JAKARTA - Program Makan Bergizi Gratis (MBG) di Aceh Besar menjadi perhatian Badan Gizi Nasional (BGN). Kepala BGN Sudaryono meninjau langsung pelaksanaan program di SD Negeri Cotmeraja, Kecamatan Blang Bintang, Kabupaten Aceh Besar. Kunjungan tersebut dilakukan untuk memastikan makanan yang disajikan dapat diterima siswa dengan baik, sekaligus mengevaluasi kualitas menu, keamanan pangan, dan pengaturan distribusi dari dapur penyedia.
Dalam peninjauan itu, Sudaryono berinteraksi dengan para siswa dan ikut menyantap makanan yang disediakan. Langkah tersebut menjadi bagian dari upaya memantau pelaksanaan MBG agar berjalan sesuai tujuan, yakni memberikan manfaat optimal bagi peserta didik.
BGN juga terus melakukan perbaikan dalam penyelenggaraan program, termasuk memperkuat standar operasional prosedur (SOP) di dapur penyedia makanan. Pengawasan tersebut dinilai penting untuk menjaga mutu makanan yang diterima siswa serta memastikan pelaksanaan program berjalan lebih terarah.
Baca Juga: Jalan Candirejo-Sidorejo Dicor, Warga Ponggok Harus Memutar hingga Usaha Kontrakan Tutup Sementara
BGN Perkuat Pengawasan Kualitas Makanan MBG
Peninjauan di SD Negeri Cotmeraja menjadi salah satu langkah untuk melihat secara langsung pelaksanaan program MBG di lingkungan sekolah. Interaksi dengan siswa dan kegiatan mencicipi makanan memberikan kesempatan bagi Kepala BGN untuk mengamati penyajian menu dalam pelaksanaan program tersebut.
Perbaikan tidak hanya berfokus pada makanan yang disajikan, tetapi juga mencakup tata kelola dapur penyedia. BGN melakukan pemantauan menu dan memperkuat SOP sebagai bagian dari upaya menjaga kualitas serta keamanan pangan.
Pengawasan tersebut menjadi aspek penting karena program MBG melibatkan penyediaan makanan bagi penerima manfaat di berbagai satuan pendidikan dan layanan masyarakat. Pengelolaan yang terarah dibutuhkan agar penyaluran makanan sesuai dengan sasaran yang telah ditentukan.
Melalui perbaikan berkelanjutan, BGN berupaya memastikan pelaksanaan program tidak sekadar memenuhi kebutuhan distribusi, tetapi juga memperhatikan mutu makanan yang diterima para siswa.
Baca Juga: Jalan Candirejo-Sidorejo Dicor, Warga Ponggok Harus Memutar hingga Usaha Kontrakan Tutup Sementara
Distribusi Dapur MBG Diatur agar Tidak Berebut Sasaran
Selain menyoroti kualitas makanan, Sudaryono menjelaskan pentingnya pengaturan distribusi dapur penyedia. Menurut dia, BGN menentukan dapur yang bertugas melayani sekolah dan posyandu tertentu. Pengaturan tersebut dilakukan untuk mencegah persaingan antarpihak dalam menentukan penerima layanan di lapangan.
Sudaryono menjelaskan bahwa pembagian wilayah layanan perlu ditetapkan secara jelas oleh lembaga yang bertanggung jawab. Dengan demikian, setiap dapur memiliki sasaran pelayanan yang sudah ditentukan dan tidak saling berebut penerima manfaat.
Ia juga menyinggung insentif yang berkaitan dengan operasional dapur. Dalam keterangannya, Sudaryono menyebut angka Rp2.000 per porsi dalam konteks perubahan skema insentif. Namun, rincian lebih lanjut mengenai ketentuan tersebut tidak dijelaskan secara lengkap dalam keterangan yang tersedia.
Pengaturan dapur dan sasaran penerima menjadi bagian dari tata kelola program MBG yang terus diperbaiki. Penetapan sekolah dan posyandu yang dilayani setiap dapur diharapkan membuat pembagian tugas lebih jelas serta mengurangi potensi kekacauan dalam pelaksanaan di lapangan.
Dengan sistem penentuan layanan tersebut, BGN berupaya menjaga agar pelaksanaan program berlangsung lebih tertib. Kejelasan pembagian tugas juga menjadi bagian penting dalam pengawasan, karena setiap dapur mempunyai sasaran penerima manfaat yang telah ditentukan.
Perbaikan MBG Dilakukan Secara Bertahap
Pelaksanaan program MBG membutuhkan pengawasan terhadap berbagai aspek, mulai dari kualitas makanan hingga mekanisme distribusi. Kunjungan Sudaryono ke Aceh Besar memperlihatkan perhatian BGN terhadap pelaksanaan program di tingkat sekolah.
Di sisi lain, penguatan SOP dapur dan penetapan sasaran pelayanan menjadi langkah yang disebut terus diperbaiki. Kedua aspek tersebut berkaitan dengan upaya menjaga kualitas penyediaan makanan sekaligus memastikan pembagian layanan berjalan sesuai ketentuan.
BGN menegaskan pentingnya pengaturan dapur agar penentuan sekolah dan posyandu yang dilayani tidak menimbulkan persaingan di lapangan. Melalui pengawasan langsung dan pembenahan tata kelola, pelaksanaan MBG diharapkan dapat memberikan manfaat optimal bagi para penerima.
Meski demikian, keberhasilan program tetap bergantung pada konsistensi pelaksanaan standar, pengawasan kualitas makanan, serta ketepatan distribusi. Karena itu, evaluasi dan perbaikan secara berkelanjutan menjadi bagian penting dalam menjaga pelaksanaan Makan Bergizi Gratis agar berjalan sesuai sasaran.
Editor : Muhammad Rusdian NuzulaSumber : Metro TV