Rupiah Melemah ke Rp17.763 per Dolar AS, Ada Tekanan dari The Fed dan Konflik Timur Tengah

Maylanni Diana Fitri • Dipublikasikan Rabu, 14 Oktober 2026 | 20:20 WIB
Rupiah melemah ke Rp17.763 per dolar AS. Konflik AS-Iran, harga minyak, dan peluang kenaikan suku bunga The Fed jadi sorotan.(pinterest)
Rupiah melemah ke Rp17.763 per dolar AS. Konflik AS-Iran, harga minyak, dan peluang kenaikan suku bunga The Fed jadi sorotan.(pinterest)

JAKARTA - Nilai tukar rupiah ditutup melemah pada perdagangan Rabu, 2 September 2026, hingga mencapai Rp17.763 per dolar Amerika Serikat (AS). Tekanan terhadap mata uang Garuda muncul di tengah meningkatnya inflasi Indonesia, penguatan dolar AS, serta ketidakpastian global akibat konflik Amerika Serikat dan Iran. Di sisi lain, surplus perdagangan Indonesia pada Juli memberikan sentimen positif bagi pasar domestik. Pelaku pasar kini mencermati peluang kenaikan suku bunga bank sentral AS atau Federal Reserve (The Fed), perkembangan harga minyak dunia, dan arah kebijakan Bank Indonesia (BI) yang berpotensi memengaruhi pergerakan rupiah selanjutnya.

Rupiah Tertekan, Investor Waspadai Perkembangan Global

Pelemahan rupiah menunjukkan bahwa tekanan eksternal masih menjadi perhatian utama pelaku pasar valuta asing. Dalam laporan IDX Channel yang menjadi sumber transkrip, rupiah ditutup pada level Rp17.763 per dolar AS, sementara prospek perdagangan berikutnya diperkirakan masih berfluktuasi.

Baca Juga: Jangan Asal Beli! Ini Perbedaan Baterai Motor Listrik SLA, LFP, dan NMC yang Wajib Diketahui

Salah satu faktor yang memengaruhi pergerakan mata uang adalah kondisi ekonomi global yang belum stabil. Konflik antara Amerika Serikat dan Iran meningkatkan ketidakpastian pasar, terutama karena kawasan Timur Tengah memiliki peran penting dalam rantai pasokan energi dunia.

Ketegangan geopolitik dapat mendorong investor menyesuaikan strategi investasi dan mempertimbangkan kembali risiko pada aset di negara berkembang. Perubahan arus modal tersebut berpotensi memengaruhi permintaan terhadap mata uang lokal, termasuk rupiah.

Dari dalam negeri, meningkatnya inflasi juga menjadi perhatian. Perkembangan harga barang dan jasa dapat memengaruhi daya beli masyarakat serta pertimbangan bank sentral dalam menentukan kebijakan moneter.

Meski demikian, surplus perdagangan Indonesia pada Juli menjadi salah satu faktor positif yang dapat mendukung perekonomian domestik. Dampaknya terhadap rupiah tetap bergantung pada kondisi pasar valuta asing dan perkembangan faktor eksternal.

Peluang Kenaikan Suku Bunga The Fed Meningkat

Arah kebijakan suku bunga AS menjadi perhatian berikutnya. Dalam transkrip laporan, peluang kenaikan suku bunga The Fed pada pertemuan 15–16 September 2026 disebut meningkat menjadi 64 persen, dibandingkan sekitar 35 persen sebelum pidato Ketua The Fed Kevin Warsh dalam Simposium Jackson Hole.

Ekspektasi tersebut berpotensi memengaruhi pergerakan dolar AS dan keputusan investasi global. Apabila suku bunga AS meningkat, aset keuangan berbasis dolar dapat menjadi lebih menarik bagi sebagian investor, bergantung pada tingkat imbal hasil dan risiko yang diperhitungkan.

Perubahan ekspektasi kebijakan moneter AS juga dapat memengaruhi aliran modal ke negara berkembang. Jika investor mengalihkan sebagian dananya ke aset dolar, mata uang negara lain berpotensi menghadapi tekanan.

Sementara itu, indeks dolar AS pada pukul 09.00 WIB tercatat menguat 0,04 persen ke level 99,468. Sebelumnya, indeks tersebut ditutup melemah 0,27 persen.

Pergerakan indeks dolar yang relatif terbatas menunjukkan pasar masih mempertimbangkan berbagai indikator ekonomi sebelum menentukan arah transaksi. Data inflasi, kondisi tenaga kerja, dan pernyataan pejabat bank sentral menjadi sejumlah informasi yang dapat memengaruhi ekspektasi investor.

Konflik AS-Iran Dorong Kenaikan Harga Minyak

Ketidakpastian geopolitik turut tercermin pada pergerakan harga minyak mentah dunia. Kekhawatiran terhadap kemungkinan gangguan pasokan energi dari Timur Tengah mendorong harga minyak kembali menguat.

Harga minyak mentah Brent dilaporkan naik 0,6 persen menjadi 91,05 dolar AS per barel. Sementara itu, minyak mentah West Texas Intermediate (WTI) meningkat 1 persen ke level 86,59 dolar AS per barel.

Kenaikan tersebut terjadi setelah kedua acuan minyak sebelumnya juga mencatat penguatan. Pasar memperhitungkan risiko gangguan distribusi energi apabila konflik di kawasan tersebut semakin meluas.

Bagi Indonesia, perubahan harga minyak dunia dapat memengaruhi biaya impor energi, tekanan inflasi, dan kebutuhan valuta asing. Jika harga energi bertahan tinggi, beban biaya impor berpotensi meningkat, meskipun dampak akhirnya bergantung pada struktur perdagangan dan kebijakan energi nasional.

Karena itu, perkembangan konflik AS-Iran tidak hanya menjadi perhatian pasar komoditas, tetapi juga relevan bagi investor yang memantau stabilitas rupiah.

Penunjukan Pimpinan BI Jadi Perhatian Investor

Dari dalam negeri, rapat paripurna DPR dalam laporan tersebut mengesahkan Destri Damayanti sebagai Gubernur Bank Indonesia periode 2026–2031. Selain itu, Aida S. Budiman disebut disahkan sebagai Deputi Gubernur Senior, sedangkan Solikin M. Juhro masuk dalam jajaran pimpinan BI.

Perubahan kepemimpinan bank sentral menjadi perhatian pasar karena BI memiliki peran penting dalam menjaga stabilitas nilai tukar, mengendalikan inflasi, dan mengarahkan kebijakan moneter.

Namun, dampak terhadap rupiah tidak hanya bergantung pada penunjukan pejabat. Investor juga akan mencermati arah kebijakan yang ditempuh, komunikasi bank sentral, serta responsnya terhadap perkembangan ekonomi domestik dan global.

Untuk perdagangan berikutnya, rupiah diproyeksikan bergerak fluktuatif dengan potensi melemah di kisaran Rp17.760 hingga Rp17.800 per dolar AS, sesuai perkiraan dalam transkrip.

Pergerakan indeks dolar, peluang kenaikan suku bunga The Fed, konflik di Timur Tengah, serta perkembangan kebijakan BI akan menjadi sejumlah faktor yang diperhatikan pasar dalam menilai prospek rupiah.

 

Editor : Maylanni Diana Fitri
nilai tukar rupiah dolar AS konflik AS-Iran The Fed rupiah melemah