaku industri, serta investor di berbagai negara.
Rupiah Melemah ke Rp17.287 per Dolar AS
Di pasar keuangan domestik, nilai tukar rupiah dibuka pada level Rp17.287 per dolar AS pada Rabu (29/4/2026). Posisi tersebut melemah 0,26 persen dibandingkan penutupan perdagangan sebelumnya.
Meski tekanan terhadap rupiah sedikit mereda di tengah munculnya harapan perdamaian Iran-AS, mata uang Indonesia masih menghadapi ketidakpastian eksternal.
Analis memperkirakan rupiah berpotensi bergerak dalam rentang terbatas dengan kecenderungan melemah tipis. Nilai tukar diproyeksikan berada di kisaran Rp17.210 hingga Rp17.350 per dolar AS.
Pergerakan tersebut masih dipengaruhi perkembangan geopolitik, harga energi, dan sentimen investor terhadap pasar keuangan global.
Data Penerimaan Pajak Jadi Katalis Rupiah
Selain perkembangan konflik Timur Tengah, pelaku pasar juga menantikan paparan kondisi Anggaran Pendapatan dan Belanja Negara (APBN), khususnya data penerimaan pajak dari Kementerian Keuangan.
Informasi tersebut berpotensi memengaruhi persepsi investor terhadap kondisi fiskal dan perekonomian Indonesia.
Apabila data penerimaan pajak menunjukkan perkembangan positif, sentimen pasar terhadap rupiah berpeluang membaik. Sebaliknya, ketidakpastian global dan tekanan harga energi masih dapat membatasi penguatan mata uang domestik.
Dengan demikian, arah harga minyak dunia dan pergerakan rupiah dalam waktu dekat akan sangat bergantung pada perkembangan negosiasi Iran-AS, kondisi pasokan energi global, serta data ekonomi dari dalam negeri.
Pelaku pasar kini mencermati kombinasi faktor geopolitik dan ekonomi tersebut untuk menentukan langkah investasi berikutnya.
Editor : Maylanni Diana Fitri