MSCI Evaluasi Saham Indonesia 11 November, Net Sell Asing Tembus Rp84,99 Triliun

Maylanni Diana Fitri • Dipublikasikan Rabu, 14 Oktober 2026 | 20:50 WIB
MSCI mengevaluasi saham Indonesia pada 11 November 2026. Simak risiko IHSG setelah net sell asing menembus Rp84,99 triliun.(pinterest)
MSCI mengevaluasi saham Indonesia pada 11 November 2026. Simak risiko IHSG setelah net sell asing menembus Rp84,99 triliun.(pinterest)

JAKARTA - Pasar saham Indonesia menghadapi tekanan menjelang evaluasi Morgan Stanley Capital International (MSCI) pada November 2026. Investor asing membukukan penjualan bersih atau net sell sebesar Rp84,99 triliun hingga 9 Oktober 2026, melampaui catatan aksi jual pada masa pandemi Covid-19 dan krisis keuangan global 2008. Di tengah kekhawatiran terhadap transparansi kepemilikan saham dan ketersediaan saham publik, keputusan MSCI pada 11 November mendatang menjadi salah satu faktor yang diperhatikan pelaku pasar dalam memperkirakan arah Indeks Harga Saham Gabungan (IHSG).

MSCI dijadwalkan mengumumkan hasil evaluasi indeks pada 11 November 2026. Perubahan yang ditetapkan akan berlaku efektif mulai 1 Desember 2026. Investor kini menantikan kepastian mengenai kelanjutan pembekuan perubahan indeks saham Indonesia yang telah berlaku sejak awal tahun.

Keputusan MSCI Bisa Memengaruhi Arus Dana Asing

Perhatian utama pelaku pasar tertuju pada kemungkinan MSCI mencabut pembekuan kenaikan foreign inclusion factor dan penambahan jumlah konstituen saham Indonesia. Pembatasan tersebut masih berlaku setelah evaluasi Agustus 2026 dan berkaitan dengan persoalan transparansi data kepemilikan saham serta free float.

Baca Juga: Polytron Fox 350 Diuji di Jalan Raya, Motor Listrik Bergaya Maxi Scooter Ini Punya Catatan!

Apabila pembekuan kembali dipertahankan, kebijakan itu akan berlanjut tiga kali berturut-turut sejak Januari 2026. Situasi tersebut berpotensi memengaruhi persepsi investor global terhadap kualitas dan aksesibilitas pasar saham Indonesia.

Head of Research Kiwoom Sekuritas, Liza Camelia Suryanata, memperkirakan MSCI masih berpotensi mempertahankan pembekuan tersebut. Alasannya, persoalan transparansi kepemilikan saham dan ketersediaan saham publik dinilai belum sepenuhnya tuntas.

Liza menyoroti saham Barito Renewables Energy (BREN) dan Dian Swastatika Sentosa (DSSA), yang memiliki kapitalisasi pasar besar. Namun, jumlah saham yang benar-benar tersedia untuk diperdagangkan oleh investor dinilai tidak sebanding dengan angka yang tercatat.

MSCI perlu berhati-hati dalam menentukan kebijakan karena keputusan tersebut menyangkut kredibilitas metodologi serta penentuan saham yang masuk dalam indeks acuannya.

Sementara itu, Senior Market Analyst Mirae Asset Sekuritas, Nafan Aji Gusta, menilai peluang pencabutan pembekuan bergantung pada konsistensi reformasi transparansi kepemilikan saham, perbaikan free float, dan kualitas saham yang dapat diinvestasikan di Bursa Efek Indonesia (BEI).

Aksi Jual Asing Lampaui Periode Pandemi dan Krisis 2008

Tekanan terhadap pasar saham domestik terlihat dari besarnya arus dana asing yang keluar. Hingga penutupan perdagangan Jumat, 9 Oktober 2026, investor asing mencatatkan net sell Rp84,99 triliun sepanjang tahun berjalan.

Angka tersebut lebih besar dibandingkan penjualan bersih investor asing sebesar Rp53,84 triliun sepanjang 2020, ketika pandemi Covid-19 mengguncang pasar keuangan. Nilainya juga melampaui net sell Rp50,17 triliun pada krisis global 2008.

Direktur Utama RHB Sekuritas, Thomas Nugroho, menilai aksi jual asing mencerminkan kombinasi tekanan global dan persoalan kepercayaan terhadap pasar domestik.

Selain ketidakpastian ekonomi dunia, investor memperhatikan transparansi kepemilikan saham, ketersediaan saham publik, kepastian kebijakan, serta perkembangan evaluasi dari penyedia indeks global.

Tekanan semakin menjadi perhatian setelah MSCI membekukan perubahan indeks saham Indonesia pada 27 Januari 2026. Kemudian, pada Mei 2026, MSCI mengeluarkan enam saham Indonesia dari Global Standard Index dan 13 saham dari indeks MSCI Small Cap.

MSCI juga memberikan peringatan mengenai kemungkinan penurunan klasifikasi Indonesia dari pasar berkembang (emerging market) menjadi pasar perbatasan (frontier market) apabila reformasi transparansi bursa tidak berjalan konsisten.

Jika pembekuan berlanjut, investor institusi global berpotensi menahan penambahan investasi di saham Indonesia. Meski begitu, dampaknya terhadap IHSG tidak otomatis berupa koreksi lanjutan karena sebagian risiko terkait MSCI dinilai telah tercermin dalam pelemahan pasar sepanjang 2026.

Antam Realisasikan Eksplorasi Mineral Rp134,39 Miliar

Di tengah dinamika pasar, PT Aneka Tambang Tbk (ANTM) merealisasikan biaya eksplorasi Rp134,39 miliar hingga kuartal III 2026 untuk menjaga ketersediaan sumber daya mineral.

Eksplorasi emas berpusat di Pongkor, Jawa Barat. Kegiatan nikel dilakukan di sejumlah wilayah, termasuk Konawe Utara, Pomalaa, dan Maluku Utara. Aktivitas tersebut meliputi pengeboran, pemetaan geologi, serta survei geofisika.

Untuk bauksit, Antam memusatkan eksplorasi di Tayan dan Kabupaten Landak, Kalimantan Barat. Kegiatannya mencakup pengeboran, pencucian sampel, analisis laboratorium, hingga pengolahan data cadangan.

Perseroan juga masih mengurus persetujuan penggunaan kawasan hutan dan menyesuaikan rencana kerja serta anggaran biaya dengan ketentuan yang berlaku.

Adhi Karya dan Arkora Hydro Lanjutkan Ekspansi

PT Adhi Karya Tbk (ADHI) melepas seluruh kepemilikan saham sebesar 47,18 persen di PT Jasamarga Jogja Solo kepada PT Sarana Multi Infrastruktur senilai Rp1,8 triliun. Dana hasil divestasi direncanakan untuk membayar utang berbunga dan memperkuat modal kerja.

Adhi Karya juga berencana mengalihkan sisa dana rights issue 2022 sebesar Rp378,7 miliar menjadi modal kerja. Rencana tersebut akan dimintakan persetujuan dalam RUPSLB pada 13 November 2026.

Sementara itu, PT Arkora Hydro Tbk (ARKO) mendirikan anak usaha baru, PT Arkora Mentari Nusantara, pada 7 Oktober 2026. Perusahaan tersebut memiliki modal awal Rp2,5 miliar dan dikuasai secara tidak langsung sebesar 99 persen oleh Arkora.

Pendirian entitas baru ini ditujukan untuk mendukung pengembangan usaha dan diversifikasi bisnis di sektor energi baru terbarukan.

Dengan evaluasi MSCI yang semakin dekat, investor perlu mencermati perkembangan reformasi pasar, aliran dana asing, dan fundamental emiten. Keputusan MSCI akan menjadi salah satu faktor penting yang menentukan sentimen terhadap pasar saham Indonesia pada akhir tahun.

Editor : Maylanni Diana Fitri
Saham Indonesia MSCI net sell investor asing IHSG bursa efek indonesia