ACEH - Program Makan Bergizi Gratis (MBG) dengan konsep prasmanan mulai diuji coba di sejumlah daerah. Badan Gizi Nasional (BGN) menargetkan 1.000 hingga 5.000 dapur dapat menerapkan sistem tersebut pada akhir 2026. Namun, sebelum diperluas, pemerintah masih mengevaluasi pelaksanaannya, termasuk kesiapan fasilitas dapur dan ketersediaan ruang di sekolah.
Perubahan konsep penyajian ini menjadi salah satu langkah yang sedang dikaji BGN untuk mengembangkan pelaksanaan program makan bergizi bagi siswa. Melalui uji coba, BGN ingin mengetahui manfaat sistem prasmanan sekaligus mengidentifikasi berbagai persoalan yang mungkin muncul di lapangan.
Kepala BGN Sudaryono meninjau langsung pelaksanaan MBG di salah satu sekolah dasar di Aceh Besar, Aceh. Dalam kunjungan tersebut, ia memeriksa menu makanan yang disediakan untuk siswa dan ikut menyantap hidangan bersama mereka.
Usai makan bersama, Sudaryono menjelaskan bahwa sistem prasmanan berpeluang menjadi konsep penyajian MBG ke depan. Meski demikian, penerapan secara lebih luas masih bergantung pada hasil evaluasi selama tahap percobaan.
Baca Juga: Jalan Candirejo-Sidorejo Dicor, Warga Ponggok Harus Memutar hingga Usaha Kontrakan Tutup Sementara
Uji Coba MBG Prasmanan Berlangsung Dua Minggu
Sudaryono menyampaikan bahwa BGN tengah menguji konsep prasmanan di beberapa wilayah. Tahap awal tersebut direncanakan berlangsung selama dua minggu untuk mengamati hasil pelaksanaan dan berbagai kendala yang muncul.
Menurutnya, evaluasi diperlukan untuk mengetahui sisi positif dari sistem tersebut. BGN juga ingin mengidentifikasi persoalan yang berpotensi menghambat pelaksanaan program apabila konsep prasmanan diterapkan dalam skala lebih besar.
Uji coba ini menjadi tahap penting sebelum pemerintah menentukan langkah selanjutnya. Hasil pengamatan akan digunakan untuk menilai apakah sistem prasmanan dapat dijalankan tanpa menimbulkan masalah yang signifikan.
Penerapan konsep baru tersebut tidak hanya berkaitan dengan cara makanan disajikan kepada siswa. Kesiapan fasilitas pendukung juga perlu diperhatikan agar pelaksanaan program tetap berjalan sesuai kebutuhan sekolah.
Karena itu, evaluasi dilakukan untuk melihat kesesuaian konsep prasmanan dengan kondisi di lapangan. BGN berharap persoalan yang ditemukan selama tahap percobaan dapat menjadi bahan perbaikan sebelum sistem tersebut diperluas.
BGN Bidik Ribuan Dapur hingga Akhir 2026
Jika uji coba berjalan baik dan tidak ditemukan masalah signifikan, BGN menargetkan konsep MBG prasmanan dapat diterapkan di sedikitnya 1.000 hingga 5.000 dapur pada akhir 2026.
Sudaryono menyampaikan target tersebut sebagai rencana pengembangan program setelah proses pengujian dilakukan. Artinya, perluasan penerapan masih mempertimbangkan hasil evaluasi dan kesiapan masing-masing dapur.
Target ribuan dapur tersebut menunjukkan adanya rencana untuk memperluas penggunaan sistem prasmanan di berbagai wilayah. Namun, target itu belum berarti seluruh dapur yang direncanakan sudah siap atau telah menerapkan metode tersebut.
Kesiapan dapur menjadi salah satu tantangan yang perlu diselesaikan. Setiap lokasi harus memiliki fasilitas yang mendukung pelaksanaan sistem penyajian makanan sesuai kebutuhan program.
Selain itu, ketersediaan ruang di sekolah turut menjadi perhatian. Sistem prasmanan membutuhkan pengaturan tempat yang memadai agar siswa dapat mengikuti kegiatan makan dengan tertib.
Kondisi setiap sekolah yang berbeda membuat penerapan konsep ini perlu disesuaikan dengan fasilitas yang tersedia. Tanpa persiapan yang memadai, pelaksanaan sistem baru berpotensi menghadapi kendala operasional.
Dengan demikian, keberhasilan rencana perluasan MBG prasmanan tidak hanya ditentukan oleh jumlah dapur yang ditargetkan, tetapi juga kemampuan setiap lokasi dalam menjalankan sistem tersebut.
Baca Juga: Jalan Candirejo-Sidorejo Dicor, Warga Ponggok Harus Memutar hingga Usaha Kontrakan Tutup Sementara
Sudaryono Tegaskan BGN Terbuka terhadap Kritik
Selain membahas rencana perubahan konsep penyajian, Sudaryono menegaskan bahwa BGN terbuka terhadap masukan dan tidak antikritik. Menurutnya, masukan diperlukan untuk membangun pelaksanaan program MBG yang lebih baik.
Sikap terbuka terhadap kritik menjadi bagian penting dalam proses evaluasi, terutama ketika program dijalankan dengan metode yang sedang dikembangkan. Berbagai persoalan yang ditemukan dapat menjadi bahan pertimbangan untuk memperbaiki pelaksanaan di lapangan.
Uji coba prasmanan juga memberikan kesempatan bagi BGN untuk melihat secara langsung tantangan yang dihadapi sekolah dan pengelola dapur. Hasilnya akan menjadi pertimbangan sebelum penerapan dilakukan dalam cakupan lebih luas.
Rencana penerapan konsep MBG prasmanan hingga ribuan dapur pada akhir 2026 kini masih menunggu hasil evaluasi. Kesiapan fasilitas, ketersediaan ruang sekolah, dan kemampuan mengatasi kendala operasional menjadi faktor yang perlu diperhatikan.
Jika berbagai tantangan tersebut dapat diatasi, konsep prasmanan berpeluang diterapkan lebih luas sebagai bagian dari pengembangan program Makan Bergizi Gratis.
Editor : Muhammad Rusdian NuzulaSumber : Fokus Indosiar