Rupiah Anjlok ke Rp17.660 per Dolar AS, Pengumuman BI Rate Jadi Penentu?

Maylanni Diana Fitri • Dipublikasikan Rabu, 14 Oktober 2026 | 20:10 WIB
Rupiah melemah ke Rp17.660 per dolar AS. Simak pengaruh dolar global, ketegangan geopolitik, dan agenda BI Rate pekan ini.(pinterest)
Rupiah melemah ke Rp17.660 per dolar AS. Simak pengaruh dolar global, ketegangan geopolitik, dan agenda BI Rate pekan ini.(pinterest)

JAKARTA - Nilai tukar rupiah kembali melemah terhadap dolar Amerika Serikat (AS) hingga menyentuh Rp17.660 per dolar AS dalam perdagangan pagi. Rupiah membuka perdagangan pada level Rp17.618 per dolar AS, terkoreksi 0,36 persen dari posisi sebelumnya. Tekanan terhadap mata uang Garuda terjadi ketika indeks dolar AS bertahan di level 99,38 dan ketidakpastian geopolitik global masih membayangi pasar keuangan. Di tengah kondisi tersebut, investor turut menantikan data utang luar negeri Indonesia serta pengumuman suku bunga acuan Bank Indonesia (BI) yang menjadi agenda penting pekan ini.

Rupiah Dibuka Melemah, Tekanan Berlanjut

Pergerakan rupiah pada perdagangan pagi menunjukkan tekanan yang berlanjut setelah pembukaan. Berdasarkan laporan dalam tayangan Metro TV, rupiah dibuka pada pukul 09.00 WIB dengan pelemahan sebesar 0,36 persen ke posisi Rp17.618 per dolar AS.

Baca Juga: Polytron Fox 350, Motor Listrik Maxi Scooter dengan Cruise Control dan Fitur Modern

Pelemahan tersebut berlanjut hingga rupiah menyentuh Rp17.660 per dolar AS pada pukul 09.13 WIB. Pergerakan ini menempatkan nilai tukar rupiah pada level yang menjadi perhatian pelaku pasar.

Nilai tukar rupiah dipengaruhi berbagai faktor, mulai dari kondisi ekonomi dalam negeri hingga perkembangan pasar internasional. Permintaan terhadap dolar AS, perubahan ekspektasi suku bunga, dan pergerakan arus modal asing dapat memengaruhi dinamika nilai tukar.

Karena itu, pelemahan pada awal perdagangan perlu dicermati bersama perkembangan indikator ekonomi lainnya. Posisi rupiah pada sesi pagi juga belum dapat dijadikan gambaran pasti mengenai pergerakan hingga penutupan perdagangan.

Dolar AS Menguat, Pergerakan Rupiah Terbatas

Penguatan dolar AS menjadi salah satu faktor yang membayangi mata uang negara-negara lain. Dalam laporan tersebut, indeks dolar AS yang mengukur kekuatan dolar terhadap enam mata uang utama dunia bertahan pada level 99,38.

Penguatan indeks tersebut menunjukkan dolar AS masih memiliki posisi kuat terhadap sejumlah mata uang pembanding. Kondisi ini berpotensi membatasi ruang penguatan rupiah, terutama ketika pelaku pasar turut mempertimbangkan ketidakpastian ekonomi global.

Selain indeks dolar, kontrak rupiah terhadap dolar AS di pasar non-deliverable forward (NDF) tercatat berada di kisaran Rp17.629 per dolar AS. Nilai tersebut relatif belum banyak berubah dalam laporan perdagangan pagi.

Pasar NDF merupakan salah satu segmen perdagangan valuta asing yang memungkinkan pelaku pasar mengelola risiko perubahan nilai tukar tanpa penyerahan fisik mata uang pada saat penyelesaian kontrak.

Pergerakan NDF kerap diperhatikan untuk membaca ekspektasi pasar. Namun, nilainya tidak selalu sama dengan kurs rupiah di pasar spot karena perbedaan mekanisme dan karakteristik transaksi.

Geopolitik dan Inflasi Global Jadi Perhatian

Pergerakan rupiah selanjutnya juga berpotensi dipengaruhi perkembangan ekonomi internasional. Sejumlah agenda bank sentral negara utama dan publikasi data inflasi menjadi perhatian investor dalam memperkirakan arah kebijakan moneter.

Data inflasi dapat memengaruhi pandangan pasar mengenai kebutuhan penyesuaian suku bunga. Jika ekspektasi kebijakan moneter berubah, investor berpotensi mengatur kembali portofolio investasinya, termasuk alokasi dana pada aset di negara berkembang.

Di sisi lain, ketegangan geopolitik yang belum mereda menambah ketidakpastian di pasar keuangan. Perkembangan situasi internasional dapat memengaruhi persepsi risiko investor dan keputusan mereka dalam menempatkan modal.

Perubahan arus modal asing menjadi salah satu faktor yang perlu diperhatikan karena dapat memengaruhi permintaan dan penawaran rupiah. Meski demikian, dampak setiap perkembangan global terhadap mata uang domestik bergantung pada respons pasar dan kondisi ekonomi Indonesia.

BI Rate dan Utang Luar Negeri Dinantikan

Dari dalam negeri, pelaku pasar menunggu data utang luar negeri Indonesia dan pengumuman BI Rate pada pekan ini. Kedua agenda tersebut berpotensi menjadi perhatian karena berkaitan dengan penilaian terhadap kondisi ekonomi domestik dan arah kebijakan moneter.

Data utang luar negeri dapat memberikan gambaran mengenai perkembangan kewajiban Indonesia kepada kreditur luar negeri. Sementara itu, keputusan BI mengenai suku bunga acuan menjadi salah satu pertimbangan investor dalam mengevaluasi daya tarik aset keuangan berdenominasi rupiah.

Respons pasar terhadap keputusan suku bunga akan bergantung pada hasil pengumuman dan kesesuaiannya dengan ekspektasi yang telah terbentuk. Selain itu, perkembangan dolar AS dan kondisi pasar internasional tetap dapat memengaruhi pergerakan nilai tukar.

Dengan rupiah yang sempat menyentuh Rp17.660 per dolar AS pada perdagangan pagi, perhatian investor kini tertuju pada perkembangan indikator global dan agenda ekonomi domestik. Penguatan dolar AS, ketegangan geopolitik, data inflasi, serta pengumuman BI menjadi sejumlah faktor yang akan dicermati untuk membaca arah pergerakan rupiah berikutnya.

Editor : Maylanni Diana Fitri
nilai tukar rupiah BI Rate dolar AS utang luar negeri Indonesia rupiah melemah