Harga Minyak Dunia Membara, Rupiah Nyaris Rp17.300 per Dolar AS, Ini yang Terjadi

Maylanni Diana Fitri • Dipublikasikan Rabu, 14 Oktober 2026 | 19:35 WIB
Harga minyak dunia mendekati US$111 per barel dan rupiah melemah ke Rp17.287. Simak dampak konflik Iran-AS bagi pasar!(pinterest)
Harga minyak dunia mendekati US$111 per barel, sementara rupiah melemah ke Rp17.287. Simak pemicu dan dampaknya!(pinterest)

JAKARTA - Harga minyak dunia masih bertahan di level tinggi di tengah harapan meredanya konflik Iran dan Amerika Serikat (AS). Minyak mentah Brent mendekati US$111 per barel, sedangkan West Texas Intermediate (WTI) bertahan di atas US$99 per barel. Pada saat bersamaan, rupiah melemah 0,26 persen ke level Rp17.287 per dolar AS pada perdagangan Rabu (29/4/2026). Investor kini mencermati negosiasi terkait blokade di Selat Hormuz yang berpotensi menentukan kelancaran pasokan energi global sekaligus memengaruhi sentimen pasar keuangan.

Harga Minyak Dunia Masih Dibayangi Konflik Timur Tengah

Perkembangan konflik di Timur Tengah menjadi salah satu faktor utama yang diperhatikan pelaku pasar komoditas. Meski muncul harapan tercapainya kesepakatan damai, risiko gangguan pasokan minyak belum sepenuhnya hilang.

Baca Juga: Polytron Fox 350 Resmi Dibahas, Motor Listrik Rp15 Jutaan Ini Bisa Tempuh 136 Km!

Dalam laporan yang disampaikan Metro TV, minyak mentah West Texas Intermediate (WTI) diperdagangkan di atas US$99 per barel. Harga tersebut bertahan setelah komoditas itu sempat mengalami kenaikan sebesar 3,7 persen pada perdagangan Selasa.

Sementara itu, minyak mentah Brent ditutup mendekati US$111 per barel. Tingginya harga minyak mencerminkan kekhawatiran investor terhadap pasokan energi yang terganggu akibat situasi geopolitik di kawasan Timur Tengah.

Kondisi ini membuat perkembangan diplomasi antara Iran dan AS menjadi perhatian utama. Pasalnya, perubahan situasi keamanan di kawasan tersebut dapat memengaruhi distribusi minyak mentah dan produk energi ke berbagai negara.

Selat Hormuz Jadi Kunci Pasokan Energi Global

Salah satu titik krusial dalam konflik tersebut adalah Selat Hormuz. Jalur pelayaran ini memiliki peran strategis dalam perdagangan energi internasional karena menjadi lintasan penting pengiriman minyak mentah, gas alam, dan produk olahan minyak.

Gangguan pelayaran di kawasan tersebut sejak konflik pecah pada akhir Februari 2026 telah meningkatkan kekhawatiran terhadap ketersediaan pasokan energi dunia.

Investor kini menantikan perkembangan negosiasi mengenai pencabutan blokade laut yang berkaitan dengan Iran dan AS. Dalam tayangan Metro TV, Presiden AS Donald Trump disebut menyatakan bahwa Iran meminta Washington mencabut blokade laut di Selat Hormuz.

Pernyataan tersebut memunculkan harapan bahwa jalur distribusi energi dapat kembali beroperasi lebih lancar apabila kedua pihak mencapai kesepakatan.

Namun, pelaku pasar masih perlu mencermati realisasi dari proses negosiasi tersebut. Selama ketidakpastian mengenai pembukaan jalur pelayaran belum teratasi, harga minyak berpotensi tetap bergejolak.

Krisis Energi Picu Kekhawatiran Inflasi Global

Dampak konflik tidak terbatas pada perdagangan minyak. Gangguan pasokan energi juga berpotensi memengaruhi biaya produksi, transportasi, dan distribusi barang di berbagai negara.

Badan Energi Internasional atau International Energy Agency (IEA) menyebut krisis tersebut sebagai guncangan pasokan terbesar dalam sejarah.

Pernyataan itu menggambarkan besarnya risiko yang dihadapi pasar energi ketika jalur distribusi utama mengalami gangguan. Jika harga minyak bertahan tinggi dalam waktu lama, tekanan biaya dapat merambat ke berbagai sektor ekonomi.

Kenaikan biaya energi juga berpotensi mendorong inflasi karena perusahaan dapat meneruskan sebagian beban operasional kepada konsumen. Kondisi tersebut menjadi tantangan bagi negara-negara yang masih bergantung pada impor energi.

Karena itu, perkembangan harga minyak dunia turut menjadi indikator penting bagi investor dalam memperkirakan arah perekonomian global.

Rupiah Melemah ke Rp17.287 per Dolar AS

Di pasar valuta asing, rupiah membuka perdagangan Rabu (29/4/2026) pada level Rp17.287 per dolar AS. Posisi ini melemah 0,26 persen dibandingkan perdagangan sebelumnya.

Tekanan terhadap mata uang domestik sedikit mereda seiring munculnya harapan perdamaian Iran-AS. Meski demikian, ketidakpastian geopolitik masih menjadi faktor yang dapat memengaruhi pergerakan rupiah.

Analis memperkirakan rupiah bergerak dalam rentang terbatas dengan kecenderungan melemah tipis. Nilai tukar diproyeksikan berada di kisaran Rp17.210 hingga Rp17.350 per dolar AS.

Rentang tersebut menunjukkan bahwa pasar masih mencermati berbagai faktor eksternal maupun domestik sebelum menentukan arah pergerakan berikutnya.

Data Penerimaan Pajak Dinantikan Pasar

Selain konflik Timur Tengah, perhatian investor tertuju pada paparan kondisi Anggaran Pendapatan dan Belanja Negara (APBN) oleh Kementerian Keuangan, khususnya perkembangan penerimaan pajak.

Data tersebut dinilai berpotensi memengaruhi sentimen pasar terhadap kondisi fiskal Indonesia. Perkembangan penerimaan pajak yang positif dapat menjadi katalis bagi perbaikan kepercayaan investor terhadap perekonomian nasional.

Sebaliknya, tekanan dari luar negeri, terutama ketidakpastian pasokan energi dan pergerakan harga minyak, masih dapat membatasi penguatan rupiah.

Dengan demikian, pelaku pasar akan terus memantau perkembangan negosiasi Iran-AS, kondisi Selat Hormuz, serta data ekonomi domestik. Ketiga faktor tersebut menjadi perhatian dalam membaca arah harga minyak dunia dan nilai tukar rupiah ke depan.

Editor : Maylanni Diana Fitri
Harga Minyak Dunia Selat Hormuz Iran-AS harga minyak Brent rupiah melemah