Kelebihan dan Kekurangan Menggunakan Kendaraan Listrik, Jangan Beli Sebelum Tahu Risikonya

Muhammad Rusdian Nuzula • Dipublikasikan Minggu, 16 Agustus 2026 | 15:20 WIB
Kelebihan dan kekurangan menggunakan kendaraan listrik wajib diketahui sebelum membeli. Simak biaya, charging, depresiasi, hingga pilihan hybrid. (PINTEREST)
Kelebihan dan kekurangan menggunakan kendaraan listrik wajib diketahui sebelum membeli. Simak biaya, charging, depresiasi, hingga pilihan hybrid. (PINTEREST)

JAKARTA - Kelebihan dan kekurangan menggunakan kendaraan listrik kini semakin penting dipahami masyarakat seiring pesatnya perkembangan kendaraan elektrifikasi di Indonesia. Mobil listrik menawarkan biaya operasional rendah, teknologi modern, dan pengalaman berkendara yang senyap. Namun, kendaraan ini juga memiliki sejumlah tantangan, mulai dari infrastruktur pengisian daya hingga depresiasi harga yang perlu diperhitungkan.

Pembahasan mengenai kelebihan dan kekurangan menggunakan kendaraan listrik kembali mencuat setelah pengamat otomotif sekaligus content creator Fitra Eri membahas masa depan mobil listrik bersama Helmy Yahya. Menurut Fitra, kendaraan listrik memang memiliki prospek besar, tetapi belum tentu menjadi pilihan terbaik bagi seluruh konsumen Indonesia.

Kelebihan dan kekurangan menggunakan kendaraan listrik juga sangat bergantung pada kebutuhan pemilik. Bagi masyarakat yang tinggal di kota besar dan memiliki akses pengisian daya di rumah, mobil listrik bisa memberikan efisiensi yang menarik. Sebaliknya, konsumen di daerah dengan infrastruktur pengisian terbatas masih menghadapi sejumlah kendala.

Baca Juga: Inisiasi Gerakan Inspiratif "Murid Menjemput Sejarah", Dindik Jatim Anjangsana ke Para Veteran Pejuang Kemerdekaan

Biaya Operasional Jadi Keunggulan Utama

Salah satu alasan mobil listrik semakin diminati adalah biaya operasionalnya. Kendaraan listrik tidak menggunakan mesin pembakaran internal sehingga tidak membutuhkan sejumlah perawatan rutin seperti penggantian oli mesin, busi, maupun komponen terkait sistem bahan bakar.

Biaya energi per kilometer juga cenderung lebih rendah dibanding kendaraan berbahan bakar minyak. Sejumlah analisis pada 2026 menunjukkan biaya energi mobil listrik dapat berada di kisaran Rp200-Rp400 per kilometer, sementara mobil BBM bisa mencapai sekitar Rp800-Rp1.200 per kilometer, tergantung konsumsi dan harga energi.

Selain itu, pengalaman berkendara mobil listrik menawarkan akselerasi instan, kabin yang relatif senyap, serta kemudahan pengisian daya bagi pemilik yang mempunyai charger di rumah.

Infrastruktur Pengisian Masih Jadi Tantangan

Meski memiliki banyak keunggulan, mobil listrik belum sepenuhnya praktis bagi seluruh wilayah Indonesia. Salah satu masalah terbesar adalah ketersediaan Stasiun Pengisian Kendaraan Listrik Umum atau SPKLU yang belum merata.

Kondisi ini menjadi lebih terasa bagi pemilik yang sering melakukan perjalanan antarkota atau tinggal jauh dari pusat perkotaan. Pengisian daya juga membutuhkan waktu lebih lama dibandingkan mengisi BBM di SPBU, meski teknologi fast charging terus berkembang.

Karena itu, Fitra menilai mobil listrik belum tentu cocok sebagai satu-satunya kendaraan bagi semua keluarga. Konsumen perlu mempertimbangkan jarak perjalanan, lokasi tempat tinggal, akses charger, dan kebutuhan perjalanan luar kota.

Depresiasi Mobil Listrik Patut Diperhitungkan

Persoalan lain yang tidak kalah penting adalah nilai jual kembali. Menurut Fitra, depresiasi sejumlah mobil listrik saat ini cukup besar. Perubahan teknologi yang berlangsung cepat membuat model baru dengan fitur lebih lengkap dan harga kompetitif dapat muncul hanya dalam waktu singkat.

Kondisi tersebut berpotensi membuat harga mobil listrik bekas turun lebih cepat. Karena itu, Fitra menyarankan konsumen yang khawatir terhadap depresiasi agar tidak terburu-buru membeli mobil listrik dengan harga sangat tinggi.

Di sisi lain, pasar kendaraan elektrifikasi Indonesia terus berkembang. Berbagai merek baru, terutama dari China, membuat pilihan kendaraan listrik semakin beragam dan kompetitif.

Baca Juga: Inisiasi Gerakan Inspiratif "Murid Menjemput Sejarah", Dindik Jatim Anjangsana ke Para Veteran Pejuang Kemerdekaan

Hybrid Dinilai Jadi Jalan Tengah

Menariknya, ketika ditanya jika hanya boleh memiliki satu kendaraan, Fitra justru memilih mobil hybrid, khususnya plug-in hybrid. Alasannya sederhana: teknologi tersebut menawarkan efisiensi penggunaan listrik untuk aktivitas harian, tetapi masih memiliki mesin bensin untuk perjalanan jauh.

Mobil hybrid juga tidak sepenuhnya bergantung pada SPKLU. Pengemudi tetap dapat mengisi bahan bakar dalam hitungan menit ketika melakukan perjalanan panjang. Pilihan ini dinilai relevan dengan kondisi Indonesia yang infrastruktur pengisian listriknya masih berkembang.

Pada akhirnya, keputusan membeli kendaraan listrik sebaiknya tidak hanya didasarkan pada tren. Konsumen perlu menghitung biaya kepemilikan, kebutuhan mobilitas, akses pengisian daya, jarak perjalanan, serta potensi nilai jual kembali.

Kendaraan listrik memang menawarkan masa depan otomotif yang menjanjikan. Namun, hingga infrastrukturnya semakin merata dan teknologi semakin matang, mobil listrik, hybrid, maupun kendaraan konvensional masih memiliki tempat masing-masing di pasar Indonesia.



Editor : Muhammad Rusdian Nuzula
Sumber : Helmy Yahya Bicara
kelebihan mobil listrik kekurangan mobil listrik mobil hybrid mobil listrik kendaraan listrik