JAKARTA – Xiaomi 17T disebut berhasil melanjutkan reputasi seri T sebagai smartphone kelas menengah dengan spesifikasi unggulan. Kombinasi chipset MediaTek Dimensity 8500 dan kamera telephoto periscope 5x menjadi nilai jual utama, meski banderol sekitar Rp 9 jutaan memunculkan pro dan kontra di kalangan penggemar.
Reviewer menilai Xiaomi 17T menawarkan keseimbangan yang jarang ditemukan di segmen mid-range 2026, yakni performa tinggi sekaligus kemampuan fotografi yang mumpuni. Namun, kenaikan harga smartphone kelas menengah dibanding beberapa tahun lalu menjadi catatan tersendiri.
Performa Xiaomi 17T Unggul Berkat Dimensity 8500. Salah satu keunggulan utama Xiaomi 17T terletak pada penggunaan chipset MediaTek Dimensity 8500. Berdasarkan hasil pengujian yang disampaikan dalam ulasan, skor AnTuTu mampu menembus sekitar 2 juta poin, atau sekitar 30 persen lebih tinggi dibanding Snapdragon 7 Gen 4 yang banyak dipakai pesaing di kelas harga serupa.
Performa tersebut didukung RAM LPDDR5X dan penyimpanan UFS 4.1 yang umumnya digunakan pada smartphone flagship.
Saat menjalankan game ringan maupun aktivitas harian seperti media sosial dan chatting, performanya terasa lancar. Namun, peningkatan paling signifikan terlihat ketika memainkan game berat seperti Genshin Impact.
Dalam pengujian, Xiaomi 17T mampu menghasilkan rata-rata 50–55 fps pada pengaturan grafis medium. Meski demikian, performa tinggi tersebut membuat suhu perangkat meningkat hingga sekitar 46 derajat Celsius, lebih panas dibanding beberapa pesaing yang menggunakan Snapdragon 7 Gen 4.
Baca Juga: Bocoran HP Xiaomi Terbaru Siap Masuk Indonesia, Redmi 17 hingga Poco F9 Pro Sudah Muncul di TKDN
Selain performa, sektor kamera menjadi alasan utama Xiaomi 17T dinilai menonjol.
Smartphone ini mengusung konfigurasi kamera belakang berupa 50 MP kamera utama, 50 MP telephoto periscope dengan optical zoom 5x dan OIS, serta 12 MP ultrawide. Seluruh sistem kameranya dikembangkan bersama Leica sehingga menghasilkan karakter warna khas dengan kontras lebih dalam dan nuansa dramatis.
Mode Leica Authentic disebut menghasilkan foto dengan warna yang lebih natural dan bayangan lebih kuat, sedangkan Leica Vibrant cocok bagi pengguna yang menginginkan warna lebih cerah, terutama saat memotret makanan.
Keberadaan kamera periscope 5x juga menjadi pembeda dibanding sebagian besar smartphone kelas menengah. Reviewer bahkan menyebut kualitas hasil zoom pada Xiaomi 17T sangat mendekati varian Pro yang memiliki harga lebih mahal.
Kamera ultrawide tetap mampu menghasilkan foto yang layak dipamerkan meski resolusinya hanya 12 MP, sedangkan kamera depan sudah mendukung perekaman video hingga 4K 30 fps.
Pada sektor layar, Xiaomi 17T menggunakan panel AMOLED beresolusi 1,5K, refresh rate 120 Hz, dukungan Dolby Vision, HDR10+, serta tingkat kecerahan puncak hingga 3.500 nits.
Ukuran layar juga diperkecil menjadi 6,59 inci, membuat perangkat terasa lebih nyaman digenggam dibanding generasi sebelumnya yang memiliki layar lebih besar.
Kapasitas baterai meningkat menjadi 6.500 mAh dengan dukungan pengisian cepat 67 watt. Dalam pengujian, pengisian daya selama 10 menit mampu mengisi sekitar 19 persen baterai, sedangkan pengisian penuh membutuhkan waktu sekitar satu jam lebih sedikit.
Fitur lain yang turut hadir meliputi NFC, IR Blaster, stereo speaker, sertifikasi IP68, serta dukungan pembaruan sistem operasi hingga 4 tahun dan pembaruan keamanan selama 6 tahun.
Hal menarik lainnya adalah belum ditemukannya iklan pada aplikasi bawaan maupun sistem selama masa pengujian. Namun, reviewer menegaskan belum ada pernyataan resmi dari Xiaomi mengenai kebijakan bebas iklan untuk jangka panjang.
Secara keseluruhan, Xiaomi 17T dinilai cocok bagi pengguna yang menginginkan kombinasi performa tinggi dan kamera berkualitas dalam satu perangkat. Meski demikian, harga sekitar Rp 9 jutaan membuat calon pembeli perlu mempertimbangkan kebutuhan, terutama karena tersedia smartphone lain yang menawarkan performa lebih tinggi atau kamera lebih unggul dengan fokus berbeda.
Editor : Ahmad Fadhil Gusnaashir