Rupiah Tertekan hingga Rp17.763 per Dolar AS, Konflik AS-Iran Bikin Pasar Waspada

Maylanni Diana Fitri • Dipublikasikan Rabu, 14 Oktober 2026 | 20:15 WIB
Rupiah melemah ke Rp17.763 per dolar AS. Konflik AS-Iran dan spekulasi suku bunga The Fed menambah tekanan. Simak faktor lainnya.(pinterest)
Rupiah melemah ke Rp17.763 per dolar AS. Konflik AS-Iran dan spekulasi suku bunga The Fed menambah tekanan. Simak faktor lainnya.(pinterest)

JAKARTA - Nilai tukar rupiah ditutup melemah ke level Rp17.763 per dolar Amerika Serikat (AS) pada perdagangan Rabu, 2 September 2026, di tengah meningkatnya inflasi domestik dan ketidakpastian ekonomi global. Meski surplus perdagangan Indonesia memberikan sentimen positif, tekanan terhadap rupiah masih dipengaruhi eskalasi konflik Amerika Serikat dan Iran serta spekulasi kenaikan suku bunga bank sentral AS, Federal Reserve (The Fed). Untuk perdagangan berikutnya, rupiah diperkirakan bergerak fluktuatif dengan potensi melemah pada kisaran Rp17.760 hingga Rp17.800 per dolar AS.

Rupiah Dibayangi Tekanan Ekonomi Global

Pelemahan rupiah menjadi perhatian pelaku pasar di tengah perkembangan ekonomi internasional yang masih penuh ketidakpastian. Berdasarkan laporan IDX Channel dalam transkrip yang diberikan, mata uang Garuda menghadapi tekanan meskipun terdapat sejumlah indikator domestik yang memberikan dukungan terhadap perekonomian.

Baca Juga: Polytron Fox 350 Punya Jarak Tempuh 136 Km, Harga Rp15 Jutaan! Ini Kelebihan dan Kekurangannya

Salah satu sentimen positif berasal dari surplus perdagangan Indonesia pada Juli 2026. Kondisi tersebut dapat membantu menopang pasokan valuta asing dari aktivitas perdagangan internasional. Namun, pengaruhnya terhadap rupiah tetap bergantung pada faktor lain, termasuk permintaan dolar AS dan arus modal asing.

Di sisi lain, peningkatan inflasi domestik menjadi faktor yang turut diperhatikan investor. Perkembangan harga barang dan jasa dapat memengaruhi ekspektasi terhadap kebijakan moneter serta prospek perekonomian nasional.

Kombinasi faktor tersebut membuat pergerakan rupiah berpotensi tetap dinamis dalam perdagangan selanjutnya. Pelaku pasar akan mencermati perkembangan ekonomi dalam negeri sekaligus perubahan sentimen di pasar global.

Spekulasi Kenaikan Suku Bunga The Fed

Selain kondisi domestik, arah kebijakan suku bunga AS menjadi salah satu faktor penting yang memengaruhi pergerakan rupiah. Dalam laporan tersebut, pasar memperhitungkan peluang kenaikan suku bunga The Fed pada pertemuan 15–16 September 2026.

Probabilitas kenaikan suku bunga disebut mencapai 64 persen, meningkat dari sekitar 35 persen sebelum pidato Ketua The Fed Kevin Warsh dalam Simposium Jackson Hole pada Jumat sebelumnya, sebagaimana disebutkan dalam transkrip.

Ekspektasi kenaikan suku bunga dapat memengaruhi keputusan investor dalam menempatkan dana di pasar keuangan global. Apabila imbal hasil aset berdenominasi dolar AS menjadi lebih menarik, arus modal berpotensi bergeser ke Amerika Serikat dan menambah tekanan terhadap mata uang negara berkembang.

Meski demikian, keputusan akhir The Fed tetap bergantung pada perkembangan data ekonomi dan penilaian otoritas moneter terhadap kondisi inflasi serta pasar tenaga kerja.

Indeks dolar AS pada pukul 09.00 WIB tercatat menguat tipis 0,04 persen ke level 99,468. Sebelumnya, indeks tersebut ditutup melemah 0,27 persen. Pergerakan yang terbatas menunjukkan pasar masih menimbang sejumlah faktor sebelum menentukan arah perdagangan berikutnya.

Konflik AS-Iran Picu Kekhawatiran Pasokan Minyak

Ketegangan geopolitik, khususnya konflik Amerika Serikat dan Iran, turut meningkatkan ketidakpastian pasar. Eskalasi konflik di Timur Tengah memunculkan kekhawatiran terhadap kelancaran pasokan energi dunia.

Harga minyak mentah Brent dilaporkan naik 0,6 persen menjadi 91,05 dolar AS per barel. Sementara itu, minyak mentah West Texas Intermediate (WTI) menguat 1 persen ke level 86,59 dolar AS per barel.

Kenaikan harga minyak tersebut terjadi setelah kedua jenis minyak mentah sebelumnya mencatat penguatan tajam. Risiko gangguan pasokan dari kawasan Timur Tengah menjadi salah satu faktor yang mendorong pelaku pasar memperhitungkan kemungkinan kenaikan harga energi.

Perubahan harga minyak dunia dapat memengaruhi perekonomian Indonesia melalui biaya impor energi, inflasi, dan kebutuhan valuta asing. Karena itu, perkembangan konflik dan harga komoditas menjadi faktor yang relevan untuk dicermati dalam memantau pergerakan rupiah.

Penunjukan Gubernur BI Jadi Perhatian Pasar

Dari dalam negeri, perhatian investor juga tertuju pada pengesahan Destri Damayanti sebagai Gubernur Bank Indonesia periode 2026–2031 oleh rapat paripurna DPR. Dalam laporan yang sama, Aida S. Budiman disahkan sebagai Deputi Gubernur Senior BI, sedangkan Solikin M. Juhro turut disebut dalam jajaran pimpinan bank sentral.

Pergantian kepemimpinan BI menjadi perhatian pasar karena kebijakan bank sentral berperan penting dalam menjaga stabilitas rupiah dan mengendalikan inflasi. Namun, arah pergerakan mata uang tidak hanya ditentukan oleh pergantian pejabat, melainkan juga oleh kebijakan yang diambil dan perkembangan kondisi ekonomi.

Di tengah berbagai tekanan tersebut, rupiah diproyeksikan bergerak fluktuatif dengan kecenderungan melemah pada kisaran Rp17.760–Rp17.800 per dolar AS dalam perdagangan berikutnya, sesuai proyeksi yang disampaikan dalam laporan.

Pelaku pasar akan terus memantau perkembangan inflasi, arah suku bunga The Fed, konflik AS-Iran, serta kebijakan Bank Indonesia. Kombinasi faktor domestik dan global tersebut akan menjadi penentu penting bagi pergerakan rupiah dalam jangka pendek.

Editor : Maylanni Diana Fitri
nilai tukar rupiah Suku bunga The Fed dolar AS konflik AS-Iran rupiah melemah