Perangkat ini hadir membawa sejumlah fitur unggulan seperti live translation hingga 89 bahasa, teleprompter, AI assistant, kamera 12 MP Sony, hingga kemampuan merekam video POV. Harga globalnya berada di kisaran US$599 atau sekitar Rp9 jutaan, meski harga resmi di Indonesia masih menunggu pengumuman. Unboxing Rocket AI Glasses, Desain Simpel dengan Layar MicroLED
Rocket AI Glasses hadir dalam paket penjualan yang berisi unit kacamata, charging cable dengan konektor pogo pin magnetik lima pin, kain pembersih, serta beberapa pilihan nose pad sebagai pengganti.
Secara desain, bentuknya masih menyerupai kacamata biasa, meski bagian samping terlihat lebih tebal karena menjadi tempat chipset Snapdragon, speaker, dan komponen elektronik lainnya.
Di bagian depan juga terlihat pantulan dari layar dual microLED waveguide yang menjadi ciri khas perangkat ini. Layar tersebut memiliki tingkat kecerahan hingga 1.500 nits dengan sudut pandang sekitar 26 derajat.
Meski tampilannya cukup modern, desain Rocket AI Glasses dinilai masih kalah elegan dibanding Ray-Ban Meta yang merupakan hasil kolaborasi dengan brand kacamata ternama.
Proses pairing juga tergolong mudah. Pengguna hanya perlu menekan tombol daya selama tiga detik, mengunduh aplikasi Rocket AI Glasses, kemudian melakukan proses binding dan pembaruan firmware sebelum seluruh fitur dapat digunakan. Live Translation dan Teleprompter Jadi Fitur Paling Menarik
Baca Juga: Asal-Usul Nama Blitar Terungkap, Ternyata Bukan dari Prasasti Balitar I, Ini Bukti Sejarahnya
Rocket AI Glasses mampu menerjemahkan percakapan secara real-time hingga 89 bahasa, termasuk Bahasa Indonesia. Hasil terjemahan ditampilkan langsung pada layar di bagian bawah pandangan pengguna sehingga tetap memungkinkan melihat kondisi sekitar.
Menurut pengujian pada video, proses penerjemahan berlangsung sangat cepat saat digunakan untuk menonton video berbahasa Inggris.
Sistem penerjemahan diketahui menggunakan layanan Microsoft sehingga hasilnya cukup akurat dan responsif.
Selain itu tersedia fitur Teleprompter yang memungkinkan pengguna mengirim naskah dari aplikasi ke layar kacamata.
Menariknya, teks akan mengikuti ritme saat pengguna berbicara sehingga proses membaca terasa lebih natural.
Fitur ini dinilai sangat berguna bagi content creator, presenter, maupun pembicara yang sering melakukan rekaman video.
Rocket AI Glasses juga menyediakan pengaturan posisi teks agar tampil sesuai kenyamanan pengguna.
Baca Juga: Hari Jadi ke-702 Blitar, Kemenag Ajak Bangun Manusia dan Perkuat Kerukunan Demi Teguhkan Peradaban
Rocket AI Glasses dibekali kamera Sony 12 megapiksel yang mampu mengambil foto dan merekam video POV dengan resolusi hingga 2.5K 30 fps.
Video direkam menggunakan rasio 4:3, meski aplikasi menyediakan opsi tampilan vertikal agar lebih cocok untuk kebutuhan media sosial.
Perangkat ini juga memiliki AI Assistant yang dapat mengenali objek melalui kamera serta menjawab pertanyaan pengguna.
Pengguna dapat memilih berbagai model AI, mulai dari ChatGPT, Gemini, DeepSeek, hingga Qwen milik Alibaba melalui pengaturan aplikasi.
Dalam pengujian, AI mampu mengenali beberapa objek menggunakan bahasa Inggris. Namun ketika menggunakan Bahasa Indonesia, proses pengenalannya masih belum konsisten karena sistem pengenalan suara lebih optimal untuk pelafalan bahasa Inggris.
Rocket AI Glasses juga mendukung perekaman suara sehingga cocok digunakan saat rapat untuk membuat dokumentasi percakapan.
Fitur panggilan telepon turut tersedia dengan kualitas mikrofon yang dinilai cukup jernih.
Selain itu terdapat dukungan notifikasi langsung pada layar, navigasi, hingga pengaturan watermark foto dan berbagai opsi personalisasi lainnya.
Sayangnya, fitur navigasi pada pengujian belum berjalan optimal sehingga kemungkinan masih membutuhkan pembaruan perangkat lunak.
Pada akhirnya, Rocket AI Glasses dinilai menawarkan paket fitur yang sangat lengkap untuk kelas kacamata pintar. Kehadiran distributor resmi di Indonesia juga menjadi nilai lebih dibanding beberapa kompetitor yang masih harus dibeli melalui jalur impor. Meski masih memiliki beberapa kekurangan, terutama pada sistem navigasi dan desain, perangkat ini menawarkan pengalaman AI yang cukup menarik bagi pengguna yang membutuhkan produktivitas sekaligus fitur wearable modern.
Editor : Ahmad Fadhil Gusnaashir